Debit Sungai Mahakam Menyusut, Wali Kota Samarinda Minta Warga Hemat Air Saat Kemarau Panjang

Minggu, 30 Agu 2026, 15:15 WIB

SAMARINDA - Wali Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Andi Harun meminta masyarakat  menghemat penggunaan air bersih menyusul penyusutan debit Sungai Mahakam dan meningkatnya kadar klorida di air akibat kemarau panjang.

Andi Harun di Samarinda, Sabtu, menegaskan kondisi Sungai Mahakam yang menyusut turut mempengaruhi operasional sejumlah fasilitas penyadapan (intake) air bersih di wilayah Palaran, Pulau Atas, Bukuan dan Bantuas.

Ket. Foto: Potret air Sungai Mahakam yang mulai menyusut imbas kemarau dan fenomena El Nino — Sumber: kpfmsamarinda

Selain penurunan debit air, peningkatan kadar klorida menjadi faktor krusial karena berkaitan langsung dengan kualitas dan kelayakan air yang didistribusikan kepada masyarakat.

"Kalau kadar klorida sudah melewati batas 250 ppm, operasional harus dihentikan karena ini menyangkut standar kesehatan air bersih," kata Andi Harun usai mengikuti Shalat Istisqa yang digelar Korem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN) di Lapangan Makorem 091/ASN.

Ia menjelaskan kondisi tersebut masih fluktuatif mengikuti pasang surut Sungai Mahakam. Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan serta menggunakan air secara bijak.

"Pemkot Samarinda terus memantau situasi agar pelayanan air bersih tetap berjalan dan penghentian operasional intake tidak berlangsung lama," kata Andi.

Saat ini, Pemkot Samarinda telah menetapkan status darurat kekeringan selama 14 hari sebagai langkah kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau yang perkembangannya dinilai sangat cepat.

Menurut dia, Samarinda memiliki empat tingkat kerawanan, yakni normal, waspada, siaga dan kritis.

Saat ini wilayah tersebut telah melewati fase normal dan berada pada kondisi siaga.

Selain persoalan air bersih, Andi Harun menyoroti meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ia mengingatkan sebagian besar karhutla yang terjadi bukan dipicu faktor alam, melainkan diduga akibat ulah oknum yang sengaja melakukan pembakaran.

Untuk mencegah meluasnya karhutla, ia mengajak masyarakat terlibat aktif melakukan pengawasan dan patroli mandiri selama 24 jam di lingkungan masing-masing.

Andi Harun juga mengapresiasi keberadaan jaringan kamera pengawas (CCTV) melalui program Pro Bebaya yang tersebar di berbagai wilayah Kota Samarinda.

Infrastruktur ini dinilai membantu pemerintah dan aparat mendeteksi awal dugaan pelaku pembakaran lahan.

Di sisi lain, Wali Kota mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampak kemarau terhadap kesehatan.

Ia menyebutkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Agustus 2026 meningkat sebesar 22,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya akibat kondisi udara yang berdebu.

Masyarakat diimbau kembali menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan menyiapkan tampungan air bersih secukupnya secara bijak guna mengantisipasi gangguan kesehatan.

  • Antisipasi Kemarau

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.