Lestari Moerdijat: Butuh Komitmen dan Langkah Nyata Wujudkan Lingkungan Pendidikan Aman Serta Nyaman
Senin, 13 Jul 2026, 18:03 WIBJAKARTA - Upaya mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman membutuhkan komitmen serta langkah nyata dari sejumlah pihak terkait.
"Sebuah gerakan untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman harus mendapat dukungan penuh dari pihak-pihak yang terkait, termasuk dari keluarga dan masyarakat," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/7).
Pemerintah berupaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan pesantren dan madrasah yang ramah anak melalui peluncuran Gerakan Nasional #RuangAmanNyamanAnak (Gernas RANA) di Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, padaMinggu (12/7).
Gerakan yang diluncurkan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno, diharapkan mampu menghadirkan ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan terhadap anak.
Gerakan ini menargetkan 42 ribu pondok pesantren dan 80 ribu madrasah di seluruh Indonesia untuk menerapkan lima pilar utama dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman, yaitu: penguatan regulasi, pencegahan kekerasan, penyediaan sarana aman, layanan pengaduan berpihak korban, serta kolaborasi lintas sektor.
Menurut Lestari, sejumlah langkah segera untuk mewujudkan target yang dicanangkan tersebut harus menjadi pemahaman dan komitmen bersama para penyelenggara pendidikan, pengelola pondok pesantren dan madrasah, serta masyarakat.
Rerie, sapaan akrab Lestari, berpendapat bahwa upaya percepatan pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan bukan tanpa alasan.
Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, tambah Rerie, sepanjang 2025 terjadi 475 kasus kekerasan berbasis gender di lingkungan pendidikan dengan korban mencapai 972 orang.
Khusus di lingkungan pesantren, Komnas Perempuan menerima laporan 17 kasus sepanjang 2020-2024.
Selain itu, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) juga mencatat tren peningkatan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, yaitu 15 kasus pada 2023, meningkat menjadi 36 kasus pada 2024, dan melonjak menjadi 60 kasus sepanjang 2025.
Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI itu menilai, tantangan meningkatnya ancaman kekerasan itu harus direspons dengan segera dalam bentuk langkah antisipasi yang tepat.
Menurut Rerie, upaya mencegah perundungan di lingkungan pendidikan, misalnya, tidak cukup dengan sosialisasi antikekerasan semata. Harus diimbangi dengan upaya aktif membangun sikap dan budaya toleransi di sekolah dan masyarakat.
Selain itu, jelas dia, upaya pencegahan tidak cukup hanya bertumpu pada kesiapan tenaga pendidik, tetapi juga memerlukan peran aktif masyarakat dan keluarga dalam membentuk karakter anak sejak dini.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mengapresiasi Gernas RANA yang diinisiasi pemerintah untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi generasi penerus bangsa.
Namun, tegas Rerie, keberhasilan gerakan tersebut bergantung pada komitmen kuat semua pihak untuk menjadikan perlindungan anak sebagai prioritas utama.
- Lestari Moerdijat
- Lingkungan Pendidikan Aman dan Nyaman
Redaktur: Sriyono
Penulis: Sriyono
Berita Terkait:
-
Serie A Italia: Roma Mengamuk, Fiorentina Dihajar Empat Gol Tanpa Balas
-
KAI Daop 7: 45.999 orang gunakan KA saat libur Kenaikan Isa Almasih
-
Koops TNI Habema Gelar Bhakti Pertiwi Hardiknas 2026 di SDN 1 Pomako
-
Tingkat Kriminal Sangat Parah, Warga Merasa Tidak Aman Tinggal di Jakarta Barat
-
Belanja Kemenkes di NTT Capai Rp45,87 Miliar Triwulan I, Dukung Layanan Kesehatan dan Pendidikan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.