Memanen Lebih Cepat demi Menyelamatkan Harapan

Kamis, 06 Agu 2026, 22:15 WIB

LEBAK – Kemarau panjang mengubah ritme musim tanam para petani di Kabupaten Lebak, Banten. Hamparan padi yang seharusnya menunggu waktu panen optimal kini dipotong lebih cepat sebagai upaya menyelamatkan hasil sebelum kekeringan semakin parah.

Meski produktivitas turun drastis, panen lebih awal menjadi pilihan realistis agar jerih payah selama berbulan-bulan tidak berakhir dengan gagal panen.

Ket. Foto: Petani di Rangkasbitung Kabupaten Lebak, Banten panen lebih awal guna menghindari kekeringan akibat kemarau panjang. — Sumber: ANTARA/ Mansyur

Kondisi ini menggambarkan besarnya tantangan yang dihadapi petani di tengah perubahan iklim, sekaligus pentingnya dukungan irigasi, teknologi budidaya, dan langkah mitigasi agar ketahanan pangan tetap terjaga meski musim kemarau berlangsung lebih panjang.

Sejumlah petani Kabupaten Lebak, Banten, memanen lebih awal padi yang ditanam akibat kemarau panjang agar tetap menghasilkan pangan meski produktivitas menurun drastis.

‎"Kita panen lebih awal, dan semestinya 25 hari lagi," kata Ketua Kelompok Tani Blok Sentral Rangkasbitung Udin di Lebak, Kamis (6/8).

‎Areal persawahan di wilayahnya mencapai 50 hektare namun, menurut dia, tetap bisa menghasilkan pangan, meski panen dilakukan lebih awal.

‎Ia mengatakan petani mengeluhkan kerugian, setelah tanaman padi mengalami kekeringan yang menyebabkan produktivitas menurun.

‎Idealnya, menurut Udin, produktivitas panen bisa mencapai 5 ton gabah kering pungut, tetapi karena harus dipanen lebih awal maka hanya dapat menghasilkan 1,5 ton per hektare.

‎"Kami menjual gabah kering pungut itu sebanyak 1 ton dengan harga Rp7.500 per kilogram, sehingga menghasilkan Rp7.500.000. Pendapatan sebesar itu merugi, karena biaya pengelolaan Rp13 juta per hektare," katanya menjelaskan.

‎Hal sama terjadi pada Misbah, petani di Rangkasbitung lainnya yang mengatakan terpaksa memanen lebih awal karena khawatir kekeringan menimbulkan gagal panen.

Misbah mengatakan menggarap lahan sawah seluas 5.000 meter persegi namun hanya menghasilkan gabah lima kuintal.

‎"Kita normalnya jika tersedia air bisa menghasilkan produksi gabah hingga 3 ton," katanya.

‎Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Dodi Hermawan mengatakan petani yang memanen lebih awal itu hampir di semua lokasi khususnya areal persawahan yang mengalami kekeringan.

Ia mengatakan produktivitas sawah mereka dipastikan menurun, mengingat usia padi rata-rata baru 85 hari setelah tanam.

‎"Kami memperkirakan panen Agustus 2026 di bawah 10 ribu hektare," katanya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.