Swiss Sebut Kondisi Dunia Saat Ini Bukan Lagi Tempat Aman

Kamis, 24 Sep 2026, 00:22 WIB

JENEWA - Presiden Konfederasi Swiss Guy Parmelin memperingatkan bahwa tatanan internasional usai Perang Dunia II sedang menghadapi kendala yang sangat berat.

Dalam pidatonya di Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Rabu (23/9), waktu setempat, Parmelin juga menyoroti meningkatnya jumlah konflik, ketegangan geopolitik, dan berkurangnya kepercayaan terhadap lembaga-lembaga multilateral.

Ket. Foto: — Sumber: AFP/STEFAN WERMUTH

"Konflik semakin banyak dan terjebak dalam kebuntuan. Prinsip-prinsip paling mendasar dalam Piagam PBB, yaitu larangan penggunaan kekuatan serta penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial, sedang dilanggar secara terang-terangan," kata Parmelin.

Berbicara mengenai kecerdasan buatan (AI), Parmelin mengatakan teknologi tersebut menawarkan berbagai kemungkinan baru yang signifikan di bidang sains, ekonomi, kedokteran, dan pendidikan.

Namun, AI juga berisiko menciptakan kesenjangan baru antara pihak dengan keterampilan dan infrastruktur untuk ikut serta dalam transformasi tersebut dengan pihak yang hanya merasakan dampaknya.

"Kita harus memastikan bahwa kemajuan teknologi memperluas peluang tanpa memperlebar kesenjangan," tambahnya.

Parmelin menambahkan setiap negara seharusnya dapat memperoleh manfaat dari kemajuan AI serta berkontribusi dalam penyusunan aturan yang mengatur pengembangan dan penggunaannya.

Selain itu, dia memperingatkan aturan yang menghambat segala bentuk inovasi akan membuat masyarakat kehilangan potensi sangat besar.

Parmelin menegaskan perlunya menjaga keseimbangan antara mendorong kemajuan dan memastikan pengembangan serta penggunaan teknologi baru yang andal dan bertanggung jawab.

Dia juga memperingatkan bahwa berkurangnya kepercayaan berdampak pada perekonomian global, yang ditandai dengan meningkatnya proteksionisme, rantai pasokan yang diorganisasi ulang atau terfragmentasi akibat ketegangan geopolitik, serta melemahnya sistem perdagangan multilateral.

Sambil menegaskan kembali netralitas Swiss, Parmelin mengatakan hal itu berjalan seiring dengan komitmen teguh terhadap Piagam PBB dan hukum internasional.

"Dialog merupakan sarana untuk meredakan ketegangan saat krisis terjadi," kata Parmelin, seraya berjanji Swiss akan terus menawarkan jasa baiknya serta menyediakan ruang bagi dialog.

Dia juga mendukung reformasi PBB melalui inisiatif UN80, dengan menyatakan organisasi tersebut harus menjadi lebih koheren, lebih efektif, dan lebih berorientasi pada hasil. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Deri Henriawan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.