• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Cermati Bahaya Mendadak At...

Cermati Bahaya Mendadak Atlet bagi Kesehatan Jantung, Bisa Berhenti Mendadak

Kamis, 24 Sep 2026, 00:34 WIB

JAKARTA – Meningkatnya tren olahraga intensitas tinggi tanpa diimbangi pemeriksaan kondisi fisik dan tekanan darah, banyak terjadi di kota-kota. “Hal ini sangat berbahaya,” kata Ketua Panitia Hari Jantung Sedunia 2026 dr Rizky Aulia Fanani. Dia mengingatkan masyarakat, khususnya kalangan usia produktif, agar mewaspadai fenomena "mendadak atlet" tersebut. 

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) tersebut, mengatakan antusiasme masyarakat mengikuti tren olahraga seperti lari jarak jauh hingga Hyrox sangat positif. Namun, hal itu kerap kali tidak dibarengi dengan pemahaman atas batas kemampuan tubuh.

Ket. Foto: jaga kesehatan jantung — Sumber: ist

"Banyak yang begitu memakai jersey, langsung merasa menjadi atlet mendadak dan tidak bisa mengukur kemampuan diri sendiri. Olahraga itu yang penting niatnya untuk bergerak, bukan harus selalu berkompetisi," kata Rizky dalam konferensi pers Hari Jantung Sedunia 2026 di Jakarta, Rabu.

Rizky menjelaskan, memaksakan diri berolahraga berat tanpa mengetahui riwayat kesehatan dapat memicu henti jantung mendadak di luar rumah sakit (out-of-hospital cardiac arrest atau OHCA), terutama jika seseorang memiliki faktor risiko tersembunyi seperti hipertensi atau gangguan irama jantung (atrial fibrilasi).

Senada dengan hal itu, Ketua Bidang Komunikasi Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Iwet Ramadhan menyoroti banyaknya pegiat olahraga high-impact yang abai terhadap pemeriksaan tensi dan skrining awal kardiovaskular.

"Banyak yang berolahraga high-impact, semua lari, semua ikut Hyrox, tapi tidak memperhatikan tensinya dan tidak memperhatikan kesehatan jantungnya, sehingga akhirnya terjadi cardiac arrest," ujar Iwet.

Guna mengikis stigma bahwa olahraga harus selalu ekstrem dan kompetitif, Perki bersama YJI akan menggelar ajang World Heart Day Run 2026 dengan rute 5 kilometer di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) dan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pada 27 September mendatang.

Ajang lari tersebut dirancang dengan konsep non-kompetitif (non-competitive run) untuk mengedukasi publik bahwa aktivitas fisik bertujuan menyehatkan tubuh secara bertahap, bukan ajang adu cepat yang membahayakan keselamatan.

Selain lari santai, rangkaian peringatan Hari Jantung Sedunia 2026 juga akan diisi dengan pelatihan massal Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau resusitasi jantung paru bagi masyarakat awam.

"Selama ini kalau ada orang pingsan atau henti jantung di lapangan, masyarakat kerap bingung dan hanya menepuk-nepuk atau mengangkat korban secara keliru. Padahal, penanganan BHD yang tepat dan cepat pada menit-menit awal sangat menentukan peluang keselamatan korban," tutur Rizky.

Berdasarkan data medis, penyakit kardiovaskular menyerang kelompok lanjut usia, bahkan kian mengintai kelompok usia 20 hingga 45 tahun, dengan proporsi kasus tertinggi mencapai 80 persen pada laki-laki akibat kombinasi hipertensi tak terkontrol, kolesterol tinggi, serta kebiasaan merokok.

Masyarakat pun diimbau untuk rutin mengontrol tekanan darah dan memeriksakan diri secara berkala ke fasilitas kesehatan sebelum memutuskan mengambil porsi latihan fisik dengan beban intensitas tinggi.

  • Deteksi Dini Penyakit Jantung

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.