• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Mengapa Pengobatan Kanker ...

Mengapa Pengobatan Kanker Mengancam Kesuburan Laki-laki?

Selasa, 04 Agu 2026, 06:13 WIB

Kesembuhan dari kanker pada masa kanak-kanak merupakan salah satu pencapaian besar dalam dunia kedokteran modern. Namun, perjalanan seorang pasien tidak selalu berhenti setelah sel kanker berhasil dikendalikan. Bagi anak laki-laki, dampak terapi seperti kemoterapi dan radioterapi dapat baru terasa bertahun-tahun kemudian saat mereka tumbuh dewasa dan merencanakan keluarga, yaitu berupa gangguan kesuburan jangka panjang hingga infertilitas permanen.

Pengobatan kanker mengancam kesuburan karena dapat merusak sel-sel germinal atau spermatogonia di dalam testis yang bertugas memproduksi sperma. Kelompok obat kemoterapi jenis alkilator seperti cyclophosphamide dan busulfan, serta obat golongan platinum seperti cisplatin, diketahui memiliki risiko tinggi merusak sel-sel tersebut. Selain itu, paparan radioterapi pada area testis juga dapat mengganggu proses pembentukan sperma. Data dari Childhood Cancer Survivor Study bahkan mencatat bahwa angka infertilitas pada penyintas kanker anak laki-laki mencapai 46 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok saudara kandung mereka yang hanya 17,5 persen.

Ket. Foto: Untuk pertama kalinya, jaringan testis muda yang diawetkan dengan kriopreservasi dimasukkan kembali setelah 16 tahun pada seorang pria infertil yang menjalani kemoterapi di masa kanak-kanak. — Sumber: Vrije Universiteit Brussel

Kondisi ini menjadi semakin rumit bagi pasien yang masih anak-anak. Pria dewasa dapat mengantisipasi risiko infertilitas dengan membekukan sperma sebelum pengobatan dimulai. Namun, cara ini tidak bisa diterapkan pada anak laki-laki pra-pubertas karena organ reproduksi mereka belum menghasilkan sperma matang. Sebagai jawabannya, para ilmuwan mengembangkan teknik preservasi jaringan testis. Sebelum terapi kanker berjalan, sebagian kecil jaringan testis anak dipotong dan disimpan dalam kondisi beku menggunakan teknik kriopreservasi untuk dicangkokkan kembali ke tubuh pasien saat ia dewasa.

Harapan dari konsep ini mulai menunjukkan hasil nyata melalui laporan penelitian terbaru dari tim medis di Belgia. Jaringan testis seorang pasien yang telah dibekukan sejak tahun 2008 berhasil dicairkan dan ditransplantasikan kembali ke area skrotumnya pada akhir 2024. Setelah satu tahun, pemeriksaan jaringan menunjukkan ditemukannya aktivitas pembentukan sperma kembali. Temuan ini menjadi bukti biologis penting bahwa jaringan testis manusia yang disimpan selama puluhan tahun masih memiliki kemampuan untuk hidup dan memproduksi sperma.

Kendati demikian, terobosan tersebut masih menghadapi keterbatasan teknis. Jaringan testis yang ditanamkan kembali tidak terhubung dengan saluran reproduksi normal, sehingga sperma yang dihasilkan tidak bisa keluar melalui ejakulasi alami. Sperma harus diambil secara manual melalui prosedur biopsi medis untuk digunakan dalam program bayi tabung. Selain itu, pengamatan awal menunjukkan bahwa jumlah sperma yang diproduksi masih sangat sedikit dan bentuk selnya belum sepenuhnya normal.

Tantangan serius lainnya adalah risiko keamanan, terutama bagi penyintas kanker seperti leukemia. Ada kekhawatiran bahwa jaringan testis yang diambil di masa kecil masih membawa sel kanker, yang jika ditanamkan kembali berisiko memicu kekambuhan penyakit. Karena itulah lembaga reproduksi seperti European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) mengingatkan bahwa teknologi ini masih berada dalam tahap penelitian lanjutan dan membutuhkan metode deteksi sel ganas yang lebih sensitif sebelum bisa digunakan secara luas.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi preservasi jaringan testis memperlihatkan perubahan cara pandang dalam penanganan kanker anak. Fokus medis kini tidak lagi sebatas menyelamatkan nyawa pasien, tetapi juga memperhatikan kualitas hidup mereka saat dewasa kelak. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.