Rayakan HUT ke-59, DNIKS Tegaskan Pengentasan Kemiskinan Harus Jadi Gerakan Nasional.

Sabtu, 18 Jul 2026, 20:02 WIB

Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) menegaskan bahwa upaya pemberantasan kemiskinan di Indonesia tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Persoalan tersebut harus menjadi Gerakan Nasional yang melibatkan seluruh elemen bangsa agar penanganannya berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. "Kemiskinan masih menjadi tantangan terbesar dalam mewujudkan kesejahteraan sosial," kata Ketua Umum DNIKS A. Effendy Choirie usai memberi sambutan HUT ke 59 DNIKS berthema "Memajukan Kesejahteraan Umum" di aula DNIKS, Jumat (17/7/2026).

Hadir dalam acara tersebut  Pengurus Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Yogyakarta, Sugianto, BKKKS DKI Jakarta Sukarno dan BKKKS Lampung. 

Ket. Foto: Effendy Choirie, Pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, BUMN, organisasi sosial, organisasi keagamaan, perguruan tinggi, media massa, filantropi, hingga masyarakat luas perlu bersinergi dalam satu gerakan bersama untuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia. — Sumber: Koran Jakarta/M.Fachri

20260718200056_HUT-DNIKS-ke-59_2.jpg

Karena itu, kata Gus Choi-sapaan akrabnya, pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, BUMN, organisasi sosial, organisasi keagamaan, perguruan tinggi, media massa, filantropi, hingga masyarakat luas perlu bersinergi dalam satu gerakan bersama untuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia.

Lebih jauh Gus Choi mengemukakan bahwa data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 masih mencapai 23,85 juta jiwa atau sekitar 8,47 persen dari total penduduk Indonesia. Walaupun mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, angka tersebut masih menunjukkan bahwa puluhan juta warga hidup dalam kondisi yang serba terbatas.

Di sisi lain, lanjut Gus Choi, pendekatan terhadap kemiskinan juga perlu melihat berbagai aspek kehidupan masyarakat. Perserikatan Bangsa -Bangsa (PBB/UNDP) tidak hanya mengukur kemiskinan dari sisi pendapatan, tetapi juga mempertimbangkan akses terhadap pendidikan, kesehatan, sanitasi, perumahan layak, listrik, air bersih, serta kualitas hidup lainnya. Oleh sebab itu, pendekatan kemiskinan multidimensi menjadi bagian penting dalam penyusunan kebijakan kesejahteraan sosial.

Mantan Wakil Ketua Komisi I DPR itu mengungkapkan bahwa indikator kemiskinan yang digunakan BPS maupun pendekatan multidimensi yang dikembangkan PBB tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru saling melengkapi dan dapat menjadi bahan evaluasi bersama untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Bertepatan dengan peringatan HUT ke-59 DNIKS, organisasi tersebut mengajak seluruh komponen bangsa membangun Gerakan Nasional Pengentasan Kemiskinan melalui lima agenda utama, yakni memastikan tidak ada warga yang kelaparan dan terlantar, meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan keluarga miskin, memperluas lapangan kerja serta peluang usaha produktif, memperkuat perlindungan bagi penyandang disabilitas, lanjut usia, anak terlantar, dan kelompok rentan lainnya. "Serta memperkuat kolaborasi pemerintah, dunia usaha, filantropi, organisasi sosial, dan organisasi keagamaan dalam satu gerakan nasional kesejahteraan sosial," imbuhnya.

Lebih lanjut Gus Choi mengatakan, DNIKS yang telah mengabdi selama 59 tahun meyakini bahwa kemiskinan bukanlah takdir yang tidak dapat diubah. Dengan semangat gotong royong nasional, kebijakan yang berpihak kepada rakyat, serta pengelolaan sumber daya yang adil, cita-cita konstitusi untuk memajukan kesejahteraan umum dapat diwujudkan.

"Kemiskinan tidak boleh hanya menjadi urusan Kementerian Sosial atau pemerintah semata. Kemiskinan adalah persoalan bangsa. Karena itu, pemberantasannya harus menjadi Gerakan Nasional yang melibatkan seluruh komponen bangsa. Bila seluruh kekuatan bangsa bersatu, saya optimistis Indonesia mampu mewujudkan cita-cita besar menuju Indonesia Sejahtera 2045," pungkasnya.*

  • HUT DNIKS ke-59

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Yebdi Trismar

Berita Terbaru

Tradisi Mulud Adat Bayan Pertama Kalinya Masuk Kalender KEN

Trump Ancam Hukuman Ekonomi ke Negara Mana pun yang Bantu Iran

Gibran Tinjau Dampak Gempa di NTT, Pastikan Keselamatan dan Kebutuhan Dasar Warga Jadi Prioritas

Mesin Ekonomi Baru di Pesisir! KNMP Konawe Suplai 8 Ton Ikan Kualitas Ekspor ke Luar Kota

Komisi X DPR Minta BPK NTT Laporkan Kondisi Situs Budaya yang Terdampak Gempa

Kejar Target Bebas Emisi, Pemprov DKI Jakarta Bakal Operasikan 10 Ribu Bus Listrik

Andrea Bocelli Gelar Konser di Borobudur dan Jakarta, Cek Harga Tiket dan Jadwalnya

Pestani Rawit Groo Festival: PT Petrokimia Gresik Dorong Petani Tingkatkan Produktivitas Cabai

Kemenbud, BRWA, dan AMAN Integrasikan Data 3.857 Komunitas Adat untuk Percepat Pengakuan Hak

MinyaKita Dijual Rp31 Ribu, Mobil GASING Keliling Batam Tekan Harga Sembako

Jakarta Jadi Kota dengan Udara Terburuk Kedua di Dunia, Data Real-time IQAir Catat AQI 161

Fantastis! Sindikat Pemalsuan Materai di Lima Provinsi Rugikan Negara Rp1,03 Triliun

BUMN Tak Cukup Andalkan Aset, Menperin Minta Perkuat Hilirisasi dan Rantai Pasok Industri

Polda dan 22 Ormas se-Banten Gelar Apel Kamtibmas

Airlangga: Indonesia Prioritaskan Transformasi Industri Berbasis Tenaga Surya

Review Harusnya Horror: Hantu Wibu, Komedi, dan Kreator Konten dalam 106 Menit

Kapasitas Terpasang Panas Bumi Baru 11,6%, Bahlil: Jangan Tahan Konsesi!

Komisi XIII DPR Buka Peluang Bentuk Badan Khusus soal TPPO

Empat Pekerja Tewas Tertabrak Kereta di Jepang, Negara dengan Catatan Keselamatan KA Terbaik di Dunia

Gempa NTT, UMI Makassar Kirim Tim Medis dan Bantuan Logistik untuk Warga Terdampak

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.