Inflasi 2026 Bisa Tembus 3,13 Persen, Subsidi Energi Tak Cukup Redam Tekanan
Jumat, 02 Okt 2026, 20:15 WIBJAKARTA â Head of Macroeconomic & Financial Market Research PermataBank Faisal Rachman memproyeksikan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 3,13 persen pada akhir 2026 dibandingkan 2,92 persen pada 2025, dengan asumsi harga energi bersubsidi tidak berubah.
âNamun, jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat sehingga menyebabkan kenaikan harga energi global berkepanjangan, dan dampak El Nino terhadap harga pangan lebih besar dari perkiraan, inflasi dapat berada di atas proyeksi kami saat ini,â kata Faisal dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (1/10).
Dari sisi domestik, Faisal menilai kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan diperkirakan akan mendukung pertumbuhan jumlah uang beredar, sehingga menimbulkan tekanan inflasi.
Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi meningkatkan permintaan pangan dan menciptakan risiko kenaikan inflasi pangan.
Risiko tersebut, menurut Faisal, dapat semakin besar apabila terjadi El Nino âGodzillaâ yang berpotensi mengganggu produksi pertanian dan mendorong kenaikan harga pangan.
Sementara itu, harga energi global yang tetap tinggi menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menggunakan kebijakan fiskal sebagai peredam guncangan (shock absorber), karena kebutuhan untuk mempertahankan harga energi domestik dapat semakin membebani anggaran. Kondisi ini pada akhirnya dapat meningkatkan risiko pass-through terhadap inflasi energi dan transportasi.
Dari sisi eksternal, Faisal memandang risiko inflasi impor tetap tinggi di tengah ketidakpastian yang berkelanjutan terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan The Fed.
Faktor-faktor tersebut telah menciptakan kondisi risk-off, membatasi arus modal masuk, dan meningkatkan tekanan terhadap rupiah.
Menurut Faisal, tekanan terhadap rupiah juga diperkirakan tetap relatif tinggi hingga akhir 2026, seiring pelebaran defisit transaksi berjalan dan karakter arus modal yang berjangka pendek, khususnya ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Arus tersebut dapat berbalik dengan cepat apabila The Fed mengambil sikap yang lebih hawkish dari perkiraan.
âPelemahan rupiah akan meningkatkan inflasi impor dan biaya input impor. Risiko ini sudah tercermin dalam inflasi dari sisi pasokan yang berada di atas inflasi dari sisi permintaan, menunjukkan semakin besarnya kemungkinan kenaikan biaya produsen, terutama bahan baku impor, diteruskan ke harga konsumen,â jelas dia.
Terkait suku bunga kebijakan moneter, skenario dasar tim ekonom PermataBank tetap memperkirakan bahwa Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan BI-Rate satu kali pada kuartal IV 2026 menjadi 6,00 persen.
âEkspektasi ini terutama didorong oleh pandangan kami bahwa Fed Funds Rate (FFR) akan kembali naik menjadi 4,25 persen pada kuartal IV 2026, di tengah inflasi AS yang tetap berada di atas target The Fed,â kata Faisal.
Namun, apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat sehingga menyebabkan kenaikan harga energi global secara berkepanjangan, ia memperkirakan tekanan bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga energi bersubsidi akan semakin besar.
Jika hal ini terjadi, maka inflasi dapat berada di atas proyeksi saat ini. Menurutnya, setiap kenaikan harga energi bersubsidi domestik pada gilirannya akan meningkatkan secara signifikan kemungkinan BI menaikkan BI-Rate secara lebih agresif.
Untuk 2027, tim ekonom PermataBank memperkirakan risiko El Nino yang tinggi dan risiko geopolitik di Timur Tengah akan berlanjut setidaknya hingga semester I 2027, sehingga inflasi diperkirakan tetap pada level yang relatif tinggi.
Namun, tekanan tersebut diproyeksikan berangsur mereda pada semester II 2027, didukung oleh perbaikan kondisi global dan prospek rupiah yang lebih positif, yang akan mengurangi risiko inflasi impor. Dengan demikian, inflasi cost-push berpotensi mulai melandai pada semester II 2027.
âKondisi ini akan memberikan ruang yang lebih besar bagi pemerintah untuk mempercepat agenda pro-pertumbuhan, meski penguatan permintaan domestik dapat meningkatkan inflasi demand-pull. Secara keseluruhan, kami memperkirakan inflasi IHK akan turun sedikit di bawah 3 persen pada akhir 2027, menjadi sekitar 2,94 persen,â kata Faisal.
- inflasi
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Cuaca Akhir Pekan, Jakarta Cerah Berawan dari Pagi hingga Sore, Suhu Udara Mencapai 35° Celsius
-
Akhir dari Pelarian! DPO Bandar Obat Keras di Tanah Abang Akhirnya Ditangkap Polda Metro
-
Polisi Turki Gerebek Bar Gay dan Rumah Aktivis LGBTQ, Sedikitnya 63 Orang Ditahan
-
CapCut Gelar AI Content Fest 2026, 10 Karya Kreator Indonesia Tayang di Layar Lebar
-
Optimalisasi Aset Jadi Strategi Pertambangan Menghadapi Tekanan Biaya
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.