Sangat Menginspirasi! Ading Suhana Punya Cara Unik Selamatkan Hutan: Ajak Warga Tanam dan Budidaya Durian

Sabtu, 22 Agu 2026, 08:40 WIB

GORONTALO - Dahulu, suara langkah warga Desa Cempaka Putih, Kecamatan Tolinggula, Kabupaten Gorontalo Utara, menuju hutan menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari.

Kayu dan rotan diambil untuk memenuhi kebutuhan. Bagi sebagian besar masyarakat, hutan bukan sekadar bentang alam di sekitar desa, melainkan tempat menggantungkan hidup.

Ket. Foto: Proses panen durian Montong di Desa Cempaka Putih, Kecamatan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo, Jumat (21/8), menjadi bagian dari upaya Ading Suhana membangun ekonomi mandiri sekaligus menjaga kelestarian hutan melalui kebun durian. — Sumber: Antara foto

Namun, bagi Ading Suhana, keadaan itu tidak bisa dibiarkan berlangsung selamanya.

Bukan karena ia ingin memisahkan masyarakat dari hutan, melainkan karena ia menyadari satu hal sederhana: suatu hari hutan bisa habis, sementara anak cucu mereka belum tentu memiliki sumber penghidupan lain.

Dari kegelisahan itulah, pada 2017, sebuah gerakan kecil dimulai.

Ading mengajak masyarakat menanam durian varietas montong. Sekitar 4.000 bibit menjadi awal dari sebuah perubahan yang kelak tidak hanya mengubah lahan, tetapi juga cara masyarakat Desa Cempaka Putih, memandang masa depan.

Awal Perubahan

Ketika gagasan itu muncul, sekitar 70 persen masyarakat Desa Cempaka Putih masih menggantungkan penghidupan dari hasil hutan. Kayu dan rotan menjadi sumber pendapatan yang sulit ditinggalkan karena telah menyatu dengan keseharian warga.

Ading, yang ketika itu masih menjadi aparat desa, melihat persoalan tersebut dari dua sisi.

Di satu sisi, aktivitas itu mengancam keberlanjutan hutan. Namun, di sisi lain, masyarakat memang membutuhkan penghasilan.

Karena itu, menurut Ading, masyarakat tidak cukup hanya diajak berhenti mengambil hasil hutan. Mereka harus memiliki pilihan lain yang bisa menggantikan sumber penghidupan tersebut.

“Saya dan teman-teman berpikir, kalau keadaan ini dipertahankan, di samping hutan akan habis, kami juga tidak ada tabungan untuk masa depan anak cucu,” ujar Ading.

Ketika dana desa mulai tersedia, ia menyampaikan gagasannya kepada kepala desa. Ia meminta anggaran digunakan untuk membeli sekitar 4.000 bibit durian.

Tidak semua orang langsung percaya.

Sebagian masyarakat meragukan durian dapat tumbuh dan menghasilkan di wilayah mereka. Namun, keraguan itu justru menjadi alasan bagi Ading untuk membuktikan bahwa gagasannya bukan sekadar angan-angan.

Bibit ditanam. Pohon-pohon dirawat. Waktu kemudian menjadi bagian penting dari percobaan tersebut.

Gerakan Bertani

Tahun berikutnya menjadi momentum penting.

Ading terpilih sebagai kepala desa pada 2018. Sejak itu, pengembangan durian diperkuat melalui kebijakan pemerintah desa.

Setiap tahun, anggaran desa diarahkan untuk pengadaan bibit, pupuk, dan peralatan pertanian. Bibit didatangkan dari sejumlah daerah, termasuk Magelang, Jawa Tengah, dan Bangka Belitung.

Masyarakat yang memiliki lahan menjadi sasaran utama. Mereka mendapatkan bibit untuk ditanam, pupuk untuk perawatan, serta peralatan pertanian untuk mendukung pengelolaan kebun.

Pola tersebut perlahan mengubah cara pandang warga. Bertani mulai dilihat bukan sebagai pilihan terakhir, melainkan sebagai kegiatan yang mendapat dukungan dan memiliki masa depan.

“Pelan-pelan masyarakat berpikir, oh, ini berarti ada dukungan pemerintah. Jadi kita tinggalkan pelan-pelan kegiatan di hutan,” kata Ading.

