- Home
-
- Luar Negeri
-
- Kepala Intelijen Militer L...
Kepala Intelijen Militer Libya Tewas oleh Bom Mobil, Situasi Benghazi Tegang
Kamis, 13 Agu 2026, 05:23 WIBBENGHAZI â Libya kembali diguncang aksi pembunuhan terhadap pejabat militer senior. Kepala Intelijen Militer Libyan National Army (LNA), Mayor Jenderal Fawzi al-Mansouri, tewas dalam serangan bom mobil di Benghazi, Libya timur.
Dari Al Jazeera, Al-Mansouri tewas pada Senin (10/8), setelah sebuah alat peledak yang dipasang pada kendaraannya meledak ketika ia hendak masuk ke mobil di kawasan Hawari, Benghazi.
Laporan Reuters yang dikutip sejumlah media menyebut ledakan tersebut terjadi di dekat kediamannya. Serangan itu kemudian dikategorikan sebagai pembunuhan yang ditargetkan terhadap salah satu pejabat penting dalam struktur militer yang menguasai Libya timur.
Kematian al-Mansouri langsung menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan Benghazi, yang selama ini menjadi salah satu basis kekuatan militer Khalifa Haftar.
Al-Mansouri merupakan figur senior yang memiliki posisi strategis di kubu Haftar. Ia ditunjuk sebagai kepala Departemen Intelijen Militer pada Mei 2024. Sebelumnya, ia menjabat sebagai komandan Wilayah Militer Sabha sejak Agustus 2021.
Namanya juga telah lama terkait dengan operasi militer Haftar. Ia pernah terlibat dalam berbagai operasi melawan kelompok jihad, termasuk ISIS, serta memainkan peran dalam ofensif Haftar untuk merebut Tripoli pada 2019.
Pembunuhan tersebut memicu respons keras dari kubu Haftar. Khaled Haftar, putra Khalifa Haftar dan salah satu pejabat senior dalam struktur militer LNA, menyebut serangan itu sebagai aksi teror dan memerintahkan penyelidikan.
Otoritas di Benghazi juga kemudian mengumumkan telah menangkap sebuah sel yang disebut tengah mempersiapkan aksi sabotase. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi bahwa kelompok tersebut memiliki hubungan langsung dengan pembunuhan al-Mansouri.
LNA menyatakan akan terus memerangi terorisme serta mempertahankan stabilitas dan keamanan Libya. Jenazah al-Mansouri kemudian dimakamkan di Benghazi dalam prosesi yang dihadiri sejumlah pejabat senior LNA, termasuk Khaled dan Saddam Haftar.
Pembunuhan ini terjadi ketika Libya masih terpecah antara pemerintahan yang berbasis di Tripoli dan pemerintahan pesaing di wilayah timur yang mendapat dukungan dari Haftar.
Libya terpecah sejak penggulingan Muammar Gaddafi pada 2011. Pemerintah yang diakui secara internasional berbasis di Tripoli dan menguasai sebagian besar wilayah barat, sementara pemerintahan yang berbasis di Benghazi menguasai wilayah timur dan sebagian besar wilayah selatan dengan dukungan pasukan Haftar.
Situasi terbaru menjadi semakin sensitif karena terdapat upaya untuk menyatukan kembali institusi dan kekuasaan eksekutif Libya. Rencana tersebut mendapat dukungan Amerika Serikat, tetapi pembunuhan seorang pejabat intelijen senior di jantung kekuasaan Haftar berpotensi menambah ketegangan politik dan keamanan.
Sejumlah analis menilai insiden ini dapat menjadi ujian serius bagi stabilitas Benghazi dan proses reunifikasi Libya. Pertanyaan terbesar kini adalah siapa yang berada di balik serangan tersebut dan apakah pembunuhan al-Mansouri merupakan aksi terisolasi atau bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengguncang struktur kekuasaan Haftar.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Grebeg Suro 2026 Berlangsung Meriah, Jadi Etalase Budaya dan Industri Kreatif Ponorogo
-
Periksa Dugaan Percaloan Tenaga Kerja di PT Lung Cheong Brothers Industrial dan PT Parkland World Indonesia
-
Spotify Ungkap Musik Indonesia Makin Mendunia dan Menjangkau Pendengar Global
-
Butuh Dana Jumbo! Menkop Minta Rp1,34 Triliun untuk Percepat Kopdes Merah Putih
-
Nestor Lorenzo Sesali Tumpulnya Lini Depan Kolombia usai Tersingkir Lewat Adu Penalti
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.