Rupiah Terancam Melemah - 09 September 2026

Rabu, 09 Sep 2026, 07:45 WIB

Rupiah masih menghadapi tekanan pele­mahan, hari ini (9/9), seiring investor mencermati arah in­flasi Amerika Serikat (AS) yang dapat memengaruhi kebi­jakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Di saat yang sama, eskalasi konflik di Timur Tengah menambah ketidak­pastian global dan mendorong investor bersikap lebih de­fensif terhadap aset berisiko, termasuk rupiah.

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Ber­jangka Ibrahim Assuabi melihat fokus pasar tertuju pada data Indeks Harga Produsen (PPI) AS dan Indeks Harga Konsumen (CPI).

Prospek inflasi yang tinggi berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Selain itu, harga minyak mentah dunia masih dibayangi ketegangan geopolitik terkait ancaman Iran terhadap fasi­litas energi Teluk serta pengawasan di Selat Hormuz, mes­ki sedikit terimbangi oleh sinyal diplomasi dan kelancaran jalur pelayaran alternatif.

Karenanya, Ibrahim memproyek­sikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Rabu (9/9), bergerak fluktuatif, na­mun berpotensi ditutup melemah di kisaran 17.630-17.670 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Selasa (8/9), bergerak menguat 8 poin atau 0,05 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.632 rupiah per dollar AS.

“Penguatan rupiah dipengaruhi posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia yang meningkat,” ujar Ibrahim di Jakarta.

Dia menambahkan Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia mencapai 146,5 miliar dollar AS pada akhir Agustus 2026, naik dibandingkan po­sisi pada akhir Juli 2026 yang sebesar 145,3 miliar dollar AS.

BI mengungkapkan kenaikan cadev terutama dipe­ngaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan BI sebagai respons terha­dap ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Posisi cadev pada akhir Agustus 2026 setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Posisi tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional yang berada di sekitar tiga bulan impor.

Kondisi cadangan devisa tersebut dianggap mampu menopang ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia.

“Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal Indo­nesia tetap baik.

Keyakinan tersebut didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta potensi aliran masuk modal asing.

BI menyebut persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik menjadi faktor pendukung aliran modal asing ke Indonesia,” ungkap Ibrahim

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.