Kenaikan Harga Obat Membebani Masyarakat, Penyakit Ringan Justru Paling Banyak Diklaim
Senin, 13 Jul 2026, 18:21 WIBJAKARTA â Kenaikan harga obat dinilai semakin berpotensi membebani pengeluaran masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan pengobatan rutin maupun keluarga yang kerap menghadapi penyakit umum. Data Allianz Indonesia menunjukkan tren kenaikan harga obat telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir, bahkan sebelum pemerintah menetapkan kebijakan pembatasan penyesuaian harga obat komersial.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan pada 11 Juni 2026 menetapkan batas maksimal penyesuaian harga obat komersial swasta sebesar 20 persen. Kebijakan tersebut diterapkan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi masyarakat dari lonjakan harga obat yang tidak terkendali.
Namun, berdasarkan data klaim Allianz Indonesia, kenaikan harga obat sebenarnya telah terjadi sejak 2022. Peningkatan paling tinggi tercatat pada 2023, ketika harga obat naik sekitar 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, harga obat mengalami kenaikan sekitar 6 hingga 15 persen setiap tahun.
Chief Technical Officer Allianz Life Indonesia Brandon Heng mengatakan tren tersebut menjadi bagian dari meningkatnya biaya kesehatan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Harga obat memang bukan komponen terbesar dalam inflasi medis.
âNamun berdasarkan data kami, harga obat terus meningkat sekitar 6-15 persen setiap tahunnya. Karena itu, kami mengapresiasi upaya Kementerian Kesehatan dalam menetapkan batas maksimal penyesuaian harga obat, karena kebijakan ini turut membantu mengendalikan tekanan inflasi medis," ujar Brandon Heng melalui keterangannya pada hari Senin (13/7).
Inflasi medis terus meningkat
Menurut Allianz, kenaikan harga obat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing hingga tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku dan obat impor.
Di sisi lain, inflasi medis di Indonesia secara konsisten berada di atas tingkat inflasi umum. Berdasarkan proyeksi MMB Asia Health Trends, inflasi medis nasional diperkirakan mencapai 17,6 persen pada 2026.
Secara global, kenaikan biaya kesehatan juga dipicu oleh meningkatnya harga layanan medis, perkembangan teknologi kesehatan yang semakin canggih, serta meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak adalah penderita penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit tidak menular lainnya yang membutuhkan konsumsi obat secara rutin dalam jangka panjang.
Data Allianz Indonesia menunjukkan bahwa sepanjang 2025 harga obat untuk terapi diabetes meningkat sekitar 10 persen, sedangkan obat hipertensi mengalami kenaikan hingga 15 persen.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan beban pengeluaran rumah tangga karena biaya pengobatan harus dikeluarkan secara berulang dalam waktu yang panjang.
Penyakit ringan justru paling banyak membutuhkan obat
Meski penyakit kronis memiliki kebutuhan pengobatan jangka panjang, data Allianz menunjukkan tagihan obat terbesar justru berasal dari penyakit yang umum dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Sepanjang 2025, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit dengan jumlah tagihan obat rawat jalan terbanyak, mencapai 32.519 kasus. Di posisi berikutnya terdapat radang tenggorokan sebanyak 8.581 kasus, serta demam dan pilek sebanyak 7.728 kasus.
Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia dr. Tubagus Argie mengatakan masyarakat sering kali lebih fokus mempersiapkan biaya ketika menghadapi penyakit berat, padahal penyakit yang dianggap ringan juga dapat menimbulkan beban finansial yang tidak kecil.
"Masyarakat sering kali hanya mengantisipasi biaya ketika menghadapi penyakit berat. Padahal, penyakit yang umum terjadi seperti ISPA, radang tenggorokan, maupun demam dan pilek juga tetap membutuhkan pengobatan. Ketika penyakit tersebut terjadi berulang, terutama dalam satu keluarga, akumulasi biayanya dapat menjadi cukup signifikan," kata dr. Argie.
ISPA masih mendominasi klaim kesehatan
Temuan tersebut juga tercermin pada data klaim kesehatan Allianz Indonesia selama kuartal pertama 2026.
ISPA kembali menjadi penyakit yang paling banyak diklaim nasabah dengan total 10.026 kasus. Setelah itu disusul diare sebanyak 3.741 kasus, radang tenggorokan 2.795 kasus, demam 2.394 kasus, dan batuk pilek sebanyak 2.369 kasus.
Menurut Allianz, tingginya jumlah klaim tersebut menunjukkan bahwa penyakit yang sering dianggap ringan tetap menjadi alasan utama masyarakat mengakses layanan kesehatan.
Selain biaya konsultasi dokter maupun tindakan medis, kebutuhan obat menjadi komponen pengeluaran yang sering kali luput diperhitungkan oleh masyarakat ketika menyusun anggaran kesehatan keluarga.
"Hal ini menjadi pengingat bahwa ketika seseorang jatuh sakit, biaya yang dikeluarkan bukan hanya berasal dari tindakan medis atau biaya konsultasi dokter, tetapi juga dari kebutuhan obat yang sering kali luput dari perhitungan. Di tengah tren kenaikan biaya kesehatan, masyarakat perlu mempersiapkan perlindungan kesehatan sebagai langkah antisipasi terhadap risiko kesehatan sekaligus beban finansial akibat kebutuhan pengobatan yang tidak terduga," ujar dr. Argie.
Data tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga obat tidak hanya berdampak pada pasien dengan penyakit kronis, tetapi juga dapat dirasakan oleh masyarakat umum yang mengalami penyakit infeksi ringan secara berulang. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri di tengah meningkatnya inflasi medis dan biaya layanan kesehatan dalam beberapa tahun terakhir.
- Inflasi
- Diabetes
- ISPA
- Pasien Rawat Jalan
- klaim asuransi
- allianz indonesia
- layanan kesehatan
- Asuransi Kesehatan
- harga obat
- Masyarakat Indonesia
- Kementerian Kesehatan
- Biaya Kesehatan
- hipertensi
- Penyakit Kronis
- kesehatan Indonesia
- inflasi medis
- Radang Tenggorokan
- Perlindungan Kesehatan
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Kemenkes: Akses Kesehatan yang Setara Melindungi Kelompok Rentan Penderita TB dan HIV
-
BMHS Bangun Fasilitas Skybridge untuk Tingkatkan Mobilitas Pasien dan Tenaga Medis
-
Kementerian Kebudayaan Perkuat Pelestarian Tradisi Marapu di NTT
-
Bahaya Tersembunyi Bahan Pengawet di Makanan Kemasan, Picu Risiko Hipertensi hingga Serangan Jantung
-
Melalui Program Longevity 5.0, Kita Bisa Manfaatkan Layanan Kesehatan Jangka Panjang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.