Garda Revolusi Iran Dilaporkan Menahan Mantan Presiden Ahmadinejad Atas Dugaan Jadi Aset Intelijen Mossad

Selasa, 14 Jul 2026, 11:27 WIB

TEHERAN – Sebuah kisah spionase yang nyaris menyerupai film thriller mengguncang Iran. Mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad baru-baru ini dilaporkan ditempatkan dalam tahanan rumah setelah aparat keamanan Iran mengungkap dugaan kontaknya dengan Israel dan badan intelijen Mossad.

Dari The Jerusalem Post, laporan tersebut pertama kali diungkap The New York Times dengan mengutip empat pejabat senior Iran. Menurut laporan itu, Ahmadinejad kini berada di bawah pengawasan sayap intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Ket. Foto: Israel dilaporkan selama bertahun-tahun menjalankan operasi rahasia untuk mendekati dan merekrut Ahmadinejad sebagai aset intelijen, bahkan muncul dugaan rencana untuk menjadikannya figur pemimpin Iran apabila terjadi perubahan rezim di Teheran. — Sumber: Istimewa

Namun, kisah di balik penahanannya disebut jauh lebih besar. Israel dilaporkan selama bertahun-tahun menjalankan operasi rahasia untuk mendekati dan merekrut Ahmadinejad sebagai aset intelijen. Pada tahap berikutnya, bahkan muncul dugaan rencana untuk menjadikannya figur pemimpin Iran apabila terjadi perubahan rezim di Teheran.

Salah satu babak paling dramatis dari operasi tersebut disebut berlangsung pada awal 2024. Seorang pejabat senior pemerintah Hungaria meminta Gergely Deli, Rektor Universitas Pelayanan Publik Ludovika di Budapest, mengundang Ahmadinejad menghadiri konferensi mengenai perubahan iklim.

Namun menurut laporan itu, konferensi tersebut diduga hanya menjadi kedok untuk membuka jalur pertemuan rahasia antara Ahmadinejad dan pejabat intelijen Israel.

Deli mengatakan dirinya diberi tahu mengenai tujuan sebenarnya dari pertemuan tersebut. Meski menyadari risiko terhadap reputasi pribadi dan universitasnya, ia tetap bersedia mengundang Ahmadinejad karena menilai dialog antara dua pihak yang bermusuhan tetap layak difasilitasi.

Sejumlah mantan pejabat Amerika Serikat bahkan mengatakan kepala Mossad saat itu, David Barnea, secara pribadi melakukan perjalanan ke Budapest untuk bertemu Ahmadinejad.

Kontak rahasia itu disebut tidak berhenti di sana. Israel dilaporkan melakukan sejumlah pembayaran kepada Ali Akbar Javanfekr, juru bicara sekaligus orang dekat Ahmadinejad. Agen-agen Israel juga diklaim beberapa kali bertemu dengannya.

Situasi kemudian berubah drastis pada Februari 2026. Menurut laporan The New York Times, kompleks kediaman Ahmadinejad terkena serangan udara Israel yang menargetkan pengawal serta kendaraan lapis bajanya.

Dalam episode yang paling mengejutkan, Ahmadinejad disebut kemudian dijemput oleh agen Mossad dan dibawa ke sebuah rumah persembunyian rahasia. Belum jelas apa yang terjadi setelah itu. Ia dilaporkan meninggalkan lokasi tersebut karena alasan yang tidak diketahui dan sempat menghilang dari perhatian publik.

Ahmadinejad baru kembali terlihat ketika menghadiri pemakaman mantan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada 6 Juli 2026.

Tak lama kemudian, menurut pejabat senior Iran yang dikutip dalam laporan tersebut, mantan presiden itu ditahan oleh intelijen IRGC dan ditempatkan di bawah tahanan rumah.

Motif Ahmadinejad dalam dugaan hubungan tersebut juga menjadi sorotan. Abdolreza Davari, mantan penasihat dan rekannya, meragukan bahwa uang menjadi alasan utama mantan presiden itu bersedia bekerja sama dengan Israel.

Menurut Davari, Ahmadinejad memiliki jaringan ekonomi yang luas dan tidak membutuhkan uang. Ia menilai kekuasaan kemungkinan menjadi motivasi yang jauh lebih kuat.

Seorang rekan Ahmadinejad lainnya juga mengklaim bahwa mantan presiden tersebut pernah berbicara mengenai ambisinya kembali memimpin Iran dengan bantuan kekuatan asing. Setelah tiga kali didiskualifikasi dari pemilihan presiden, Ahmadinejad disebut semakin kehilangan kepercayaan terhadap sistem politik Iran.

Ia juga dilaporkan menyimpan kekecewaan mendalam terhadap sejumlah tokoh dalam rezim, termasuk Khamenei. Bahkan, menurut salah seorang rekannya, Ahmadinejad pernah menyatakan bahwa jika kembali berkuasa, ia akan berupaya menormalisasi hubungan Iran dengan Israel melalui kerangka Kesepakatan Abraham.

Mossad dan Javanfekr menolak memberikan komentar kepada The New York Times mengenai laporan tersebut.

Jika seluruh klaim ini terkonfirmasi, kasus Ahmadinejad akan menjadi salah satu operasi intelijen paling mengejutkan dalam sejarah modern Timur Tengah. Seorang mantan presiden Iran yang selama bertahun-tahun dikenal lewat retorika kerasnya terhadap Israel kini justru dituduh terlibat dalam kontak rahasia dengan musuh bebuyutan negaranya sendiri.

  • Perang Iran

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.