Trump Tolak Usulan Bersyarat Iran Terkiat Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Senin, 28 Sep 2026, 03:10 WIB

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (26/9) mengatakan telah menolak usulan bersyarat Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

“Kami memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. Minyak dalam jumlah besar keluar dari Selat Hormuz. Tadi malam, ada 29 kapal yang melintas keluar,” kata Trump kepada para wartawan di Gedung Putih.

Ket. Foto: Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. — Sumber: Aaron Schwartz/Getty Image s/AFP

“Mereka ingin membuat kesepakatan, dan menurut saya itu tidak masalah. Saya juga senang membuat kesepakatan, tetapi kesepakatan itu tidak akan bisa diterima,” tambahnya.

Pada Jumat (25/9), Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan kepada para wartawan di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York City bahwa Iran telah menyampaikan rencana konkret kepada AS melalui Qatar, yang memungkinkan selat tersebut dibuka kembali dalam waktu tujuh hari jika syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi.

“Jangka waktu tujuh hari tersebut akan dimulai segera setelah Washington menerimanya,” ujarnya.

Berdasarkan rencana tersebut, AS perlu melakukan langkah-langkah tertentu yang menurut Iran mungkin memakan waktu empat atau lima hari,” kata Araghchi.

Ia menambahkan bahwa pada hari keenam, selat tersebut akan dibuka. “Dan pada hari ketujuh, pembicaraan dengan AS akan dimulai untuk membahas kesepakatan final mengenai hal-hal yang telah disepakati bersama,” katanya.

Dia menambahkan, langkah-langkah yang perlu diambil AS bukanlah hal baru, karena langkah-langkah tersebut telah tercantum dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Juni lalu.

Tidak Percaya AS

Terbaru, Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan Iran sudah tidak lagi percaya dengan proses perundingan dengan Amerika Serikat menyusul serangan dan sanksi Washington terhadap Teheran.

“Kami tidak mempercayai pihak Amerika dan tidak tahu atas dasar apa kesepahaman dengan mereka akan dicapai,” kata Presiden Pezeshkian kepada Al Jazeera dalam wawancara yang disiarkan pada Sabtu.

Pada saat yang sama, Teheran menyampaikan pesan kepada Washington melalui mediator, Qatar dan Pakistan, dan yang terpenting mengharapkan pihak Amerika memperjelas posisi mereka terkait nota kesepahaman (MoU) yang telah dicapai sebelumnya.

Lebih lanjut Pezeshkian mengatakan dirinya tidak melihat adanya kebutuhan untuk bertemu Presiden Donald Trump selama pihak AS belum memenuhi kesepakatan yang telah ditandatangani sebelumnya.

Konflik AS-Iran pecah setelah Washington bersama Israel secara sepihak menyerang sejumlah tempat di Iran pada 28 Februari lalu. Agresi militer AS dan Israel itu memicu serangan balasan dari Iran.

Setelah saling serang berjalan beberapa bulan, pada pertengahan Juni, Iran dan AS sepakat menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan.

Kendati sudah ada nota kesepahaman itu, konflik bersenjata kedua negara kembali berkobar dan hingga kini belum terselesaikan.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Antara, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.