Review Harusnya Horror: Hantu Wibu, Komedi, dan Kreator Konten dalam 106 Menit
📅 Kamis, 20 Agu 2026, 14:12 WIB | Oleh: Tim PenulisPada beberapa adegan, ekspresi dan penyampaian dialog masih terasa kasual seperti dalam format konten digital. Hal tersebut bukan persoalan yang tidak dapat diperbaiki, tetapi menjadi lebih terlihat ketika penonton harus mengikuti karakter selama lebih dari 100 menit.
Reza Oktovian, yang sekaligus memerankan Mas, juga menggunakan pendekatan akting yang relatif santai. Pilihan tersebut sesuai dengan karakter yang dibangun, tetapi membuat perjalanan emosional Mas terkadang belum terasa cukup kuat, terutama bagi penonton yang tidak memiliki pengetahuan sebelumnya mengenai persona sang kreator.
Dalam format film pendek, keterbatasan tersebut kemungkinan tidak akan terlalu mengganggu. Tempo cerita yang lebih cepat dapat membuat karakter bergerak langsung menuju konflik utama tanpa membutuhkan banyak adegan transisi.
Referensi Anime
Sebaiknya Anda baca juga:
Di tengah sejumlah catatan tersebut, Harusnya Horror memiliki kekuatan pada detail-detail yang menunjukkan kecintaan pembuatnya terhadap budaya populer Jepang. Elemen tersebut tidak sekadar menjadi tempelan, tetapi hadir dalam rancangan dunia setelah kematian yang menggunakan sejumlah mekanisme menyerupai permainan video gim dan anime.
Salah satu karakter yang menarik adalah Resepsionis Akhirat yang diperankan aktor cilik Malka Rafasya. Karakter tersebut tampil dengan gaya formal dan dingin meskipun diperankan oleh anak-anak. Bagi penonton yang akrab dengan anime, pembawaannya dapat mengingatkan pada karakter Near dalam Death Note, terutama melalui kebiasaannya memainkan mainan di lantai sambil tetap berkonsentrasi membicarakan persoalan serius.
Kontras antara resepsionis anak-anak yang berbicara formal dan sosok hantu dewasa yang justru bersikap kekanak-kanakan menjadi salah satu sumber komedi yang menarik pada bagian awal film.
Sebaiknya Anda baca juga:
Film juga menghadirkan boneka pencatat skor yang mengikuti Mas dan menghitung jumlah manusia yang berhasil ditakutinya. Konsep tersebut memperkuat kesan bahwa dunia akhirat dalam film ini memiliki sistem seperti permainan.
Detail semacam itu menjadi salah satu bagian yang membuat referensi budaya Jepang terasa hidup. Penggunaannya pun cukup organik karena karakter utama sejak awal memang digambarkan sebagai penggemar anime.
Kecintaan terhadap anime bukan sekadar atribut karakter. Rahabi Mandra, yang menulis naskah bersama Reza Oktovian, juga diketahui memiliki ketertarikan terhadap anime. Dalam suatu kesempatan pada gala perdana film tersebut, Rahabi Mandra mengaku memiliki kesamaan dengan Reza Arap, yakni sama-sama menyukai One Piece.
Dengan demikian, unsur budaya Jepang justru menjadi salah satu identitas yang dapat dikembangkan lebih jauh apabila film ini memiliki struktur cerita yang lebih ringkas.
Referensi tersebut memberi warna sekaligus membedakan Harusnya Horror dari film komedi live-action Indonesia pada umumnya.
Lula Memberi Sentuhan Emosional
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!