Goa Halo Tabung Maratua Jadi Wisata Edukasi Geologi, Simpan Keajaiban Karst Berusia Ribuan Tahun

Sabtu, 18 Jul 2026, 19:05 WIB

Berau - Pemerintah Kecamatan Maratua di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, terus mengoptimalkan potensi fenomena alam kawasan karst Goa Halo Tabung sebagai wahana edukasi geologi yang bernilai pengetahuan tinggi bagi wisatawan maupun peneliti.

"Keberadaan gua karst ini tidak hanya sekadar menawarkan keindahan pesona alam semata, tetapi juga difungsikan menjadi laboratorium hidup yang sangat kaya akan nilai edukasi tentang sejarah pembentukan bumi kita," kata Camat Maratua Ashari di Berau, Sabtu.

Ket. Foto: Goa Halo Tabung di Pulau Maratua, Kabupaten Berau menjadi wahana edukasi geologi yang diminati wisatawan mancanegara. — Sumber: Antara

Destinasi wisata eksotis yang terletak di Kampung Payung-Payung tersebut memiliki karakteristik geologis unik berupa bentangan kolam alami memanjang dengan air payau berwarna kebiruan yang selalu jernih.

Ashari mengatakan keajaiban alam ini terbentuk dari pelarutan batu kapur selama ribuan tahun akibat tetesan air hujan yang menyerap karbondioksida dan berubah menjadi asam lemah saat meresap ke dalam tanah.

"Melalui proses pelarutan batuan di sepanjang retakan dan celah tanah secara perlahan tersebut, alam pada akhirnya membentuk sebuah cekungan mengerucut ke bawah hingga mencapai kedalaman sekitar 25 meter," ujar Ashari.

Ekosistem air payau di bagian tengah gua tersebut terbukti bergantung pada dinamika pasang surut air laut yang merembes masuk secara alami melalui jejaring celah bebatuan pesisir pulau.

"Jarak bibir daratan gua dengan laut lepas yang hanya terpaut sekitar 50 meter membuat volume ketersediaan air di dalam kolam selalu terjaga kelestariannya secara alami sepanjang waktu," kata dia.

Asal usul penamaan destinasi yang kerap diselami turis mancanegara itu juga sarat akan kearifan lokal, karena diambil langsung dari bahasa Suku Bajau, dimana kata Halo bermakna laguna dan Tabung merujuk pada jenis ikan kakap atau ikan tompel tangkapan nelayan setempat.

"Penyematan identitas bahasa lokal pada nama situs geologi ini menjadi cara efektif kami untuk terus merawat warisan tradisi lisan serta identitas kebaharian masyarakat pesisir Maratua," ucap Ashari.

Integrasi antara penyampaian literasi sains geologi dan pelestarian budaya lokal tersebut mampu menumbuhkan kesadaran ekologis para pengunjung untuk lebih menjaga kelestarian tata lingkungan perairan daerah.

"Kami sangat berharap setiap wisatawan yang datang tidak cuma berlibur menikmati keindahan airnya, tetapi pulang membawa tambahan wawasan baru tentang betapa pentingnya menjaga ekosistem kawasan karst ini," kata Ashari.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.