Indonesia-Thailand Targetkan Perdagangan Bilateral Senilai 20 Miliar Dollar AS pada 2030

Selasa, 04 Agu 2026, 08:13 WIB

JAKARTA - Indonesia dan Thailand menetapkan target untuk meningkatkan perdagangan bilateral menjadi 20 miliar dollar AS pada tahun 2030 melalui penguatan kemitraan strategis di sektor ekonomi, energi, dan pertanian.

Target tersebut diumumkan Presiden Prabowo Subianto dalam konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/8).

Ket. Foto: Presiden RI Prabowo Subianto dan PM Thailand Anutin Charnvirakul berjabat tangan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026. — Sumber: BPMI Setpres

"Kerja sama ekonomi tetap menjadi pilar utama hubungan bilateral kita. Kami optimistis target perdagangan sebesar 20 miliar dollar AS pada tahun 2030 dapat tercapai melalui implementasi peta jalan kemitraan strategis," kata Prabowo.

Untuk mencapai target tersebut, kedua pemimpin secara resmi mengadopsi Peta Jalan Kemitraan Strategis Indonesia-Thailand 2026–2030, sebuah kerangka kerja komprehensif yang dirancang untuk memperluas akses pasar, meningkatkan investasi bersama, dan mengurangi hambatan perdagangan.

Kerangka kerja ini dibangun berdasarkan komitmen yang dibuat selama KTT ASEAN Mei 2026 di Cebu, Filipina.

Sebagai bagian dari peta jalan tersebut, kedua negara akan membentuk Komisi Perdagangan Bersama, mekanisme perdagangan bilateral pertama antara Indonesia dan Thailand, untuk mengatasi hambatan perdagangan dan membuka peluang bisnis baru.

Keselarasan strategis antara kedua negara mencakup beberapa sektor ekonomi prioritas tinggi, dimulai dengan komitmen bersama terhadap pangan dan pertanian.

Menurut Prabowo, dengan menggabungkan keahlian mereka, Indonesia dan Thailand bermaksud memperkuat ketahanan pangan regional melalui inisiatif bersama dalam teknologi pertanian canggih, ketahanan rantai pasokan, dan jaringan logistik terintegrasi.

Selain itu, kedua negara berencana memanfaatkan kekuatan masing-masing di sektor halal untuk mengembangkan rantai nilai terintegrasi bagi pasar regional dan global. Di luar pertanian, kemitraan ini juga berfokus pada keamanan energi dan ekonomi digital.

Kedua pemimpin mengumumkan peluncuran Forum Energi Indonesia-Thailand, sebuah platform yang dirancang untuk mempercepat transisi energi berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan jaringan energi di seluruh kawasan.

Kedua pemerintah juga berupaya memperluas kerangka kerja Transaksi Mata Uang Lokal (LCT), sebuah langkah yang bertujuan mengurangi volatilitas nilai tukar dan meningkatkan efisiensi dalam transaksi perdagangan lintas batas.

PM Anutin menyoroti bahwa gabungan populasi sekitar 350 juta orang mewakili potensi signifikan untuk pertumbuhan komersial dan perluasan pasar.

"Kami sepakat Thailand dan Indonesia memiliki potensi signifikan untuk meningkatkan volume perdagangan dan investasi bilateral," kata Anutin.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.