Pochettino Waspadai Bosnia, AS Siap Hadapi Segala Skenario di Babak Gugur Piala Dunia 2026

Kamis, 02 Jul 2026, 08:30 WIB

SAN FRANCISCO – Pelatih Amerika Serikat Mauricio Pochettino memastikan timnya telah mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan saat berjumpa Bosnia dan Herzegovina pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di San Francisco Bay Area Stadium, Jumat (3/7) dini hari WIB.

Amerika Serikat memburu kemenangan pertama di fase gugur Piala Dunia sejak edisi 2002. Namun, Pochettino menegaskan Bosnia bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata.

Ket. Foto: Mauricio Pochettino memimpin sesi latihan timnas Amerika Serikat sebagai persiapan menghadapi fase gugur. — Sumber: FIFA

Menurut mantan pelatih Tottenham Hotspur, Paris Saint-Germain, dan Chelsea itu, Bosnia memiliki karakter permainan yang komplet, mulai dari kekuatan fisik hingga kualitas individu pemain.

"Bosnia dan Herzegovina adalah tim yang sangat kompetitif, agresif, dan mengandalkan kekuatan fisik. Namun mereka juga sangat terorganisasi dan memiliki pelatih yang bagus," ujar Pochettino.

Ia menilai kualitas Bosnia sudah terlihat sejak fase grup hingga laga kualifikasi melawan Italia beberapa bulan lalu.

"Ketika melihat pertandingan mereka di fase grup maupun saat menghadapi Italia pada Maret lalu, Anda bisa melihat kualitas yang mereka miliki. Mereka bukan hanya agresif dan terorganisasi, tetapi juga mempunyai pemain-pemain berkualitas serta pelatih yang mampu mengeluarkan kemampuan terbaik timnya."

Pochettino mengungkapkan bahwa mentalitas memainkan setiap pertandingan seperti final telah ditanamkan kepada para pemain jauh sebelum Piala Dunia dimulai.

Menurutnya, pendekatan tersebut telah diterapkan dalam seluruh laga uji coba sebelum turnamen.

"Besok memang sebuah final, tetapi pertandingan melawan Paraguay juga merupakan final. Kami mencoba menciptakan suasana itu ketika menghadapi Jerman, Senegal, Uruguay, hingga Paraguay pada laga pemanasan. Kami ingin para pemain merasakan emosi dan intensitas yang sama."

Pelatih berusia 54 tahun itu berharap para pemainnya tetap tenang menghadapi tekanan besar di fase gugur.

Selain mempersiapkan strategi permainan, Amerika Serikat juga telah mengantisipasi kemungkinan pertandingan berlanjut hingga adu penalti.

Pochettino mengungkapkan staf pelatih bahkan bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk meningkatkan kesiapan tim dalam situasi tersebut.

"Ya, kami siap jika pertandingan harus ditentukan lewat adu penalti. Kami bekerja sama dengan beberapa perusahaan karena kami menganggap aspek itu sangat penting. Saya tidak ingin mengungkapkan terlalu banyak, tetapi kami telah memberikan para pemain berbagai metode agar mampu menghadapi situasi seperti itu dengan lebih baik."

Meski bermain di kandang sendiri dan memiliki peringkat FIFA yang lebih tinggi, Pochettino menolak menganggap Amerika Serikat sebagai favorit.

Menurutnya, hasil-hasil sepanjang Piala Dunia 2026 telah menunjukkan bahwa tidak ada pertandingan yang mudah.

"Kami sangat menghormati Bosnia dan Herzegovina. Saya tidak merasa kami adalah favorit. Dalam beberapa hari terakhir kita semua melihat betapa sulitnya Piala Dunia ini. Lebih mudah berbicara tentang siapa favorit setelah pertandingan selesai, bukan sebelumnya."

Di kubu Bosnia dan Herzegovina, pelatih Sergej Barbarez justru menilai Amerika Serikat tetap lebih diunggulkan.

Menurut mantan penyerang Bundesliga tersebut, status tuan rumah, kualitas pemain, serta pengalaman membuat AS layak menyandang predikat favorit.

"Saya tetap melihat Amerika Serikat sebagai favorit. Mereka berada di atas kami dalam peringkat dunia, bermain di kandang sendiri, memiliki pemain-pemain hebat dan tradisi sepak bola yang kuat."

Meski demikian, Barbarez menegaskan timnya tidak akan bermain bertahan hanya karena menghadapi tuan rumah.

"Menjadi underdog tidak pernah menjadi masalah bagi kami. Setelah pertandingan dimulai, semua prediksi tidak lagi penting. Kami telah mempelajari permainan lawan, menyusun rencana pertandingan, dan ingin menunjukkan kemampuan kami."

Ia memastikan Bosnia tetap akan memainkan gaya sepak bola yang selama ini membawa mereka melaju hingga babak gugur.

"Kami menghormati Amerika Serikat, tetapi itu tidak berarti kami akan membiarkan mereka mendominasi pertandingan. Kami akan memberikan perlawanan yang sama dan berharap bisa meraih kemenangan. Kami tidak akan meninggalkan filosofi permainan yang telah membawa kami sejauh ini dalam 18 bulan terakhir."

Barbarez pun berharap anak asuhnya dapat menikmati momen bersejarah tersebut. "Harapan terbesar saya adalah melihat para pemain merayakan dan menikmati momen ini bersama-sama."

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.