400 Sekolah Ditutup dan Hampir 3.000 Siswa Ditahan Saat Protes Pelajar Prancis Meluas

Jumat, 02 Okt 2026, 16:17 WIB

PARIS – Gelombang protes pelajar sekolah menengah di Prancis terus meluas hingga Jumat (2/10), dengan sekitar 400 sekolah ditutup akibat aksi blokade dan kerusuhan yang terjadi di sejumlah wilayah.

Dari The Guardian, Kementerian Pendidikan Prancis mencatat sekitar 100 sekolah mengalami kerusakan parah selama rangkaian protes yang dalam beberapa hari terakhir berkembang menjadi apa yang disebut pemerintah sebagai "kekerasan perkotaan".

Ket. Foto: Aksi protes dipicu oleh sejumlah persoalan yang dirasakan pelajar, mulai dari jadwal sekolah yang terlalu padat, ruang kelas yang penuh, kekurangan tenaga pengajar hingga kondisi suhu yang tidak nyaman selama gelombang panas yang melanda Prancis pada awal tahun ini. — Sumber: Istimewa

Selain kerusakan fasilitas pendidikan, sekitar 40 kepala sekolah dilaporkan mengalami luka dalam rangkaian aksi tersebut.

Aksi protes dipicu oleh sejumlah persoalan yang dirasakan pelajar, mulai dari jadwal sekolah yang terlalu padat, ruang kelas yang penuh, kekurangan tenaga pengajar hingga kondisi suhu yang tidak nyaman selama gelombang panas yang melanda Prancis pada awal tahun ini.

Situasi kemudian berkembang menjadi aksi yang lebih keras sehingga aparat kepolisian anti huru-hara dikerahkan untuk mengamankan sejumlah lokasi.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyebut hampir 3.000 siswa sekolah menengah berusia sekitar 15 hingga 18 tahun telah ditahan sejak protes dimulai. Sebanyak 1.949 penahanan tercatat hanya pada Kamis (1/10).

Menteri Kehakiman Prancis Gérald Darmanin juga meminta jaksa di berbagai wilayah untuk menindaklanjuti kemungkinan pertanggungjawaban perdata atas kerusakan yang ditimbulkan dalam aksi tersebut. Salah satu langkah yang didorong adalah meminta orang tua bertanggung jawab secara finansial atas kerusakan yang dilakukan anak-anak mereka.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Prancis Édouard Geffray meminta orang tua ikut mengawasi anak-anak mereka di tengah situasi yang semakin tidak terkendali.

"Anak-anak berada dalam bahaya di jalanan," ujar Geffray, seperti dikutip dalam laporan tersebut.

Pada Jumat pagi, insiden baru dilaporkan terjadi di sekitar SMA Jean-Rostand di Strasbourg dan SMA Simone-Veil di Marseille.

Namun, situasi di sejumlah wilayah dilaporkan mulai berbeda dibandingkan kerusuhan sehari sebelumnya. Prefek Bouches-du-Rhône Jacques Witkowski mengatakan kepada BFMTV bahwa kondisi pada Jumat tidak dapat dibandingkan dengan situasi pada Kamis karena jumlah demonstran jauh lebih sedikit.

Sebanyak 11 sekolah di wilayah tersebut terdampak, sementara 55 sekolah lainnya dialihkan ke sistem pembelajaran daring.

Di Strasbourg, aksi blokade juga terjadi di sekitar sejumlah sekolah. Aparat kepolisian menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa, sementara sejumlah pelajar terlihat berada di tengah kepulan gas saat aksi berlangsung.

Dampak ekonomi dari rangkaian protes tersebut juga mulai terlihat. Kerugian dalam sepekan terakhir diperkirakan mencapai ratusan juta euro. Wilayah Auvergne-Rhône-Alpes, misalnya, melaporkan kerugian sekitar 25 juta euro akibat gangguan yang ditimbulkan oleh aksi tersebut.

Pemerintah Prancis kini menghadapi tekanan untuk meredakan aksi sekaligus menangani tuntutan para pelajar terkait kondisi pendidikan, sementara aparat keamanan terus dikerahkan di wilayah yang berpotensi mengalami eskalasi demonstrasi.

  • Aksi Pelajar Prancis

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.