Inovasi UTM Bikin Pakan Ternak Naik Level, Peternak Didorong Makin Mandiri

Kamis, 24 Sep 2026, 00:16 WIB

PAMEKASAN - Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan, Jawa Timur berupaya memperkuat kemandirian peternak dan petani di Pulau Madura dengan cara mengembangkan inovasi pakan pelet sapi modifikasi berbasis bahan baku lokal.

Program yang didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) ini menyasar sejumlah desa di empat kabupaten di Pulau Madura. Salah satunya, di Desa Rek-Kerek, Kecamatan Proppo, Pamekasan.

Ket. Foto: Dokumen kegiatan bimbingan teknik pembuatan pakan pelet sapi oleh tim dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan di Desa Rek-Kerek, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan. — Sumber: Antara foto/HO-UTM Bangkalan

"Melalui program ini, kami melakukan pembinaan, berupa bimbingan teknis secara langsung kepada peternak, sekaligus memberikan alat pelet modifikasi yang dapat digerakkan dengan memanfaatkan tenaga gas biogas. Jadi, energi yang tersedia di desa dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung proses produksi pakan," kata Ketua Tim Pelaksana Kegiatan Andrie Kisroh Sunyigono di Pamekasan, Rabu.

Menurutnya, pemanfaatan energi biogas untuk mengoperasikan alat pelet memiliki nilai strategis bagi peternak di desa itu. Kondisi geografis dan musim kemarau yang relatif panjang membuat ketersediaan hijauan pakan ternak menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.

"Pakan pelet dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu peternak menghadapi kondisi wilayah yang relatif kering, terutama ketika memasuki musim kemarau dan ketersediaan hijauan menurun. Dengan pakan yang dapat diproduksi dan disimpan, peternak memiliki alternatif sumber pakan yang lebih terukur," katanya, menjelaskan.

Ia menjelaskan, bahan yang digunakan antara lain dedak padi 10 kilogram, tumpi 7,5 kilogram, jagung giling 2,5 kilogram, ampas tahu 9 kilogram, kulit singkong 6 kilogram, daun singkong 7,5 kilogram, janggel 7,5 kilogram, serta molases 1 liter.

"Prinsipnya, kami berusaha memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di desa. Bahan-bahan tersebut tidak harus didatangkan dari luar daerah, tetapi dapat berasal dari hasil samping pertanian dan agroindustri yang ada di sekitar masyarakat,” tutur Bambang.

Formulasi tersebut kemudian diolah menjadi pakan berbentuk pelet sehingga lebih mudah ditangani, disimpan, dan diberikan kepada ternak.

Menurut Andrrie, pendekatan berbasis bahan baku lokal menjadi penting karena salah satu komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan adalah pakan.

Pemanfaatan sumber daya lokal diharapkan dapat mengurangi ketergantungan peternak terhadap pakan dari luar sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil samping pertanian.

"Campuran bahan ini diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak sapi, sehingga bukan sekadar mencampurkan bahan, tetapi memperhatikan kebutuhan pakan ternak secara ilmiah dan terukur," katanya, menambahkan.

Selain pengembangan pakan pelet, tim UTM juga mendorong hilirisasi bioslurry menjadi kompos. Bioslurry merupakan hasil samping dari proses produksi biogas yang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah dan pupuk organik.

Melalui pendekatan ini, kotoran ternak tidak berhenti sebagai limbah. Sebagian dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas sebagai sumber energi, sementara residunya dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat bagi pertanian.

"Dengan cara ini, kami ingin menunjukkan bahwa peternakan dapat dikembangkan dalam sistem yang lebih terintegrasi. Limbah ternak dapat menghasilkan energi, energi dapat digunakan untuk mendukung produksi pakan, sedangkan residu biogas dapat dimanfaatkan kembali untuk pertanian," kata Andrie, menjelaskan.

Pendekatan ini juga menjadi bagian dari upaya membangun sistem pertanian dan peternakan berbasis ekonomi sirkular, dengan prinsip memaksimalkan pemanfaatan sumber daya dan meminimalkan limbah.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.