Kerusuhan Pecah di Buenos Aires Usai Argentina Kalah dari Spanyol di Final Piala Dunia 2026

Senin, 20 Jul 2026, 17:15 WIB

JAKARTA - Kerusuhan mewarnai sejumlah wilayah di Argentina setelah tim nasional mereka takluk 0-1 dari Spanyol pada partai final Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung Senin. Kekalahan dramatis tersebut memicu aksi ricuh para pendukung di Buenos Aires hingga aparat kepolisian terpaksa mengerahkan gas air mata dan meriam air untuk mengendalikan situasi.

Berdasarkan laporan media setempat, bentrokan paling besar terjadi di kawasan Obelisk, monumen ikonik yang berada di pusat Kota Buenos Aires dan kerap menjadi lokasi berkumpulnya suporter. Sejumlah penggemar yang kecewa atas hasil pertandingan dilaporkan melemparkan botol kaca serta berbagai benda ke arah petugas keamanan.

Ket. Foto: Kerusuhan mewarnai sejumlah wilayah di Argentina setelah tim nasional mereka takluk 0-1 dari Spanyol pada partai final Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung Senin. Kekalahan dramatis tersebut memicu aksi ricuh para pendukung di Buenos Aires hingga aparat kepolisian terpaksa mengerahkan gas air mata dan meriam air untuk mengendalikan situasi. — Sumber: NDTV

Polisi kemudian merespons dengan membubarkan massa menggunakan gas air mata dan semprotan meriam air. Sedikitnya 15 orang dilaporkan diamankan aparat setelah kericuhan yang berlangsung beberapa saat usai pertandingan berakhir.

Kekalahan Argentina terjadi setelah Spanyol mencetak gol semata wayang pada babak perpanjangan waktu. Bermain di Stadion MetLife, Amerika Serikat, laga berlangsung sengit hingga Ferran Torres yang masuk sebagai pemain pengganti sukses memecah kebuntuan pada menit ke-106 sekaligus memastikan kemenangan La Roja dengan skor 1-0.

Hasil tersebut mengantarkan Spanyol meraih gelar Piala Dunia FIFA kedua sepanjang sejarah mereka. Keberhasilan itu sekaligus melanjutkan tren positif tim asuhan Luis de la Fuente yang sebelumnya juga sukses menjuarai UEFA Euro 2024.

Sepanjang turnamen, Spanyol tampil konsisten dengan permainan yang disiplin dan pertahanan yang solid. Tim Matador hanya kebobolan 11 gol dalam delapan pertandingan sebelum akhirnya mengangkat trofi paling bergengsi di dunia sepak bola.

Di tengah kekecewaan atas kekalahan tersebut, pelatih Argentina Lionel Scaloni tetap memberikan apresiasi kepada perjuangan anak asuhnya. Ia menilai timnya telah memberikan seluruh kemampuan hingga mampu menembus partai puncak Piala Dunia.

"Saya merasa sedih sekarang; tetapi di atas segalanya, saya memiliki rasa terima kasih yang tak terhingga kepada anak-anak ini, karena mencapai sejauh ini membutuhkan usaha yang luar biasa. Kita hebat dalam kemenangan dan kita harus hebat dalam kekalahan, dan kita ingat apa yang telah kita lakukan. Kita telah memberikan segalanya," kata Lionel Scaloni usai pertandingan, seperti dikutip dari akun X resmi Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA).

Scaloni juga mengajak para pemainnya untuk menerima hasil akhir dengan kepala tegak meski gagal mempertahankan gelar juara dunia yang mereka raih pada edisi sebelumnya. Menurutnya, perjuangan sepanjang turnamen tetap menjadi pencapaian yang patut diapresiasi meski harus mengakhiri kompetisi sebagai runner-up.

Keberhasilan Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 sekaligus mempertegas dominasi mereka di level internasional dalam beberapa tahun terakhir. Tambahan trofi Piala Dunia melengkapi koleksi gelar UEFA Euro 2024 dan menjadi pencapaian penting bagi era kepelatihan Luis de la Fuente.

  • Spanyol
  • Argentina
  • Kerusuhan
  • FIFA World Cup 2026
  • Buenos aires
  • Piala Dunia 2026
  • Turnamen Sepak Bola Dunia
  • Final Piala Dunia 2026

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.