UNDIP Gebrak Pertanian, Sawah Modern Ramah Lingkungan Siap Jadi Percontohan

Rabu, 26 Agu 2026, 19:00 WIB

SEMARANG – Sawah modern ramah lingkungan merupakan arah baru pertanian yang menggabungkan teknologi, efisiensi input, dan keberlanjutan.

Pengelolaan air secara presisi, pemupukan sesuai kebutuhan tanaman, pemanfaatan bahan organik, serta mekanisasi dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menekan pemborosan sumber daya.

Ket. Foto: Pekerja menggarap sawah modern ramah lingkungan yang dikembangkan Undip di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Undip, Penggaron, Semarang, Jawa Tengah. — Sumber: ANTARA/HO-Undip

Penerapan teknologi seperti Alternate Wetting and Drying bahkan berpotensi menghemat air irigasi hingga 20% tanpa menurunkan produktivitas padi.

Dengan demikian, modernisasi sawah seharusnya tidak sekadar mengejar hasil panen tinggi, tetapi juga menjaga kesuburan tanah, efisiensi biaya, dan daya tahan pertanian terhadap perubahan iklim.

Universitas Diponegoro Semarang mengembangkan model sawah modern berbasis teknologi tepat guna dan ramah lingkungan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Undip, Penggaron, Semarang, Jawa Tengah.

Kepala KHDTK Undip Prof. Dr. Ir. Sri Puryono di Semarang, Rabu (26/8), mengatakan inovasi itu dikembangkan di atas lahan persawahan yang sebelumnya telah ditinggalkan selama sekitar 5-6 tahun.

Ia menjelaskan konsep sawah modern yang dikembangkan mengedepankan teknologi tepat guna, ramah lingkungan serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.

Pengembangan sawah tersebut saat ini telah mencakup sekitar dua hektare lahan yang telah diolah dan mulai ditanami padi.

Sistem pengairan memanfaatkan enam panel surya dengan kapasitas sekitar 60 meter kubik per jam yang dioperasikan mulai pukul 09.00-16.00 WIB.

"Untuk mendukung ketersediaan air, kami juga membuat pompa hidrolik yang dapat bekerja selama 24 jam," kata mantan Sekretaris Daerah Jawa Tengah itu.

Ia berharap program tersebut menjadi laboratorium lapangan untuk menguji penerapan teknologi pertanian berkelanjutan, sekaligus meningkatkan produktivitas kawasan.

Sumber air untuk persawahan berasal dari sungai yang berdasarkan hasil pengujian tidak terkontaminasi logam berat, sedangkan tingkat keasaman tanah telah diukur pada kisaran pH 7-8, yang dinilai sesuai untuk budi daya tanaman padi.

Pada tahap awal, varietas padi yang ditanam adalah Inpari (Inbrida Padi Irigasi) dan Inpago, yakni varietas unggul padi gogo yang cocok ditanam di lahan kering.

Selanjutnya, kata dia, Undip mengembangkan varietas unggul hasil persilangan Rojolele dengan varietas padi dari Jepang.

Pengembangan juga akan dilanjutkan dengan uji coba padi merah kaya nutrisi dan serat yang cocok untuk penderita diabetes.

"Harapannya, uji coba ini dapat berhasil dan berproduksi optimal hingga menjadi model pengembangan pertanian yang produktif, efisien, dan ramah lingkungan," katanya.

Sementara itu, Wakil Rektor II Undip bidang Perencanaan, Keuangan, Aset, Bisnis dan Kerumahtanggaan Dr. Warsito Kawedar menegaskan bahwa pengembangan sawah modern di KHDTK Penggaron tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk pertanian.

Kawasan tersebut diharapkan berkembang menjadi pusat pembelajaran dan penelitian, khususnya sebagai laboratorium pertanian.

Menurut dia, keberadaan lahan pertanian produktif di kawasan KHDTK juga dapat dikembangkan secara terpadu dengan potensi wisata alam, salah satunya konsep edu-ekowisata hutan.

"Diharapkan kawasan KHDTK Undip di Penggaron dapat berkembang menjadi edu-ekowisata hutan," katanya.

  • Undip Semarang
  • sawah modern

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.