Potensi Daerah Digenjot, Sumenep Percepat Pengembangan 50 Desa Wisata

Kamis, 09 Jul 2026, 13:50 WIB

SUMENEP – Pengembangan desa wisata menjadi strategi penting untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata sekaligus memperkuat potensi lokal.

Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh keindahan destinasi, tetapi juga oleh kualitas infrastruktur, kapasitas sumber daya manusia, promosi digital, serta keterlibatan aktif masyarakat.

Ket. Foto: Objek wisata pantai di salah satu desa wisata di Sumenep, yakni di Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Sumenep. — Sumber: ANTARA/ HO-Pemkab Sumenep.

Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, desa wisata dapat menjadi penggerak ekonomi baru yang meningkatkan pendapatan warga sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur mengembangkan desa wisata di 50 desa, sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian warga dan mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah itu.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Pemkab Sumenep Faruk Hanafi di Sumenep, Kamis (9/7), mengatakan pengembangan wisata desa itu dilakukan berdasarkan potensi yang ada di desa itu.

"Awalnya jumlah desa yang menetapkan pengembangan ekonomi desa di sektor wisata hanya sebanyak 27 desa, namun dalam perkembangannya, kini menjadi 50 desa," katanya.

Ia menjelaskan, desa-desa yang memiliki pengembangan wisata desa itu yang memiliki potensi alam, sehingga pengembangan wisata desa berbasis wisata alam.

Ia mencontohkan seperti Desa Lobuk, Kecamatan Bluto Sumenep.

"Desa ini memang terkenal dengan kondisi pantai yang indah, sejuk dan menjadi tempat favorit bagi warga sekitar untuk memancing di sekitar bibir pantai," katanya.

Aparat desa setempat, sambung dia, lalu mengembangkan potensi sumber daya alam yang ada di desa itu menjadi lebih indah dan melakukan pembangunan di sejumlah titik, sehingga menarik minat warga sekitar untuk berkunjung ke objek wisata yang ada di desa itu.

Selain karena memiliki potensi sumber daya alam yang memadai, sebagian desa yang telah menetapkan sebagai desa wisata karena potensi budaya yang ada di desa itu.

Salah satunya, seperti di Desa Aengtongtong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep.

Menurut Kepala Disbudporapar Pemkab Sumenep Faruk Hanafi, Desa Aengtongtong merupakan salah satu desa yang menjadi pusat kerajinan keris terbesar di Kabupaten Sumenep.

Warga yang datang ke desa itu bisa menyaksikan secara langsung proses pembuatan keris yang dilakukan oleh warga di desa itu.

"Jadi, kalau Desa Lobuk pengembangan objek wisata pada sumber daya alam yang ada di desa tersebut, di Aengtongtong pengembangan objek wisata pada budaya atau wisata budaya," katanya.

Faruk menuturkan, Desa Aengtongtong juta telah dinobatkan sebagai desa wisata dengan empu (perajin keris) terbanyak di dunia oleh UNESCO, karena memiliki sekitar 446 perajin keris aktif.

Desa ini juga tercatat sebagai peraih juara pertama dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022, sehingga pemerintah memberikan perhatian khusus akan keberlangsungan desa ini sebagai objek wisata budaya di Kabupaten Sumenep.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.