63 Bendungan Sudah Terbangun, Perlu Dilanjutkan dengan Penguatan Jaringan Irigasi untuk Swasembada Pangan dan Ketahanan Energi

Jumat, 02 Okt 2026, 16:08 WIB

SURABAYA – Pemerintah dinilai perlu melanjutkan pembangunan 63 bendungan yang telah dibangun dengan memperluas jaringan irigasi hingga ke lahan-lahan persawahan. Keberadaan bendungan dinilai akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap ketahanan pangan apabila diikuti pembangunan infrastruktur irigasi yang masif.

Pakar pertanian Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jawa Timur, Surabaya, Ramdan Hidayat mengatakan, pembangunan jaringan irigasi menjadi tahap penting agar keberadaan bendungan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyediaan dan penyimpanan air, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan produksi pertanian.

Ket. Foto: Kebutuhan untuk meningkatkan produksi pertanian semakin penting seiring dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan swasembada pangan dan energi sebagai salah satu prioritas. — Sumber: Istimewa

"Seharusnya pemerintah sekarang melanjutkan keberadaan 63 bendungan tersebut dengan membangun jaringan irigasi yang masif, sehingga memiliki multiplier effect terhadap peningkatan produksi pangan dan ekonomi pedesaan," kata Ramdan.

Menurut dia, kebutuhan untuk meningkatkan produksi pertanian semakin penting seiring dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan swasembada pangan dan energi sebagai salah satu prioritas.

Terlebih, pemerintah juga mencanangkan program pengembangan bahan bakar nabati seperti B50. Dengan kondisi tersebut, hasil pertanian tidak hanya dibutuhkan untuk memenuhi konsumsi manusia dan ternak, tetapi juga berpotensi menjadi bahan baku untuk kebutuhan energi, termasuk biodiesel maupun bioetanol.

"Jadi beban produksi pertanian kita sekarang bukan hanya untuk kebutuhan manusia dan ternak, tetapi juga untuk olahan energi, baik biodiesel maupun bioetanol. Karena itu produksi bukan sekadar dipertahankan, tetapi harus ditingkatkan," ujarnya.

Ramdan menilai peningkatan produksi tersebut perlu dilakukan melalui penguatan infrastruktur pertanian, salah satunya jaringan irigasi. Jika produksi tidak ditingkatkan sementara kebutuhan pangan dan energi terus bertambah, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan pangan nasional.

Ia mengakui pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menjalankan program pompanisasi untuk membantu menyediakan air bagi lahan pertanian. Namun, menurutnya, cakupan dan dampak pompanisasi belum dapat dibandingkan dengan pembangunan jaringan irigasi yang terhubung langsung dengan bendungan.

"Pompanisasi memang sudah dilakukan Kementerian Pertanian, tetapi dampaknya relatif kurang signifikan dan cakupannya juga tidak seluas kalau persawahan terkoneksi dengan jaringan irigasi dari bendungan-bendungan yang sudah ada," katanya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah melakukan ekstensifikasi infrastruktur irigasi agar air dari bendungan dapat menjangkau lebih banyak areal persawahan. Infrastruktur tersebut juga dinilai dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan indeks pertanaman.

Menurut Ramdan, peningkatan indeks pertanaman dapat dilakukan dengan mengubah pola tanam berdasarkan ketersediaan air. Sawah yang sebelumnya hanya dapat ditanami dan dipanen satu kali dalam setahun, misalnya, dapat ditingkatkan menjadi dua kali. Sementara lahan yang sebelumnya mampu panen dua kali dapat ditingkatkan menjadi tiga kali.

"Sawah yang sebelumnya hanya panen satu kali setahun bisa ditingkatkan menjadi dua kali. Yang sebelumnya dua kali bisa menjadi tiga kali, sedangkan yang sudah tiga kali harus dipertahankan," tuturnya.

Ia menambahkan, penguatan jaringan irigasi juga semakin penting menghadapi perubahan iklim. Fenomena El Nino yang terjadi lebih sering dibandingkan La Nina dapat meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air, khususnya ketika memasuki musim kemarau.

"Dengan fenomena perubahan iklim, ketika El Nino lebih sering terjadi dibandingkan La Nina, otomatis bendungan yang ada membutuhkan pengelolaan dan ketersediaan debit air yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan pertanian saat kemarau," jelasnya.

Menurut dia, pembangunan jaringan irigasi harus dipandang sebagai satu kesatuan dengan pembangunan bendungan. Bendungan yang tidak diikuti jaringan distribusi air yang memadai berpotensi membuat manfaat infrastruktur tersebut belum optimal dirasakan petani di kawasan persawahan.

Ramdan juga menilai pengembangan jaringan irigasi dapat menjadi bagian dari upaya melanjutkan program food estate yang sebelumnya belum berjalan optimal. Menurutnya, salah satu kebutuhan utama dalam pengembangan kawasan pangan skala besar adalah dukungan infrastruktur dasar, terutama ketersediaan dan distribusi air.

"Kalau pemerintah ingin melanjutkan program food estate, infrastruktur irigasi ini menjadi salah satu pekerjaan yang harus diselesaikan. Program tersebut membutuhkan dukungan jaringan irigasi yang lebih lanjut agar kawasan pertanian bisa berproduksi secara berkelanjutan," katanya.

Dengan demikian, menurut Ramdan, keberadaan 63 bendungan sebaiknya tidak berhenti pada pembangunan fisik bendungan. Pemerintah perlu memastikan konektivitas antara bendungan dan lahan pertanian melalui jaringan irigasi agar investasi infrastruktur air tersebut menghasilkan peningkatan produktivitas pertanian sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat pedesaan.

Secara terpisah, pakar Studi Ekonomi Pembangunan  Universitas Wijaya Kusuma (UWKS) Surabaya, Ermatry Hariani, mengatakan, pembangunan saluran irigasi harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk mencapai swasembada pangan dan menggerakkan ekonomi kerakyatan. Meskipun pemerintah melakukan efisiensi anggaran, investasi pada infrastruktur yang berkaitan langsung dengan produksi pangan dinilai tetap memiliki nilai ekonomi jangka panjang.

“Efisiensi anggaran memang diperlukan, tetapi jangan sampai efisiensi justru menghambat infrastruktur yang menjadi pengungkit produktivitas. Irigasi punya fungsi ekonomi yang sangat jelas karena menentukan kepastian produksi pertanian,” katanya.

Menurutnya, ketersediaan air yang lebih terjamin dapat membantu petani meningkatkan produktivitas dan mengurangi risiko produksi akibat ketidakpastian cuaca. Ketika produktivitas meningkat, pendapatan petani berpotensi ikut terdorong dan aktivitas ekonomi di kawasan pedesaan menjadi lebih hidup.

“Kalau produktivitas pertanian naik, dampaknya tidak berhenti di sawah. Ada kebutuhan pupuk, benih, alat pertanian, tenaga kerja, transportasi, perdagangan dan pengolahan hasil. Jadi ada efek berantai yang bisa menggerakkan ekonomi pedesaan,” ujarnya.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.