Serangan Houthi ke Kapal Tanker di Laut Merah, IMO Serukan Deeskalasi

Jumat, 24 Jul 2026, 16:05 WIB

JAKARTA - Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyatakan keprihatinan atas meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Laut Merah. Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menilai aksi tersebut berpotensi mengganggu perdagangan internasional, mengancam keselamatan pelaut, serta memperburuk stabilitas rantai pasokan global.

Pernyataan itu disampaikan menyusul serangan yang diklaim dilakukan kelompok Ansar Allah Yaman atau Houthi terhadap dua kapal tanker Arab Saudi menggunakan rudal dan pesawat nirawak. Kelompok tersebut menyebut serangan dilakukan karena kedua kapal dianggap melanggar larangan navigasi yang mereka tetapkan di kawasan Laut Merah.

Ket. Foto: Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyatakan keprihatinan atas meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Laut Merah. Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menilai aksi tersebut berpotensi mengganggu perdagangan internasional, mengancam keselamatan pelaut, serta memperburuk stabilitas rantai pasokan global. — Sumber: ANTARA

Salah satu kapal yang menjadi sasaran adalah kapal tanker Encelia. Otoritas Transportasi Umum Arab Saudi mengonfirmasi kapal tersebut diserang di Laut Merah hingga memicu kebakaran, meski belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan.

Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menegaskan bahwa Laut Merah merupakan salah satu koridor pelayaran paling penting bagi aktivitas perdagangan internasional. Karena itu, gangguan keamanan di kawasan tersebut dinilai dapat memberikan dampak luas terhadap distribusi barang dan aktivitas ekonomi global.

"Laut Merah merupakan koridor maritim yang sangat penting untuk perdagangan internasional. Serangan berkelanjutan terhadap kapal di wilayah ini berisiko meningkatkan ketegangan, semakin mengganggu jalur perdagangan, dan merusak prinsip kebebasan navigasi," ujar Arsenio Dominguez.

IMO juga menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan langkah deeskalasi guna mencegah konflik semakin meluas. Organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mengingatkan bahwa keselamatan pelayaran internasional harus menjadi prioritas bersama.

Menurut Dominguez, serangan terhadap kapal-kapal niaga tidak hanya membahayakan awak kapal, tetapi juga meningkatkan risiko terhadap lingkungan laut. Ia menilai insiden yang melibatkan kapal tanker berpotensi memicu pencemaran apabila terjadi kebocoran muatan di perairan strategis tersebut.

"Serangan-serangan tersebut mengancam nyawa para pelaut, keselamatan pelayaran internasional, lingkungan laut, dan stabilitas rantai pasokan global," kata Dominguez.

Selain mengancam keselamatan pelayaran, IMO menilai meningkatnya eskalasi di Laut Merah dapat memengaruhi kelancaran distribusi logistik dunia. Kawasan tersebut merupakan salah satu jalur utama yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika melalui Terusan Suez sehingga gangguan keamanan berpotensi memperlambat arus perdagangan internasional.

Situasi di Laut Merah dalam beberapa waktu terakhir memang menjadi perhatian dunia setelah berulang kali terjadi serangan terhadap kapal-kapal komersial. Kondisi tersebut mendorong berbagai negara dan organisasi internasional untuk terus mengupayakan penyelesaian konflik demi menjaga keamanan jalur pelayaran global serta kestabilan rantai pasokan dunia.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.