Perubahan tentu tidak berlangsung dalam semalam. Kebiasaan yang telah berlangsung bertahun-tahun tidak mudah ditinggalkan hanya dengan satu kebijakan.

Namun, dari tahun ke tahun, semakin banyak masyarakat mulai meninggalkan aktivitas mengambil hasil hutan.

Dari sekitar 70 persen masyarakat yang sebelumnya bergantung pada hasil hutan, kini diperkirakan tinggal sekitar 4 persen yang masih melakukan aktivitas tersebut.

Bagi Ading, angka itu belum cukup.

Targetnya sederhana, tetapi tidak ringan: menjadikannya nol.

Panen Berkah

Kesabaran masyarakat mulai terbayar ketika pohon-pohon durian memasuki masa produksi.

Pada 2020 hingga 2022, hasil panen durian masyarakat mencapai sekitar 200 ton setiap musim. Buah yang pada awalnya hanya dipasarkan di pasar lokal mulai menemukan pembeli dari luar daerah.

Perubahan pasar terjadi pada 2023. Sejumlah pembeli dari Sulawesi Tengah datang langsung kepada petani dan membeli durian dalam jumlah besar. Petani tidak lagi hanya mengandalkan pasar lokal untuk menjual hasil kebun mereka.

Bagi masyarakat, hadirnya pembeli dalam jumlah besar memberikan dampak langsung terhadap pendapatan.

Durian pun perlahan berubah makna. Sang raja buah ini tidak lagi sekadar tanaman yang dibagikan pemerintah desa, tapi menjadi sumber ekonomi yang tumbuh bersama perubahan pola hidup masyarakat.

Desa Cempaka Putih kini dihuni sekitar 113 kepala keluarga atau sekitar 314 jiwa. Durian menjadi tanaman yang paling dominan dikembangkan, meski masyarakat juga menanam komoditas lain, seperti alpukat.

Namun, durian tetap menjadi simbol perubahan yang paling mudah dilihat.

Barisan pohonnya tumbuh di lahan masyarakat. Sebagian telah menghasilkan buah. Sebagian lainnya masih menunggu waktu. Pohon-pohon itu sekaligus menjadi pilihan agar masyarakat tidak perlu kembali masuk hutan untuk mencari kayu dan rotan.

Bagi Ading, keberhasilan gerakan tersebut tidak semata-mata dihitung dari jumlah ton durian yang dipanen. Ukuran lainnya adalah semakin sedikit masyarakat yang masuk hutan untuk mencari penghidupan.

Ia percaya, pelestarian lingkungan akan lebih mudah dilakukan ketika masyarakat memiliki pilihan ekonomi yang nyata.

Karena itu, pemerintah desa akan terus memberikan pendampingan. Program bibit, pupuk, dan sarana pertanian tetap menjadi bagian dari upaya mempertahankan perubahan tersebut.

Ading tidak ingin gerakan yang dimulai pada 2017 berhenti ketika program atau bantuan berakhir. Ia ingin masyarakat benar-benar memiliki kemampuan mengelola lahannya sendiri dan menjadikannya sumber penghidupan jangka panjang.

Sebab, baginya, mengubah kebiasaan masyarakat tidak cukup dengan imbauan. Harus ada sesuatu yang bisa menggantikan penghasilan yang sebelumnya mereka peroleh dari hutan.

Inspirasi Tokoh Desa

Hampir satu dekade setelah gerakan itu dimulai, perjalanan Ading mendapat pengakuan melalui Suharso Monoarfa (SUMO) Foundation Award 2026.

Ia menjadi salah satu penerima penghargaan dalam kategori Tokoh Desa yang Menginspirasi, sebuah apresiasi bagi tokoh yang dinilai memberikan kontribusi dan menghadirkan perubahan positif bagi masyarakat di tingkat desa.

Bagi Ading, penghargaan itu berada di luar perkiraannya.

Ia mengaku tidak pernah menargetkan penghargaan. Perjuangan yang dilakukan selama ini, menurut dia, merupakan bagian dari tanggung jawab kepada masyarakat dan lingkungan tempat mereka hidup.

“Setiap perjuangan pasti ada hasilnya,” ujarnya.

