Tim Ahli Ungkap Dugaan Jebolnya Danau Glasial di Balik Banjir Dahsyat Nepal-Tibet

Kamis, 27 Agu 2026, 17:40 WIB

JAKARTA – Runtuhnya gletser di kawasan pegunungan perbatasan Nepal dan Tibet diduga menjadi pemicu banjir dahsyat yang menewaskan sedikitnya 270 orang. Bencana tersebut juga menyebabkan lebih dari 1.000 orang dilaporkan hilang setelah aliran air, lumpur, batu, dan puing menerjang kawasan permukiman.

Para ahli awalnya menduga bencana tersebut dipicu oleh gempa bumi setelah aktivitas seismik tercatat di kawasan tersebut. Namun, analisis lanjutan Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS menyimpulkan bahwa getaran tersebut bukan gempa, melainkan energi seismik yang dihasilkan oleh runtuhan batuan dan es gletser serta aliran puing.

Ket. Foto: Runtuhnya gletser di kawasan pegunungan perbatasan Nepal dan Tibet diduga menjadi pemicu banjir dahsyat yang menewaskan sedikitnya 270 orang. Bencana tersebut juga menyebabkan lebih dari 1.000 orang dilaporkan hilang setelah aliran air, lumpur, batu, dan puing menerjang kawasan permukiman. — Sumber: AFP

Sebongkah besar es dari gletser diperkirakan jatuh dari ketinggian ribuan meter ke sungai yang berada di bawahnya. Runtuhan tersebut kemudian berubah menjadi aliran material besar yang membawa batu, sedimen, pepohonan, dan berbagai material lain menuju lembah.

Ilmuwan utama GNS Science Selandia Baru, Simon Cox, mengatakan sebagian besar gletser yang runtuh berasal dari ketinggian sekitar 5.200 meter. Material tersebut kemudian bergerak deras ke lembah dan mengangkut berbagai benda yang berada di sepanjang jalurnya.

“Sebagian besar gletser jatuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter (sekitar 17.600 kaki) ke dalam sebuah lembah,” kata Cox.

Menurut Cox, runtuhan tersebut kemudian berubah menjadi massa puing yang bergerak sangat deras. Material itu mengangkat bebatuan, sedimen, pepohonan, dan berbagai benda lain sebelum meluncur melalui ngarai.

Gelombang pertama banjir dilaporkan menghantam pos perbatasan antara Nepal dan Tibet. Rekaman kamera pengawas memperlihatkan aliran lumpur dan puing menelan kawasan tersebut ketika orang-orang berusaha menyelamatkan diri sebelum air kemudian surut.

Aliran banjir selanjutnya bergerak ke wilayah Nepal dan menerjang sejumlah desa. Jembatan serta bangunan di sepanjang aliran sungai ikut rusak atau runtuh akibat derasnya air yang bercampur lumpur dan material dari pegunungan.

Besarnya runtuhan gletser membuat peristiwa tersebut tercatat sebagai aktivitas seismik berkekuatan 5,2. Peristiwa itu tercatat pada pukul 08.37 waktu setempat atau sekitar 02.52 GMT.

Setelah melakukan analisis lebih lanjut, USGS menyatakan aktivitas tersebut bukanlah gempa bumi. Survei tersebut menyimpulkan getaran berasal dari runtuhan gletser dan aliran puing yang terjadi setelahnya.

“Peristiwa seismik tersebut sebenarnya adalah runtuhan gletser dan aliran puing, dan bahwa tidak ada gempa bumi yang terjadi,” demikian hasil analisis USGS.

Para ahli masih berupaya memperkirakan volume gletser yang runtuh karena sebagian besar kawasan terdampak sulit dijangkau. Cox memperkirakan material yang jatuh dapat mencapai antara sekitar 500.000 meter kubik hingga puluhan juta meter kubik.

Peneliti menggunakan citra satelit dan data lapangan untuk mengetahui bagaimana bencana tersebut berlangsung. Ahli gletser dari Victoria University of Wellington, Lauren Vargo, mengatakan perubahan kondisi pegunungan dapat diketahui dengan membandingkan citra sebelum dan sesudah bencana.

“Kita dapat melihat citra satelit yang diambil sebelum dan sesudah kejadian, dan mencoba melihat apa yang telah berubah,” kata Vargo.

Data pemantauan sungai juga menunjukkan dampak besar dari bencana tersebut. Tak lama setelah aktivitas seismik terdeteksi, sejumlah stasiun pemantauan air di sekitar lokasi berhenti mengirimkan sinyal, sementara stasiun di bagian hilir kemudian ikut mengalami gangguan.

Ketinggian air bahkan tercatat mencapai 12,3 meter di Kalikhola, dekat perbatasan Tibet, pada pukul 14.14 waktu setempat. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya volume air dan material yang bergerak menuju wilayah hilir.

