• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Peneliti BRIN Ungkap Rahas...

Peneliti BRIN Ungkap Rahasia Hutan Gambut dalam Kendalikan Hujan Tropis

Senin, 13 Jul 2026, 18:17 WIB

JAKARTA - Selama ini hutan rawa gambut lebih dikenal sebagai penyimpan karbon terbesar di dunia dan sumber kabut asap ketika terbakar. Namun, penelitian terbaru mengungkap fakta baru bahwa ekosistem gambut juga berfungsi sebagai "mesin uap" alami yang memperkuat pembentukan hujan dan membantu menjaga kestabilan iklim di wilayah tropis.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional Climate Dynamics terbitan Springer Nature pada 2026 (https://doi.org/10.1007/s00382-026-08274-1). Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, selaku principal investigator penelitian tersebut menjelaskan bahwa hasil riset ini mengubah cara pandang terhadap fungsi ekologis hutan rawa gambut.

Ket. Foto: — Sumber: Humas BRIN

Menurut dia, selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada kemampuan gambut menyimpan karbon, padahal ekosistem tersebut juga memainkan peran penting dalam mengatur siklus hidrologi dan pembentukan hujan.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa hutan rawa gambut bukan hanya gudang karbon, tetapi juga berfungsi seperti mesin uap alami yang memperkuat sirkulasi angin darat-laut dan membantu menjaga ritme hujan harian di wilayah pesisir tropis," ujar Albertus, Senin (13/7).

Penelitian dilakukan oleh tim gabungan BRIN bersama Kyoto University, Kobe University, Hokkaido University, IPB University, dan GMIT Mongolia dengan lokasi studi di Pulau Bengkalis, Provinsi Riau. Pulau dataran rendah tersebut dipilih karena hampir seluruh wilayahnya masih didominasi ekosistem rawa gambut alami sehingga menjadi laboratorium alam untuk memahami interaksi antara lahan gambut dan atmosfer.

Untuk memperoleh data yang sangat rinci lanjut Albertus, tim memasang radar cuaca polarimetrik X-band buatan Jepang di kompleks STAIN Bengkalis sejak Februari 2020. Radar tersebut mampu memetakan distribusi hujan setiap lima menit dengan resolusi ratusan meter dalam radius sekitar 50 kilometer, sebuah tingkat ketelitian yang masih sangat jarang tersedia di Indonesia.

Albertus mengungkapkan, hasil pengamatan sepanjang Mei hingga Desember 2024 menunjukkan pola hujan harian yang sangat konsisten. Curah hujan di wilayah pedalaman Bengkalis umumnya terjadi pada siang hingga sore hari, sedangkan kawasan pesisir dan laut mengalami hujan pada tengah malam hingga menjelang subuh. Pola tersebut mencerminkan sirkulasi angin darat-laut yang bekerja secara teratur setiap hari.

Untuk memahami penyebabnya, para peneliti mengembangkan model matematika atmosfer menggunakan tiga skenario berbeda, yaitu wilayah pantai tanpa pulau, wilayah dengan pulau dan selat, serta wilayah pulau gambut yang mempertimbangkan pengaruh kelembapan khas gambut.

“Hasil simulasi menunjukkan bahwa keberadaan Pulau Bengkalis menciptakan konvergensi angin dari laut dan selat secara bersamaan sehingga pembentukan awan hujan menjadi jauh lebih kuat,” tutur dia.

Albertus menjelaskan bahwa karakteristik unik lahan gambut yang selalu lembap menghasilkan pasokan uap air dalam jumlah besar. Ketika uap air tersebut mengembun menjadi awan, panas laten yang dilepaskan akan memperkuat arus udara naik sehingga menarik lebih banyak udara lembap dari laut menuju daratan. Mekanisme inilah yang menyebabkan sirkulasi atmosfer menjadi lebih kuat dibandingkan wilayah non-gambut.

"Pulau gambut ternyata memperkuat sistem sirkulasi atmosfer secara alami. Semakin banyak uap air yang dilepaskan vegetasi gambut, semakin besar peluang terbentuknya awan dan hujan. Hasil ini konsisten dengan pengamatan radar maupun simulasi atmosfer yang kami lakukan," ungkap dia.

Temuan tersebut juga memberikan bukti ilmiah baru terhadap konsep biotic pump atau "pompa biotik", yakni hipotesis yang menyatakan bahwa hutan melalui proses evapotranspirasi mampu membantu menggerakkan sirkulasi atmosfer dan memengaruhi distribusi hujan regional. Selama ini mekanisme tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan atmosfer, namun hasil penelitian di Bengkalis memperlihatkan pola yang konsisten antara teori, model, dan pengamatan radar.

Menurut Albertus, implikasi penelitian ini sangat penting bagi kebijakan pengelolaan lahan gambut. Jika gambut dikeringkan, ditebang, atau terbakar, kerusakan yang terjadi bukan hanya berupa hilangnya cadangan karbon, tetapi juga hilangnya fungsi ekologis sebagai pengatur hujan.

"Menjaga gambut bukan hanya menjaga karbon, tetapi juga menjaga hujan. Degradasi gambut berpotensi mengganggu siklus hidrologi regional dan dalam jangka panjang dapat memengaruhi stabilitas sistem iklim tropis," kata dia.

Tim peneliti merekomendasikan pengukuran langsung fluks panas laten di lapangan menggunakan metode eddy covariance serta memasukkan mekanisme pengaruh gambut terhadap pembentukan hujan ke dalam model iklim global. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan akurasi prediksi curah hujan di kawasan Benua Maritim Indonesia yang selama ini masih menyimpan berbagai ketidakpastian.

Albertus menegaskan bahwa hasil penelitian ini memperlihatkan peran strategis pulau-pulau gambut Indonesia dalam menjaga keseimbangan iklim regional. Menurutnya, perlindungan hutan rawa gambut tidak hanya penting untuk mitigasi perubahan iklim melalui penyimpanan karbon, tetapi juga untuk mempertahankan mekanisme alami pembentukan hujan yang menopang kehidupan masyarakat.

"Pulau-pulau gambut dan hutan rawa gambut yang tersebar di tepi Pantai timur Sumatera, Kalimantan dan Papua, mungkin tampak kecil di peta, tetapi kontribusinya terhadap sistem iklim tropis sangat besar. Menjaga gambut berarti menjaga air, menjaga hujan, dan menjaga ketahanan Indonesia menghadapi perubahan iklim," ujar Albertus. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.