Rentan terhadap Tekanan - 27 Agustus 2026

Kamis, 27 Agu 2026, 08:25 WIB

JAKARTA – Rupiah berpotensi bergerak fluktuatif de ngan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (27/8), seiring meningkatnya sikap wait and see investor terhadap perkembangan domestik.

Rencana demonstrasi massa pada 27 Agustus dapat menambah premi risiko pasar jika berkembang menjadi gangguan terhadap aktivitas eko nomi, sementara perhatian investor juga tertuju pada pro ses suksesi kepemimpinan Bank Indonesia (BI).

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Ketidakpastian tersebut berpotensi mendorong permin taan aset aman dan menahan aliran modal ke pasar domestik, sehingga pergerakan rupiah tetap rentan terhadap tekanan.

Sejumlah kelompok masyarakat dari berbagai daerah be rencana menuju Jakarta untuk mengikuti aksi pada 27 Agus tus 2026 dengan membawa agenda yang beragam.

Tuntut an yang disuarakan mencakup dorongan pengesahan RUU Perampasan Aset hingga dukungan terhadap sejumlah pro gram pemerintah.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang an tarbank, Kamis (27/8), bergerak fluktuatif di kisaran 17.720 - 17.760 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Rabu (26/8), bergerak melemah 2 poin atau 0,01 persen dari awal pekan ini menjadi 17.725 ru piah per dollar AS.

Ibrahim menilai kurs rupiah melemah menjelang pida to Ketua The Fed Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole pada Jumat (28/6).

“Pidato Warsh di Jackson Hole dapat memberikan indikasi yang lebih jelas mengenai pandangan The Fed terhadap keseimbangan antara inflasi yang per sisten dan prospek ekonomi secara keseluruhan,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa pidato Warsh sa ngat penting karena para pelaku pasar menantikan kejelasan lebih lanjut mengenai kapan The Fed bersedia menyesuai kan kebijakan sebagai respons terhadap inflasi.

Warsh sem pat menghadapi kritik terkait kurangnya kejelasan menge nai pandangan ekonominya, sehingga pidato di Simposium Jackson Hole berpotensi menjadi sinyal penting bagi pasar.

Di samping itu, para investor kini beralih pada data Per sonal Consumption Expenditures (PCE) AS yang akan dirilis pada hari ini.

“Laporan PCE akan memberikan gambaran tambahan mengenai kondisi ekonomi AS dan tekanan in flasi,” ungkap Ibrahim.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pasar fokus pada kondisi perekonomian Indonesia yang dinilai masih belum berada pada tingkat optimal.

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti sebelumnya menye but masih terdapat ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, salah satunya melalui optimalisasi fungsi inter mediasi perbankan.

Ibrahim mencermati pertumbuhan kredit masih dapat terus didorong, mengoptimalkan undisbursed loan yang saat ini mencapai 2.548 triliun rupiah atau sekitar 21 persen dari plafon dan upaya penguatan daya beli masyarakat.

Me nurutnya, ruang pertumbuhan juga masih terbuka melalui peningkatan penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.