Ternyata Ini Penyebabnya Kenapa BMKG Belum Bisa Laksanakan Operasi Modifikasi Cuaca Meski Karhutla Meluas
Senin, 10 Agu 2026, 18:37 WIBJAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas di sejumlah daerah belum bisa dilaksanakan lantaran belum terbentuknya awan konvektif sebagai syarat utama penyemaian garam.
OMC merupakan intervensi untuk meningkatkan potensi hujan dengan cara menyemai garam atau Natrium Klorida (NaCl) ke gumpalan awan menggunakan pesawat khusus berbasis data ilmiah yang melibatkan tim ahli BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan TNI Angkatan Udara.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto dikonfirmasi di Jakarta, Senin, menegaskan bahwa karena kondisi tersebut pelaksanaan OMC diperkirakan belum memungkinkan setidaknya hingga 10 hari ke depan, tergantung pertumbuhan awan di tiap wilayah.
"Kondisi setiap daerah beda-beda, tapi kami pantau terus sampai ada potensi (awan) untuk OMC," kata dia.
Pernyataan tersebut sekaligus merespons eskalasi peristiwa karhutla yang dilaporkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selama periode 7 - 10 Agustus 2026, yang melanda berbagai titik di Pulau Sumatera, Jawa, Bangka Belitung, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua Barat Daya.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari melaporkan di Jawa Timur, karhutla berdampak signifikan melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dengan total luas lahan terbakar mencapai 520 hektare hingga Minggu (9/8) malam, yang memaksa otoritas taman nasional menutup total seluruh pintu masuk wisata sejak Sabtu (8/8) hingga waktu yang belum ditentukan.
Masih di Jawa Timur, karhutla menghanguskan 6,5 hektare lahan Perhutani di Gunung Watangan, Kabupaten Jember, sementara di Jawa Barat kebakaran melalap dua hektare lahan di Subang. Di Jawa Tengah, karhutla juga membakar dua hektare lahan di Jepara serta tiga hektare di Banyumas akibat pembakaran sampah.
Sementara di Pulau Sulawesi, karhutla meluas hingga membakar 72,4 hektare lahan di Pulau Bakalan, Banggai Kepulauan, serta tiga hektare di Gunung Batu Pongki, Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Di Sulawesi Selatan, tim gabungan masih memadamkan api yang melalap 15 hektare lahan di Tana Toraja.
Di luar Pulau Jawa dan Sulawesi, karhutla juga menghanguskan 23 hektare lahan di tiga kecamatan di Halmahera Timur (Maluku Utara), dua hektare di Sorong (Papua Barat Daya), 2,29 hektare di Belitung Timur (Bangka Belitung), serta satu hektare lahan di Aceh Besar (Aceh).
Meski demikian, Abdul memastikan tim petugas gabungan di seluruh daerah terdampak dimaksimalkan untuk menangani dan memitigasi sebaran api kebakaran, dengan turut menyiagakan peralatan penyiraman darat, truk tangki air, membuat sekat bakar, hingga penyiraman udara menggunakan helikopter waterboombing.
- Karhutla
- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
- Modifikasi Cuaca BMKG
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Marcellus Widiarto
Berita Terkait:
-
Pembuatan Eco Enzyme secara Massal Dilakukan Pemprov Jakarta
-
Kebakaran 7,5 Hektare Hutan dan Lahan di Rokan Hilir Riau Berhasil Dipadamkan
-
Jangan Terkecoh Hujan Ringan, Kemarau Masih Panjang
-
Begini Kronologinya, Satu Warga Meninggal Saat Karhutla Melanda Ketapang
-
BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Hujan Petir di Bagian Barat Indonesia pada Minggu
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.