Bukan Cuma Dijual Segar, Nelayan Perempuan Gorontalo Sulap Gurita Jadi Produk Olahan Kekinian
Minggu, 13 Sep 2026, 00:14 WIBGORONTALO - Kelompok nelayan perempuan Sipakullong di Torsiaje, Gorontalo, mengolah hasil tangkapan gurita menjadi sambal dan camilan stik gurita untuk meningkatkan nilai ekonomi dari hasil laut.
Sipakullong yang dalam bahasa Bajo berarti saling merangkul merupakan kelompok nelayan perempuan yang dibentuk melalui proses pendampingan Jaringan Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) bersama masyarakat setempat.
Salah seorang pendamping dari Japesda, Sri Dewi Karim Nagi, mengatakan kelompok tersebut mengembangkan sejumlah produk berbahan dasar gurita, mulai dari sambal hingga stik gurita yang menjadi camilan ringan.
"Kami menjual sambal gurita sama stik gurita. Ada dua varian, original sama balado," kata Dewi di Gorontalo, Sabtu.
Ia menjelaskan pengembangan olahan gurita dilakukan untuk memberikan nilai tambah terhadap hasil tangkapan nelayan yang sebelumnya lebih banyak dijual dalam kondisi mentah.
Kelompok Sipakullong mulai mengembangkan produk olahan gurita sejak 2022. Pada tahap awal, kelompok mencoba membuat bakso gurita, namun produk tersebut belum banyak diminati karena masyarakat lebih familiar dengan bakso berbahan daging dan ikan.
"Kita mulai dari bakso gurita, cuma memang waktu itu gurita kurang peminat. Mungkin karena masyarakat lebih mengenal mengonsumsi bakso daging sama bakso ikan," ujarnya.
Kelompok kemudian mengembangkan produk sambal dan stik gurita. Produk tersebut kini dipasarkan di Gorontalo dan telah diperkenalkan dalam kegiatan pameran di luar daerah, termasuk di Sorong dan Bali.
Menurut Dewi, pengolahan juga menjadi pilihan untuk memanfaatkan hasil tangkapan gurita yang mengalami kerusakan fisik akibat proses penangkapan secara tradisional.
Gurita yang bagian tubuhnya terputus atau mengalami kerusakan memiliki harga jual lebih rendah di pasar lokal. Melalui pengolahan, hasil tangkapan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi produk dengan nilai jual yang lebih tinggi.
"Kalau nelayan itu biasanya menangkapnya masih tradisional, ada yang cacat, misalkan ada yang tiga atau dua yang putus, itu akan dihargai lokal jadi lebih murah. Kita coba manfaatkan yang lokal tadi diolah menjadi produk dan nilainya cukup tinggi dibanding kita jual mentah," katanya.
Selain mengolah gurita, kelompok Sipakullong juga mengembangkan olahan hasil laut lainnya, seperti ikan garam, sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan nelayan.
Pendampingan terhadap kelompok juga mencakup edukasi mengenai pemanfaatan sumber daya gurita secara berkelanjutan. Nelayan didorong untuk tidak menangkap gurita yang masih berukuran terlalu kecil agar memiliki kesempatan tumbuh sebelum ditangkap.
Dewi mengatakan gurita memiliki pertumbuhan yang relatif cepat sehingga nelayan perlu bersabar untuk menangkapnya ketika telah mencapai ukuran yang lebih besar.
"Kita juga edukasi nelayan kalau misalkan menangkap yang di bawah 0,3 kilogram, karena perkembangannya cukup cepat sehingga nelayan juga cepat untuk menunggu, bersabar dulu sampai dia bisa besar," ujarnya.
Pengembangan produk olahan tersebut menjadi salah satu cara kelompok Sipakullong memanfaatkan hasil laut secara lebih optimal, sekaligus memperluas peran perempuan nelayan dalam kegiatan ekonomi berbasis sumber daya pesisir.
Berita Terkait:
-
KJRI Pulangkan 307 WNI dari Johor Malaysia ke Batam
-
RSUD Maumere rawat pasien di tenda akibat gempa
-
Chef Yulita Soroti Kuliner Khas Kalsel, Tak Cuma Soto Banjar
-
KPK Banding Atas Vonis 2 Tahun Penjara Gubernur Riau Nonaktif, Abdul Wahid
-
Konser Akbar Digelar di Monas, 13 Kereta Api Keberangkatan Gambir Berhenti di Jatinegara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.