Ribuan Pengunjung Padati KEK Kura Kura Bali, Festival Bunga Jadi Daya Pikat Baru

Jumat, 17 Jul 2026, 22:00 WIB

DENPASAR – Penyelenggaraan festival telah menjadi salah satu strategi efektif untuk menarik kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.

Selain menjadi daya tarik budaya dan hiburan, festival mampu meningkatkan okupansi hotel, mendorong konsumsi di sektor kuliner, transportasi, hingga membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM lokal.

Ket. Foto: Ribuan pengunjung festival bunga BFF 2026 padati KEK Kura Kura Bali di Denpasar, Jumat (17/7/2026). — Sumber: ANTARA/HO-KEK Kura Kura Bali

Namun, agar dampaknya berkelanjutan, festival perlu dikemas secara kreatif, memiliki identitas yang kuat, serta didukung promosi digital dan kalender acara yang konsisten.

Dengan demikian, festival tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga instrumen penguatan destinasi wisata dan peningkatan daya saing pariwisata daerah.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali berhasil menggaet hampir 5 ribu pengunjung dalam dua hari gelaran Bali Flower Festival (BFF) 2026.

“BFF 2026 menargetkan jumlah pengunjung mencapai 3.000 hingga 3.500 orang, namun antusiasme pengunjung tahun ini jauh lebih tinggi, tercatat 4.813 pengunjung memadati UID Bali Campus, KEK Kura Kura Bali selama dua hari,” kata Ketua Panitia BFF 2026 Yuliana Rara.

Yuliana di Denpasar, Jumat (17/7), mengatakan jumlah kunjungan di tahun ketiga ini naik sekitar 38 persen dari ekspektasi penyelenggara, menunjukkan antusias pecinta bunga begitu besar di Pulau Dewata.

Festival bunga terbesar ini sendiri mendatangkan ratusan jenis bunga termasuk yang langka di pasaran, tujuannya untuk menjadi ruang kolaborasi penggiat seni dan UMKM rangkai bunga.

Dengan mengangkat tema Grow Authentically, festival ini selain memamerkan bunga juga merangkaikan beragam agenda pendukung seperti seminar, sesi bisnis panel, hingga lokakarya yang setiap kelas diikuti ratusan pecinta bunga.

“Hal yang membedakan antara BFF sebelumnya dengan 2026 adalah pelibatan UMKM, tahun ini kami menjaring banyak UMKM untuk turut memeriahkan acara, beberapa dari mereka memang memiliki usaha toko bunga, dan banyak juga yang membawa ragam usaha lain,” ujar Yuliana.

Sebagai salah satu daya tarik utama, BFF 2026 kemarin, mereka menghadirkan Flower Museum di Ruang Melajah, UID Bali Campus, dimana area tersebut menjadi galeri yang memamerkan mahakarya dari belasan floral desainer Indonesia.

Menurutnya, selain rangkaian festival bunga yang memantik tingginya pengunjung, pemilihan kampus di tengah kawasan yang sedang naik namanya menjadi alasan.

"Banyak peserta merasa KEK Kura Kura Bali ini tempatnya tidak terlalu formal, dengan konsep

kampus, sangat mudah bagi anak-anak Gen Z terlibat dan menyatu, spot-spot di sini juga sangat menarik bagi mereka, apalagi KEK Kura Kura Bali luasnya sangat mendukung kegiatan-kegiatan kreatif seperti ini,” kata Yuliana.

President UID Foundation Tantowi Yahya menambahkan bahwa kesuksesan festival bunga ini tidak hanya dilihat dari tingginya pengunjung, melainkan keberhasilan kawasan mengakomodir pelaku industri kreatif di bidang seni bunga tersebut.

"Karena itu, kami merasa sangat senang Bali Flower Festival berlangsung di UID Bali Campus, KEK Kura Kura Bali, bagi kami festival ini bukan sekadar pameran bunga ini adalah tempat bertemunya kreativitas dengan peluang bisnis,” ujarnya.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru itu mengatakan ruang ini menjadi tempat belajar, saling menginspirasi, dan menunjukkan karya terbaik kepada masyarakat.

Selaras dengan kawasan yang mendorong sebuah bisnis berkembang dengan cara yang benar, manfaatnya tidak berhenti pada keuntungan perusahaan, namun bisa menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, memberdayakan masyarakat, sekaligus menjaga lingkungan dan budaya.

Salah satu pengunjung bernama Celine menyampaikan bahwa ia menemukan kenyamanan tersendiri lewat aktivitas kreatif berkaitan dengan bunga yang dihadirkan.

Berawal dari melihat di media sosial, ia yang memang pecinta bunga itu langsung datang ke KEK dan memburu bunga-bunga langka yang jarang dijual di toko bunga di Bali.

“Kegiatan-kegiatan yang memberi pengalaman langsung seperti ini peminatnya sedang sangat tinggi, karena kita semua pada akhirnya butuh tempat untuk rehat sejenak, melepas penat, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan hati,” ucapnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.