Hama Thrips Bikin Cabai Bengkok & Rontok! Syngenta Luncurkan Teknologi Baru
Selasa, 01 Sep 2026, 21:37 WIBJEMBERâ Syngenta Indonesia resmi meluncurkan SIMODIS, insektisida berbasis teknologi PLINAZOLIN, untuk membantu petani mengendalikan serangan thrips pada tanaman cabai. Peluncuran ini merupakan yang pertama di Indonesia untuk komoditas cabai dan dihadiri oleh 285 petani dari Jember dan Banyuwangi.
Kegiatan yang digelar di Jember, 27 Agustus 2026 ini juga menjadi bagian dari komitmen Syngenta Indonesia menghadirkan inovasi perlindungan tanaman, sekaligus memeriahkan rangkaian perayaan Hari Kemerdekaan RI.
Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura penting dengan permintaan pasar tinggi dan nilai ekonomi signifikan. Namun produktivitas dan kualitas panen cabai sering menghadapi tantangan, mulai dari cuaca hingga serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), termasuk thrips.
Tantangan ini semakin besar saat kondisi lingkungan mendukung perkembangan hama. Fenomena El Niño, misalnya, dapat menyebabkan musim kemarau datang lebih awal dan lebih panjang, sehingga berpotensi meningkatkan tekanan hama pada tanaman.
Jember dipilih sebagai lokasi peluncuran karena merupakan salah satu sentra produksi cabai di Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi cabai di Kabupaten Jember mencapai 176.234 kuintal sepanjang 2024. Dukungan teknologi perlindungan tanaman yang tepat, termasuk pengendalian thrips, menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas dan kualitas hasil panen.
Pengendalian thrips yang efektif membantu tanaman cabai tumbuh lebih sehat, mulai dari pucuk, daun, bunga, hingga buah. Dengan tekanan serangan thrips yang terkendali, tanaman dapat memiliki pucuk lebih sehat, daun minim keriput atau menggulung, serta bunga yang lebih cerah dan tidak mudah rontok. Kondisi ini pada akhirnya membantu mengurangi risiko buah cabai bengkok dan menjaga kualitas hasil panen.
Fauzi Tubat, National Sales Head Syngenta Indonesia, mengatakan petani hortikultura menghadapi tiga tantangan utama: kekeringan, harga komoditas yang tidak menentu, serta hama dan penyakit.
âPetani hortikultura, termasuk cabai, menghadapi tiga tantangan utama, yaitu kekeringan, harga komoditas yang tidak menentu, serta hama dan penyakit yang memengaruhi produksi. Dua hal pertama berada di luar kendali kita, namun untuk hama dan penyakit, kita dapat mengupayakannya melalui penggunaan produk perlindungan tanaman yang tepat,â ujar Fauzi.
âSIMODIS hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan tiga keunggulan utama: Jago lawan thrips, Unggul pucuk merekah dan daun sehat, serta Sempurna bunga dan buah mulus,â lanjutnya.
Untuk hasil optimal dan menjaga keberlanjutan efektivitas, Syngenta Indonesia mengingatkan pentingnya penggunaan SIMODIS sesuai rekomendasi teknis dan petunjuk label.
âSIMODIS merupakan teknologi terobosan yang harus digunakan secara bertanggung jawab. Petani perlu mengikuti petunjuk penggunaan pada label dan menerapkan rotasi mode of action atau cara kerja bahan aktif untuk membantu memperlambat terbentuknya resistensi dan menjaga efektivitas pengendalian thrips dalam jangka panjang,â ujar Tracy Tey Hui Xiang, Product Manager Syngenta Indonesia.
Untuk tanaman cabai, SIMODIS direkomendasikan diaplikasikan pada 28, 35, dan 42 Hari Setelah Tanam (HST), dengan dosis 600 ml/ha atau konsentrasi 1,2 ml/L. Untuk memastikan cakupan semprotan merata, volume semprot yang disarankan adalah 500 L/ha, setara sekitar 30 tangki berkapasitas 16 liter per hektare.
Respon Petani
Untuk menambah semarak, Syngenta Indonesia juga menghadirkan kompetisi Si âModisâ Fashion Show. Peserta diajak merancang busana dengan inspirasi bunga dan tanaman cabai sehat sebagai simbol vitalitas tanaman dan pentingnya perlindungan yang tepat.
Arif Saifur Rohman, petani cabai yang hadir, membagikan pengalamannya menggunakan SIMODIS. âSaya mengandalkan SIMODIS untuk mengendalikan serangan thrips. Hasilnya, tanaman cabai saya terjaga mulai dari pucuk, daun, hingga bunga. Panen meningkat dan kualitas buah lebih baik. Buah yang bengkok juga lebih sedikit, sehingga nilai jualnya menjadi lebih tinggi,â ungkap Arif.
Pengalaman serupa juga dibagikan Jayan, petani cabai asal Cianjur, melalui sesi live connection dalam rangkaian acara.
Akan Diluncurkan di 5 Lokasi
Grand Launching SIMODIS di Jember menjadi pembuka rangkaian peluncuran di lima lokasi di Indonesia. Rangkaian ini bertujuan memperluas edukasi pengendalian thrips sekaligus memberi kesempatan lebih banyak petani mengenal dan mencoba teknologi perlindungan tanaman secara langsung.
Sejalan dengan visi Petani MAJU, Syngenta Indonesia terus mendorong percepatan adopsi inovasi dan teknologi pertanian untuk membantu petani meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
âMelalui inovasi seperti SIMODIS, Syngenta Indonesia berkomitmen menjadi mitra bagi petani dalam menghadapi tantangan budidaya dan menciptakan pertanian yang lebih produktif, berkelanjutan, serta memberikan nilai yang lebih baik bagi petani,â tutup perwakilan Syngenta Indonesia.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Rekor Baru, Pre-Order Galaxy Z Fold 8 dan Z Flip 8 Capai 271 Ribu
-
Kucuran Beras Capai 1,65 Juta Ton, Pemerintah Optimistis Rem Harga Beras di Puncak El Nino
-
Warga Pulau Meti Andalkan Kelapa dan Kopra sebagai Mata Pencaharian
-
Wisatawan Alami Kecelakaan, Pemkab Lombok Tengah Perbarui Rambu Bahaya di Lokasi Wisata
-
Pendaftaran Pilkades Serentak di 154 Desa Kabupaten Bekasi Resmi Dibuka
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.