Indonesia Berhasil Lakukan Terapi Sacral Neuromodulation Pertama untuk Gangguan Saraf Berkemih
Jumat, 17 Jul 2026, 21:55 WIBJAKARTA â Primaya Hospital Bekasi Timur mencatatkan tonggak baru dalam layanan bedah saraf di Indonesia setelah berhasil melakukan tindakan Sacral Neuromodulation (SNM) pertama di Tanah Air. Teknologi yang selama ini belum tersedia di Indonesia tersebut diharapkan membuka akses yang lebih luas bagi pasien dengan gangguan berkemih akibat kerusakan saraf tanpa harus menjalani pengobatan ke luar negeri.
Tindakan yang dilakukan pada Februari 2026 itu dipimpin oleh dr. Muhamad Aulia Rahman, Sp.BS-FTB, FINSS, bersama tim dokter spesialis bedah saraf Primaya Hospital Bekasi Timur. Keberhasilan tersebut juga mendapat pengakuan dari PINS Medical, perusahaan teknologi neuromodulasi asal Beijing, Tiongkok, yang memberikan penghargaan kepada tim medis atas pencapaian tersebut.
Sacral Neuromodulation merupakan terapi yang bekerja dengan memberikan stimulasi pada saraf sakral untuk membantu mengembalikan fungsi kandung kemih, usus, dan organ panggul yang mengalami gangguan akibat kerusakan saraf. Berbeda dengan terapi konvensional yang umumnya hanya menangani gejala, teknologi ini menargetkan sumber gangguan secara langsung, yakni sistem saraf.
Menurut dr. Muhamad Aulia Rahman, banyak pasien belum menyadari bahwa gangguan berkemih yang mereka alami sebenarnya dipicu oleh kerusakan saraf sehingga kerap dianggap sebagai masalah saluran kemih biasa.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti lampu yang tidak menyala karena aliran listriknya terputus, bukan karena kerusakan pada lampunya.
"Masalah utamanya bukan berada pada kandung kemih, melainkan pada saraf yang mengendalikan fungsi tersebut. Melalui Sacral Neuromodulation, kami memberikan stimulasi langsung pada saraf sehingga fungsi organ dapat kembali bekerja lebih optimal," ujar dr. Aulia melalui keterangannya pada hari Jumat (17/7).
Ia menjelaskan prosedur SNM merupakan tindakan minimal invasif yang umumnya hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga satu jam.
Menurutnya, kehadiran teknologi tersebut bukan hanya menjadi keberhasilan dari sisi medis, tetapi juga diharapkan mampu mengembalikan kualitas hidup pasien yang selama ini memiliki pilihan terapi terbatas.
"Sebelum teknologi ini tersedia, pasien Indonesia umumnya harus mencari pengobatan ke luar negeri. Kami berharap kehadiran SNM menjadi awal berkembangnya layanan neuromodulasi di Indonesia sehingga semakin banyak pasien dapat memperoleh terapi yang sama tanpa harus meninggalkan negaranya," katanya.
Keberhasilan tindakan pertama tersebut sekaligus memperkuat layanan Brain & Neuro sebagai salah satu Center of Excellence yang dikembangkan Primaya Hospital dalam penanganan penyakit otak dan saraf.
Direktur Primaya Hospital Bekasi Timur, Dr. dr. Meizar Rizaldi, M.Ked.Klin., MM., MBA., FISQua, mengatakan pencapaian tersebut merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan medis berstandar internasional yang dapat diakses masyarakat Indonesia.
Menurutnya, pengembangan layanan Brain & Neuro akan terus dilakukan melalui pemanfaatan teknologi medis terkini yang didukung tenaga kesehatan kompeten serta standar pelayanan yang tinggi.
"Keberhasilan melakukan tindakan SNM pertama di Indonesia menjadi bukti nyata pengembangan layanan Brain & Neuro sebagai salah satu Center of Excellence Primaya Hospital. Kami ingin memastikan masyarakat Indonesia memiliki akses terhadap teknologi medis terkini tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri," ujarnya.
Salah seorang pasien pertama yang menjalani prosedur SNM, Ratna Ira Andriyanti (40), mengaku mengalami gangguan berkemih setelah mengalami kecelakaan. Berbagai metode pengobatan yang dijalaninya sebelumnya tidak memberikan hasil karena penyebab utama berasal dari gangguan saraf.
Setelah menjalani tindakan SNM, Ratna mengaku kondisinya membaik dan dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih percaya diri.
"Sebelumnya saya selalu khawatir saat beraktivitas karena sulit menahan buang air kecil. Setelah menjalani tindakan SNM, kondisi saya jauh lebih baik. Kini saya bisa kembali beraktivitas dengan lebih percaya diri dan merasa mendapatkan kembali kualitas hidup saya," tuturnya.
Melalui penerapan teknologi neuromodulasi ini, Primaya Hospital berharap semakin banyak pasien dengan gangguan saraf yang memengaruhi fungsi berkemih dapat memperoleh akses terhadap terapi yang sebelumnya hanya tersedia di luar negeri, sekaligus mendorong perkembangan layanan bedah saraf modern di Indonesia.
- Teknologi Medis
- Primaya Hospital
- layanan kesehatan
- Inovasi Medis
- center of excellence
- penyakit saraf
- bedah saraf
- Primaya Hospital Bekasi Timur
- Sacral Neuromodulation
- SNM
- Neuromodulasi
- Brain & Neuro
- Gangguan Berkemih
- Kandung Kemih
- Saraf Sakral
- Kesehatan Saraf
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Kemenkes: Akses Kesehatan yang Setara Melindungi Kelompok Rentan Penderita TB dan HIV
-
Melalui Program Longevity 5.0, Kita Bisa Manfaatkan Layanan Kesehatan Jangka Panjang
-
BMHS Bangun Fasilitas Skybridge untuk Tingkatkan Mobilitas Pasien dan Tenaga Medis
-
Unpatti Gandeng Konsultan Lingkungan Dirikan Center of Excellence di Maluku
-
Saat Pasien Tetap Sadar di Meja Operasi: Inovasi Baru dalam Penanganan Tumor Otak
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.