Banyuwangi Gandeng Para Arsitek, Langkah Ini Diprediksi Ubah Arah Pembangunan Daerah

Minggu, 13 Sep 2026, 00:15 WIB

BANYUWANGI - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur memperkuat kolaborasi dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jatim untuk mendorong pembangunan daerah yang semakin berkualitas dan berkelanjutan sekaligus tetap berakar pada identitas lokal.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan pemerintah daerah setempat terus berupaya menjaga agar pembangunan tidak sekadar mengejar aspek fisik, namun juga memperhatikan kenyamanan masyarakat, keberlanjutan lingkungan serta karakter daerah.

Ket. Foto: Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat menerima kunjungan kerja Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jatim di Banyuwangi, Jawa Timur. — Sumber: Antara foto/HO-Pemkab Banyuwangi

"Arsitektur tidak hanya soal kemegahan, tetapi harus berpihak kepada masyarakat. Dengan kolaborasi bersama IAI kami ingin terus memastikan ruang publik, taman kota hingga tata ruang wilayah melibatkan arsitek agar pembangunan lebih nyaman, berkelanjutan dan mensejahterakan masyarakat," ujar dia di Banyuwangi, Sabtu.

Menurut Ipuk, Banyuwangi telah menjalankan konsep pembangunan hijau selama lebih dari 14 tahun, dan telah banyak bangunan publik di Banyuwangi melibatkan arsitek.

"Kami ingin pembangunan daerah tetap berkarakter dan tidak kehilangan jati diri, namun pada saat yang sama memenuhi standar kualitas dan keberlanjutan," kata dia.

Sementara itu, Ketua IAI Jawa Timur Fafan Tri Afandy mengemukakan kerja sama tersebut menjadi peluang untuk semakin memperkuat ekosistem arsitektur di Banyuwangi, sekaligus meningkatkan kualitas pembangunan daerah.

"IAI bersama Pemkab Banyuwangi telah lama menjalin kolaborasi yang cukup intens, kami melihat loncatan perkembangan bidang arsitektur yang cukup pesat di Banyuwangi hingga menjadikannya barometer arsitektur di Indonesia, khususnya di wilayah timur," katanya.

Perkembangan tersebut, lanjut Fafan, tidak lepas dari konsistensi Banyuwangi dalam mengembangkan arsitektur yang mengangkat identitas lokal sekaligus mengedepankan prinsip keberlanjutan.

Salah satu tonggaknya adalah keberhasilan Banyuwangi meraih Aga Khan Award for Architecture melalui Bandara Internasional Banyuwangi.

"Dari awal hanya terdapat tiga hingga empat arsitek, kini Banyuwangi memiliki 10-16 arsitek te-registrasi, 33 konsultan perencana, serta sekitar 80 sarjana arsitektur yang kembali ke daerah," ujar Fafan.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.