Perajin Kriya Payakumbuh Dapat Program Akselerasi dari Kemenekraf Dorong Ekraf Bangkit Pasca Bencana

Sabtu, 29 Agu 2026, 14:05 WIB

JAKARTA - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) terus mendorong pemulihan ekonomi kreatif pascabencana di Sumatera Barat, khususnya Kota Payakumbuh salah satunya melalui program Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Anyam dan Sulam untuk membangkitkan kembali produktivitas dan daya saing para pelaku kriya lokal.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda Ekraf Peduli, sebagai wujud kepedulian dan komitmen Kementerian Ekraf dalam mendampingi para pelaku ekonomi kreatif untuk kembali pulih, memperkuat usaha, dan bangkit, melalui semangat ‘Pulih Bersama, Bangkit Berdaya’. Karena pendampingan yang berkelanjutan akan memastikan ekosistem kriya daerah semakin tangguh menghadapi tantangan,” ujar Wakil Menteri Ekraf, Irene Umar, dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Ket. Foto: Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar (kanan), melihat perajin kriya yang ikut dalam program Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Anyam dan Sulam dari kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab-Rekons) melalui program Ekraf Peduli “Pulih Bersama, Bangkit Berdaya” di Hotel Mangkuto, Payakumbuh, Sumbar. — Sumber: ANTARA/HO Kementerian Ekonomi Kreatif

Irene mengatakan, sektor kerajinan anyaman dan sulam merupakan warisan budaya sekaligus salah satu penopang ekonomi kerakyatan yang potensial di Payakumbuh. Dalam upaya memulihkan ekonomi kreatif di Sumatera Barat, produk sulam dan anyam perlu terus dikembangkan agar memiliki nilai tambah dan semakin berdaya saing, baik di pasar nasional maupun internasional.

Penguatan potensi lokal ini selaras dengan tren pertumbuhan ekonomi kreatif nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Ekraf, subsektor kriya terus menunjukkan kinerja positif.

Nilai ekspornya meningkat dari 3,47 miliar dolar AS pada Januari-April 2025 menjadi 3,82 miliar dolar AS pada periode yang sama 2026. Pada 2025, subsektor kriya juga berkontribusi 10,7 persen terhadap ekonomi kreatif, dengan pertumbuhan sebesar 2,36 persen.

Irene mengatakan agar produk lokal mampu menembus pasar yang lebih luas, ia meminta untuk para perajin membuat produk yang memiliki nilai cerita sejarah dan makna yang mendalam sehingga pembeli tidak hanya melihat fisik produk namun juga memahami produk tersebut bernilai tinggi.

“Cerita pada sebuah produk itu penting agar pembeli tahu alasan dan makna di balik barang yang mereka beli. Tanpa adanya cerita, orang hanya akan melihat barang dari keindahan bentuk dan harganya saja. Padahal buatan tangan manusia mengandung nilai sejarah dan doa yang tidak pernah bisa digantikan oleh mesin, ketika pembeli memahami cerita di baliknya, saya yakin produk lokal ini tidak hanya bernilai tinggi, tetapi juga mampu menembus pasar yang lebih luas,” ungkap Irene.

Program Kriyasi Anyam Kementerian Ekraf berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Payakumbuh untuk mempercepat pemulihan dan meningkatkan kapasitas pelaku usaha kriya yang terdampak bencana. Pendampingan dilakukan melalui pengembangan desain, peningkatan keterampilan produksi, serta pengembangan produk sesuai kebutuhan pasar.

Workshop ini diikuti 50 peserta, terdiri atas 25 perajin kriya anyam dan 25 perajin kriya sulam. Peserta mendapatkan pemaparan dan praktik langsung dari Rumpun Consulting untuk produk sulam serta Balai Besar Kerajinan dan Batik untuk produk anyam.

Melalui pelatihan ini, para perajin diharapkan dapat merevitalisasi material dan pengetahuan kerajinan melalui pengembangan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar, meningkatkan kesadaran tentang pentingnya cara berpikir desain, serta meningkatkan kualitas dan nilai tambah pada hasil karya. Semua itu diharapkan berujung pada peningkatan perekonomian yang lebih baik.

Peserta Program Akselerasi Produk Kriya (Kriyasi) Anyam dan Sulam, Maipanis mengatakan kegiatan dapat bermanfaat tidak hanya ilmu dan pendampingan, tetapi juga motivasi untuk terus berinovasi serta mengembangkan produk anyaman agar memiliki kualitas dan daya saing yang lebih baik.

“Semoga melalui kegiatan ini, produk kriya lokal dapat semakin maju dan memiliki peluang yang lebih besar untuk dikenal hingga ke pasar yang lebih luas,” ujar Maipanis. Ant

  • Ekonomi Kreatif

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

Berita Terbaru

Ada Apa Tiba-tiba DPR Desak Imigrasi Evaluasi Pengawasan WNA di Bali?

Huawei Pura 90s Series Resmi Hadir di Indonesia, Segini Harganya!

Kabar Baik untuk Warga NTT! Menhub Pastikan Fasilitas Transportasi Terdampak Gempa Segera Diperbaiki

Soal Kuota Internet, Menkomdigi Terbitkan SE Wajibkan Operator Seluler Patuhi Putusan MK

Pendaftar Membeludak, Warga Lokal Tetap Jadi Prioritas Utama Volunteer MotoGP Mandalika 2026

Program 3 Juta Rumah Bergerak! PP Properti Siap Serah Terima 1.300 Rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah

PMI Kota Tangerang canangkan Bulan Dana Targetkan di Atas Rp1 Miliar

Komisi Organisasi Muktamar NU Bahas Perubahan AD-ART Secara Tertutup

Bikin Penasaran, AD/ART NU Bakal Berubah? Komisi Organisasi Muktamar NU Mulai Bahas Persoalan Serius Ini

Perajin Kriya Payakumbuh Dapat Program Akselerasi dari Kemenekraf Dorong Ekraf Bangkit Pasca Bencana

Tim SAR kembali Temukan Dua Wisatawan di Pantai Karangpapak Garut

Indonesia-Selandia Baru Perkuat Kerja Sama Pangan dan Energi Terbarukan

Polisi Tangkap Dua Pelaku Pencurian di Makassar

UMKM Babel Bersiap Naik Kelas! Explore Babel Jadi Ajang Tingkatkan Kapasitas

Gojek Berangkatkan Umrah Gratis 70 Driver Paling Setia, Menhub Apresiasi Kesejahteraan Mitra

Geger Kebakaran di Gedung KPK, Ini Kata Jubir Budi Prasetyo

Trenggalek Gelar Tradisi Jamasan Pusaka Jelang Hari Jadi ke-832

Demo 27 Agustus Bikin Geger, Menhub Ungkap Kondisi Fasilitas Transportasi

Bitcoin Tembus US$80 Ribu: Investor Wajib Waspada, Jaga Manajemen Risiko

Tembus Pasar Afrika, Camilan Perut Punai dari Bengkulu Dapat Kontrak Ekspor

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.