Viral Surabaya Disebut Dilintasi Dua Patahan, Pakar Geologi ITS: Jangan Panik, Perlu Bukti Ilmiah

Kamis, 10 Sep 2026, 15:09 WIB

SURABAYA — Kabar tentang keberadaan patahan yang disebut melintasi Kota Surabaya mendadak ramai di media sosial. Sebuah video yang mengklaim adanya patahan aktif baru di Surabaya telah ditonton ratusan ribu kali dan memicu ribuan komentar dari warganet.

Di tengah kekhawatiran yang mulai muncul, pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Amien Widodo mengingatkan masyarakat agar tidak langsung panik. Menurutnya, informasi mengenai patahan di Surabaya memang memiliki dasar penelitian, tetapi penyebutan sebuah patahan sebagai patahan aktif membutuhkan pembuktian ilmiah lebih lanjut.

Ket. Foto: . Menurut Amien, bukan berarti potensi gempa boleh diabaikan, pemerintah daerah tetap perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana gempa. — Sumber: Istimewa

Isu tersebut mencuat setelah sebuah akun Instagram mengunggah video mengenai keberadaan patahan yang disebut melintasi Surabaya. Video yang diunggah tujuh hari lalu itu telah ditonton sekitar 476 ribu kali, disukai 15,1 ribu pengguna, serta mendapatkan 1.081 komentar.

“Sudah tahukah kalian, Surabaya memiliki patahan aktif baru? Ini daerah yang dilintasinya,” tulis akun tersebut dalam keterangan videonya.

Viralnya informasi itu kemudian menimbulkan pertanyaan: benarkah ada patahan aktif yang melintas di bawah Surabaya?

Amien menjelaskan, keberadaan struktur patahan di wilayah Surabaya sebenarnya bukan informasi baru. ITS bersama Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, sebelumnya telah melakukan penelitian mengenai peta patahan di Jawa Timur yang dipublikasikan pada 2024.

“Hasil penelitian tersebut menunjukkan terdapat dua patahan yaitu patahan Surabaya dan patahan Waru,” ungkap Amien.

Kedua patahan tersebut, lanjutnya, memiliki potensi aktif dan pernah mengalami pergerakan. Hasil penelitian itu juga sejalan dengan peta patahan di Indonesia yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) pada 2024.

Namun, terdapat hal penting yang perlu digarisbawahi. Menurut Amien, patahan yang diketahui melintas di kawasan Surabaya, Sidoarjo hingga Bangkalan belum dapat begitu saja disebut sebagai patahan aktif yang telah terverifikasi.

“Patahan yang melewati Surabaya, Sidoarjo, hingga Bangkalan memang ada, tetapi belum terverifikasi aktif,” paparnya.

Amien menegaskan, keberadaan patahan tidak otomatis berarti patahan tersebut masih aktif dan sewaktu-waktu akan bergerak. Dalam kajian geologi, diperlukan bukti dan penelitian lebih mendalam untuk memastikan apakah sebuah patahan benar-benar masih aktif.

“Kita harus memahami bahwa ada patahan yang aktif dan tidak aktif. Untuk menyebutnya sebagai patahan aktif, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut,” terangnya.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan informasi yang beredar di media sosial sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa Surabaya sedang berada dalam ancaman gempa akibat patahan tersebut.

Amien mengingatkan masyarakat agar lebih kritis terhadap informasi kebencanaan yang beredar, terutama informasi yang belum melalui proses verifikasi ilmiah. Kepanikan, menurutnya, justru dapat muncul ketika informasi mengenai potensi bencana disampaikan tanpa konteks dan penjelasan ilmiah yang memadai.

Meski demikian, bukan berarti potensi gempa boleh diabaikan.

Menurut Amien, pemerintah daerah tetap perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana gempa. Pemerintah Kota Surabaya, misalnya, dapat menyiapkan alat untuk mendeteksi pergerakan atau pergeseran tanah sebagai bagian dari sistem pemantauan dan mitigasi.

Penyusunan peta kawasan rawan gempa juga dinilai penting. Peta tersebut dapat menjadi dasar pemerintah dalam menentukan kebijakan pembangunan sekaligus mengidentifikasi kawasan yang membutuhkan perhatian lebih.

Bangunan yang berada di kawasan berisiko juga perlu dipastikan memenuhi standar bangunan tahan gempa. Dengan demikian, apabila gempa benar-benar terjadi, potensi kerusakan dan korban dapat ditekan.

Dengan kata lain, viralnya isu patahan Surabaya seharusnya tidak berhenti pada rasa takut. Informasi tersebut justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan, meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai risiko gempa, serta mendorong pemerintah memperkuat sistem mitigasi bencana.

Upaya tersebut sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-11 mengenai Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. Tujuannya adalah menciptakan kawasan perkotaan yang tidak hanya berkembang, tetapi juga lebih tangguh dalam menghadapi berbagai potensi risiko bencana. 

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.