Ading membawa pulang piagam penghargaan dan uang sebesar Rp25 juta.

Namun, hadiah itu tidak ingin berhenti sebagai milik pribadi. Ia telah memikirkan untuk mendistribusikan sebagian hadiah tersebut kepada masyarakat yang dinilai membutuhkan, sekaligus menjadikannya penyemangat agar warga terus mengembangkan pertanian.

Bagi Ading, penghargaan seharusnya bukan menjadi titik akhir. Ia justru ingin menjadikannya motivasi untuk melanjutkan gerakan yang telah dibangun bersama.

Di Desa Cempaka Putih, perubahan itu kini tumbuh dalam bentuk yang sederhana: barisan pohon durian yang terus dirawat masyarakat.

Tidak semua pohon langsung menghasilkan. Tidak semua warga langsung percaya. Dan tidak semua kebiasaan lama mudah ditinggalkan.

Tetapi hampir sepuluh tahun setelah 4.000 bibit pertama ditanam, perubahan mulai terlihat.

Ketergantungan masyarakat terhadap hasil hutan yang dahulu mencapai sekitar 70 persen kini tersisa sekitar 4 persen.

Ading masih memiliki satu pekerjaan yang belum selesai: memastikan angka itu menjadi nol.

Ia ingin masyarakat tidak lagi melihat hutan sebagai satu-satunya tempat mencari penghidupan. Sebaliknya, lahan yang mereka miliki dapat menjadi sumber kehidupan yang terus tumbuh dan diwariskan.

Di antara pepohonan durian itulah, Ading menemukan bentuk perjuangan yang berbeda.

Ia tidak melawan pembalakan dengan sekadar melarang. Ia menggantinya dengan pilihan.Dari pilihan itu, masyarakat mulai menanam masa depan mereka sendiri.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

Berita Terbaru

Harga Cabai Rawit Rp70.450/Kg, Telur Ayam Rp29.350/Kg

Sangat Menginspirasi! Ading Suhana Punya Cara Unik Selamatkan Hutan: Ajak Warga Tanam dan Budidaya Durian

Jumlah Lahan Pertanian Terdampak Kekeringan di Parigi Moutong Mencapai 1.400 Ha

Jelang Kompetisi 2026–2027, Madura United Lakukan Pemusatan Latihan di Yogyakarta

Indonesia-Tiongkok Dorong Penyelesaian Kode Etik Laut Tiongkok Selatan

Tak Berizin, Kepolisian Resor Bangka Barat Hentikan Tambang Liar Bijih Timah di Kadur

Pemkab Pamekasan Kirim Bantuan Air Bersih ke Desa-desa Terdampak Kekeringan

Kabar Duka, Sineas Imam Tantowi Meninggal Dunia pada Usia 80 Tahun

BPBD Kotim: Kondisi Medan Buat Mobilisasi Personel Maupun Peralatan Pemadam Jadi Lebih Sulit

Wujud Kepedulian Sesama, BKKP Berikan Bantuan untuk Korban Gempa NTT

Night at Museum Ajak Generasi Muda Pelajari Sejarah dan Budaya dalam Suasana Eksklusif

BMKG Prakirakan Sejumlah Wilayah di Indonesia Diguyur Hujan Ringan pada Sabtu (22/8)

Wamenko Bidang Pangan Tinjau Karhutla Kalteng, Simbol Kehadiran Pemerintah

Jangan Lupa Bawa Payung! BMKG Prakirakan Hujan Ringan di Sejumlah Wilayah Sabtu

Wamenko Pangan Tinjau Karhutla di Kalteng, Pemerintah Tegaskan Komitmen dalam Tangani Kebakaran

Jangan Cuma di Rumah! Ini 5 Rekomendasi Akhir Pekan di DKI, Ada Pameran Menarik

Berikut Lokasi SIM Keliling di Jakarta dan Sekitarnya pada Sabtu (22/8)

Singasari Expo IV Tahun 2026, Momentum Perkuat UMKM & Pelestarian Budaya Badung

Garuda Pertiwi U-16 Pastikan Tiket ke Final Piala Srikandi Merdeka

Rumah Sakit Lapangan Ruteng Beroperasi, Layani Operasi Warga Terdampak Gempa NTT

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.