Ancaman Siber Makin Meningkat ditengah Perkembangan AI

Senin, 28 Sep 2026, 03:05 WIB

JAKARTA - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mendorong penguatan talenta keamanan siber untuk menghadapi peningkatan ancaman digital seiring pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI).

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangan resminya di Jakarta, akhir pekan lalu mengatakan ancaman keamanan siber semakin meningkat, sementara teknologi kecerdasan artifisial terus berkembang.

Ket. Foto: Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangan resminya di Jakarta, akhir pekan lalu mengatakan ancaman keamanan siber semakin meningkat, sementara teknologi kecerdasan artifisial terus berkembang. — Sumber: istimewa

“Kita perlu fokus membangun sumber daya manusia yang memiliki kemampuan keamanan siber,” kata Luhut.

Luhut yang juga pendiri Institut Teknologi Del (IT Del) mengatakan pengembangan kompetensi keamanan siber perlu berjalan seiring dengan penguasaan AI agar generasi muda siap menghadapi perkembangan teknologi.

Kebutuhan tersebut antara lain tercermin dari data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang mencatat 1,52 miliar serangan siber di Indonesia pada periode 1 Januari–15 April 2026.

Sementara itu, serangan siber sepanjang 2025 mencapai 5,5 miliar, meningkat 714 persen dibandingkan rata-rata tahunan selama periode 2020-2024. Menurut Luhut, kompetisi dapat menjadi salah satu upaya dalam memperkuat talenta keamanan siber Indonesia.

Dalam konteks pengembangan talenta tersebut, IT Del dan Spentera Group menggelar babak final kompetisi keamanan siber Hacktrace Independence Day Competition (HIDC) 2026 di Balige, Sumatera Utara, Kamis (24/9), sekaligus memperkuat kolaborasi kampus dan industri.

Co-Founder dan Owner Spentera Group Royke Lumban Tobing mengatakan peningkatan ancaman siber perlu diimbangi dengan percepatan penyiapan tenaga ahli yang memiliki kompetensi sekaligus memahami etika keamanan siber.

“Kita membutuhkan jauh lebih banyak tenaga ahli keamanan siber yang beretika. Kebutuhan dan ketersediaan SDM kesenjangannya masih terlalu besar,” ujar Royke.

Menurut dia, keamanan siber merupakan bagian penting dari keamanan nasional karena berkaitan dengan perlindungan warga negara dan kedaulatan nasional.

HIDC 2026 menguji peserta melalui delapan tahap dengan sejumlah skenario, antara lain pengamanan fisik, penggunaan software-defined radio (SDR), pengujian keamanan melalui pendekatan red team, serta respons pertahanan menggunakan pendekatan blue team.

Royke mengatakan skenario tersebut disusun berdasarkan pengalaman kebutuhan keamanan siber di industri sehingga peserta dapat berlatih membaca risiko, menyusun strategi, bekerja dalam tim, dan mengambil keputusan.

Ia berharap peserta tidak berhenti pada kompetisi, tetapi dapat berkembang menjadi tenaga profesional keamanan siber yang mampu memenuhi kebutuhan industri dalam negeri sekaligus bersaing di pasar global.

Perlindungan Melalui Kebijakan

Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda mengatakan, peningkatan SDM memang menjadi syarat wajib dalam peningkatan kapasitas teknologi nasional, termasuk keamanan siber.

Namun demikian, di tengah kondisi talenta keamanan siber yang masih minim, pemerintah tidak bisa hanya fokus pada pembangunan SDM jangka panjang, tetapi juga harus hadir melindungi masyarakat melalui kebijakan.

“Pemerintah harus melindungi masyarakatnya melalui kebijakan,” katanya.

Selain itu, ketimpangan infrastruktur yang menjadi penghambat pemerataan talenta digital juga harus diatasi.

  • Keamanan Siber

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.