Apakah Orang Berambut Merah Akan Punah?
📅 Selasa, 28 Jul 2026, 07:27 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: JEAN-FRANCOIS MONIER / AFP
RAMBUT manusia hadir dalam beragam warna, mulai dari hitam, cokelat, pirang, hingga merah. Di antara semua variasi tersebut, rambut merah termasuk yang paling jarang ditemukan. Diperkirakan kurang dari 2 persen populasi dunia memiliki rambut merah alami. Di sejumlah wilayah tertentu, terutama Skotlandia dan Irlandia, proporsinya jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.
Kelangkaan tersebut kemudian memunculkan sebuah pertanyaan yang telah berulang kali muncul selama beberapa dekade: apakah orang berambut merah (redhead) suatu hari nanti akan punah?
Jika melihat jumlahnya yang relatif sedikit, pertanyaan itu mungkin terdengar masuk akal. Namun, para ahli genetika menegaskan tidak ada alasan ilmiah untuk memperkirakan bahwa manusia berambut merah akan benar-benar menghilang dari populasi dunia.
"Kami tidak memiliki bukti bahwa orang berambut merah akan punah," kata Katerina Zorina-Lichtenwalter, peneliti di Institute for Behavioral Genetics Universitas Colorado Boulder, yang mempelajari pewarisan sifat rambut merah.
Menurutnya, varian gen yang berperan dalam menghasilkan rambut merah tidak menyebabkan gangguan reproduksi dan tidak berkaitan dengan penyakit yang secara umum akan mencegah seseorang mencapai usia reproduktif. Dengan kata lain, meskipun rambut merah merupakan ciri yang langka, kelangkaan tersebut tidak berarti bahwa sifat itu sedang menuju kepunahan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gagasan bahwa orang berambut merah akan punah sebenarnya bukan fenomena baru. Pertanyaan serupa telah beredar selama puluhan tahun dan sering kali muncul kembali dalam berbagai pemberitaan populer.
Ian Jackson, profesor emeritus di Institute of Genetics and Cancer Universitas Edinburgh, mengatakan kepada Live Science bahwa pertanyaan mengenai kemungkinan kepunahan rambut merah telah lama menjadi bahan perbincangan.
Menariknya, rambut merah bukan satu-satunya warna rambut yang pernah diprediksi akan menghilang. Pada pertengahan abad ke-19, bahkan sempat muncul rumor mengenai kemungkinan kepunahan manusia berambut pirang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kesalahan utama dalam anggapan tersebut adalah berasumsi bahwa sifat yang jarang terlihat berarti gen penyebabnya juga hampir hilang. Padahal, dalam genetika, kedua hal tersebut sangat berbeda. Rambut merah merupakan salah satu contoh bagaimana sebuah sifat dapat tetap bertahan selama banyak generasi meskipun hanya dimiliki oleh sebagian kecil populasi. Kuncinya terletak pada cara gen tersebut diwariskan.
Gen Resesif
Warna rambut manusia dipengaruhi oleh kombinasi berbagai gen. Salah satu gen yang memiliki peran penting dalam menentukan variasi warna rambut adalah MC1R (melanocortin 1 receptor). Gen ini terlibat dalam pengaturan jenis melanin yang diproduksi oleh tubuh. Melanin merupakan pigmen yang memberikan warna pada rambut, kulit, dan mata.
Secara sederhana, terdapat dua jenis utama melanin yang relevan dalam pembentukan warna rambut, yakni eumelanin dan feomelanin (pheomelanin). Eumelanin menghasilkan warna yang lebih gelap, seperti cokelat dan hitam, sedangkan feomelanin berkontribusi terhadap warna merah dan kekuningan.
Varian tertentu pada gen MC1R dapat mengubah keseimbangan produksi kedua pigmen tersebut. Pada orang dengan variasi gen tertentu, produksi feomelanin menjadi lebih dominan sehingga rambut tampak merah atau kemerahan.
Namun, salah satu alasan mengapa rambut merah jarang ditemui adalah karena varian genetik yang berkaitan dengannya umumnya bersifat resesif. Artinya, seseorang biasanya perlu menerima varian tertentu dari kedua orang tuanya agar sifat rambut merah muncul secara fenotipe (tampak secara fisik).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!