Pemerintah Perlu Perkuat Pertanian Rendah Emisi
Kamis, 25 Jun 2026, 01:10 WIBDenpasar â Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai pemerintah perlu menjadikan sistem subak di Bali sebagai model pengembangan pertanian rendah emisi yang menggabungkan produktivitas pangan, pelestarian lingkungan, dan kearifan lokal.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan kebutuhan peningkatan produksi pangan, pendekatan berbasis budaya dinilai dapat menjadi fondasi transformasi pertanian yang lebih berkelanjutan. Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, mengatakan sistem subak yang telah diwariskan selama lebih dari seribu tahun tidak hanya berfungsi sebagai sistem irigasi, tetapi juga mencerminkan filosofi Tri Hita Karana yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
 âSaya tidak bisa membayangkan tempat yang lebih baik untuk membangun diskusi tentang masa depan sistem pangan selain di tempat yang nilainilai tersebut masih hidup dan diterapkan hingga saat ini,â ujar Puji dalam forum pertukaran pengetahuan tentang sistem padi dan peternakan rendah emisi di Denpasar, sebagaimana diberitakan Antara di Bali, Rabu (24/6). Menurut dia, pemerintah perlu memperluas penerapan praktik pertanian berkelanjutan yang memadukan kearifan lokal dengan teknologi modern.
Selain menjaga ketahanan pangan, langkah tersebut juga dapat membantu menekan emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian yang menjadi salah satu penyumbang emisi metana terbesar.
BRIN juga mendorong pemerintah mempercepat pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi emisi. âBerbagai inovasi saat ini telah tersedia untuk membantu petani mengurangi emisi sekaligus meningkatkan produktivitas usaha tani,â kata Puji. Te k n o l o g i yang dinilai perlu diperluas antara lain metode pengairan berselang, efisiensi penggunaan pupuk, varietas unggul, penginderaan jauh, hingga sistem pemantauan emisi berbasis AI.
Meski demikian, Puji menilai keberhasilan transformasi pertanian tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Pemerintah juga perlu memperkuat investasi, kebijakan insentif, serta pendampingan petani agar inovasi dapat diterapkan secara luas di lapangan. âKita perlu meninggalkan Bali dengan komitmen nyata untuk bertindak sekarang dalam mewujudkan sistem pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan,â katanya.
Perluas Akses Petani
Senada dengan itu, Direktur Bidang Produksi Pangan dan Perubahan Iklim Kementerian Koordinator Bidang Pangan Fajar Nuradi menegaskan bahwa petani harus menjadi aktor utama dalam transformasi pertanian rendah emisi.
âPetani bukan hanya objek kebijakan, tetapi aktor utama dalam transformasi ini. Karena itu pembangunan kapasitas petani menjadi sangat penting,â ujar Fajar. Ia menilai pemerintah perlu memperluas akses petani terhadap teknologi modern, pembiayaan iklim, serta pelatihan pemanfaatan data dan sistem digital agar produktivitas dan efisiensi usaha tani meningkat.
Sementara itu, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) untuk Indonesia dan Timor-Leste juga mendorong pemerintah menjadikan filosofi Tri Hita Karana sebagai inspirasi pengembangan pertanian berkelanjutan.
Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor- Leste Rajendra Aryal menyebut kearifan lokal Bali tersebut sebagai contoh yang relevan bagi dunia. âTri Hita Karana berjalan lintas generasi dan itu contoh klasik yang kami ingin dunia menyadarinya,â kata Rajendra.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.