Ekspor Jatim Terus Digencarkan dengan Industri Hijau
Kamis, 30 Jul 2026, 12:09 WIBSURABAYA â Untuk memperluas peluang dan daya saing ekspor produk dalam negeri, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mempercepat pengembangan industri hijau melalui pendampingan dan kolaborasi lintas sector.Â
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur Iwan mengatakan percepatan tersebut menjadi kebutuhan karena produk yang dipasarkan ke luar negeri dituntut memenuhi standar keberlanjutan melalui sertifikasi industri hijau.
"Kalau industri kita masuk ke pasar ekspor luar negeri, salah satu syarat sertifikatnya adalah standar industri hijau ini," kata Iwan saat kegiatan Katalis Jatim - Kemitraan Industri-startup untuk Transisi Hijau, di Surabaya, Jawa Timur, Kamis.
Ia menjelaskan, saat ini pelaku industri di Jawa Timur yang telah memperoleh sertifikasi industri hijau masih terbatas, sehingga pemerintah daerah terus melakukan pendampingan yang kini diperkuat melalui kemitraan dengan berbagai pihak agar proses transformasi berjalan lebih cepat.
Menurut dia, sertifikasi industri hijau memerlukan tahapan dan parameter yang cukup panjang sehingga dibutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendamping, serta penyedia teknologi bersih.
Saat ini, kata dia, Jawa Timur memiliki modal besar untuk mempercepat transformasi tersebut mengingat sektor industri pengolahan menjadi penopang utama perekonomian daerah.
Pada triwulan I 2026, lanjutnya, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen secara tahunan dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp888,44 triliun atau berkontribusi 14,36 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Untuk sektor industri pengolahan menyumbang 31,45 persen terhadap PDRB Jawa Timur dan tumbuh 5,98 persen pada triwulan I 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri nasional yang tercatat sebesar 5,04 persen.
"Transformasi menuju industri yang lebih efisien, rendah karbon, dan berkelanjutan merupakan langkah strategis yang harus terus didorong untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan," ujarnya.
Sementara itu, Direktur New Energy Nexus Indonesia Diyanto Imam mengatakan pihaknya memulai kerja sama melalui pemetaan kebutuhan industri di Jawa Timur agar solusi yang diberikan sesuai dengan tantangan yang dihadapi pelaku usaha.
Oleh karena itu, kata dia, dengan pendekatan tersebut, hasil pemetaan nantinya akan menjadi dasar penyusunan program pendampingan dan adopsi teknologi bersih bagi pelaku industri baik industri kecil menengah (IKM) maupun usaha kecil menengah (UKM).
Sehingga, lanjutnya, dapat mendukung target pembangunan industri rendah karbon yang sudah diprogramkan oleh Pemprov Jawa Timur.
"Industri hijau tidak hanya untuk industri besar saja, tetapi kita juga ingin memastikan bahwa IKM dan UKM bisa masuk ke dalam ekosistem tersebut," katanya.
- Industri Hijau
- devisa hasil ekspor
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Industri dan Pertanian Jadi Benteng Ekonomi RI Hadapi Guncangan Global
-
Sambut Demam Sepak Bola Dunia, Levi’s® Hadirkan Country Ringer Tees Bergaya Retro
-
Terbang Bersama Vietjet Berpeluang Menang Hadiah Utama Emas 38 gram
-
Ikan Terbaik, Tangkapan Nelayan Lebak Go International
-
Komitmen AIIB Danai Pembangunan Indonesia US$17 Miliar, Bukti Kepercayaan Global pada Keberlanjutan Fiskal RI
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.