Salah satu kemungkinan yang turut diteliti adalah banjir akibat jebolnya danau glasial atau Glacial Lake Outburst Flood (GLOF). Fenomena ini terjadi ketika penghalang alami yang menahan air lelehan gletser runtuh secara tiba-tiba sehingga air dalam jumlah besar mengalir menuju wilayah yang lebih rendah.

Ahli gletser dari University of the Sunshine Coast, Adrian McCallum, menduga GLOF mungkin memiliki peran dalam bencana tersebut. Menurutnya, air yang berada di dalam maupun di bawah gletser dapat tiba-tiba terlepas dan menghasilkan aliran besar di lembah.

“Namun menurut saya, satu-satunya alasan mengapa sejumlah besar air tiba-tiba mengalir deras di sebuah lembah adalah karena air tersebut telah dilepaskan,” kata McCallum.

Meski demikian, sejumlah ahli belum menemukan bukti adanya danau glasial di sekitar lokasi runtuhan. Mereka memperkirakan air yang terakumulasi di bawah gletser mungkin ikut terbawa ketika bongkahan es dan material pegunungan runtuh.

Kemungkinan lain adalah runtuhan gletser sempat membendung aliran sungai. Air yang terkumpul di belakang bendungan alami tersebut kemudian dapat terlepas secara tiba-tiba ketika material es dan batu yang menahannya kembali runtuh.

Kondisi lingkungan juga diduga memperbesar dampak bencana. Pencairan gletser selama musim panas dan curah hujan monsun membuat debit sungai telah meningkat, sementara material berupa lumpur dan puing menambah volume aliran saat bergerak beberapa kilometer dari titik runtuhan.

Pihak berwenang Nepal menerima laporan mengenai banjir sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Mereka kemudian memperingatkan masyarakat di sepanjang Sungai Bhote Khoshi untuk tetap waspada dan segera berada di lokasi yang aman.

Namun, belum diketahui secara pasti berapa banyak warga yang menerima peringatan tersebut dan seberapa banyak waktu yang tersedia untuk menyelamatkan diri. Situasi tersebut menjadi tantangan besar karena banjir akibat runtuhan gletser dapat bergerak sangat cepat dan sulit diprediksi.

McCallum memperingatkan bahwa masyarakat yang tinggal di bawah gletser besar atau kawasan yang berpotensi terdampak GLOF menghadapi risiko serius. Kondisi tersebut membuat pemantauan gletser, sistem peringatan dini, dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi semakin penting untuk mengurangi korban ketika bencana serupa terjadi.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

Jakmania Protes Kenaikan Harga Tiket, Resmi Boikot Launching Tim Persija

LG Buka Peluang Kreator Digital Raih Komisi Lewat Life’s Good Creator Club

Direktur CIA Mendadak Terbang ke Moskow, Beri Peringatan Keras Soal Ancaman Negara Baltik

Usia 61 Tahun, IKPI Tegaskan Peran Sebagai Jembatan Pemerintah dan Wajib Pajak

Tim Ahli Ungkap Dugaan Jebolnya Danau Glasial di Balik Banjir Dahsyat Nepal-Tibet

Kampanyekan Gemarikan di SDN Cempaka Putih Barat 07, KPKP Jakpus Penuhi Gizi Anak untuk Cegah "Stunting"

Swasembada Gula Dimulai dari Lampung

Meta Resmi Ubah Aturan Facebook dan Instagram: Batas 2 Jam hingga Mode Malam

170 Pendaki Berhasil Dievakuasi Turun dari Ranu Kumbolo, Pemadaman Karhutla Gunung Semeru Masih Berlangsung

Kuota 30 Persen Hunian MBR di TOD: Ini Poin Penting Usulan Ranperda Rusun Jakarta

KTM dan Gombong Culture Festival Dibuka, Menkop Ferry Juliantoro: Benteng Van Der Wijck Akan Jadi Ikon Pariwisata dan Ekonomi Kebumen Bakal Berkembang

PLN Bekali UMKM Binaan Kembangkan Inovasi Produk Berbasis Kopi.

UEFA Terapkan Aturan Baru Liga Champions 2026/27, Undian Arsenal dan Liverpool Terdampak

Puan Dorong Kemlu Perkuat Koordinasi soal Karhutla Kalimantan

Warga Betawi Terancam Tersisih, DPRD DKI Desak Kebijakan Afirmatif di Ranperda

DPR RI Berkomitmen Sahkan RUU Perampasan Aset pada 15 Desember 2026

Tanggapi Budie Arie, Puan Maharani: Pemilu Tetap Digelar Setiap Lima Tahun

Kementerian UMKM: Pemulihan UMKM Sumatra Dikawal hingga 2028

OJK Ungkap Jumlah Akun Pengguna Keuangan Digital Capai 22,93 Juta

Menko Yusril Pastikan Tak Pernah Perintahkan Pembekuan Rekening Aktivis Pati

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.