Kerapian Permainan Spanyol Hadapi Mental Baja Belgia

Kamis, 09 Jul 2026, 06:36 WIB

LOS ANGELES – Pertemuan Spanyol melawan Belgia dalam laga babak perempat final Piala Dunia 2026 di Los Angeles Stadium, Sabtu (11/7) dini hari WIB, menjanjikan pertandingan sarat gengsi dua kekuatan utama Eropa. Laga ini juga menghadirkan benturan dua era berbeda. Generasi baru Spanyol yang tengah menanjak menghadapi generasi emas Belgia yang kemungkinan menjalani panggung terakhir mereka di Piala Dunia.

Kedua tim melangkah ke fase gugur sebagai juara grup tanpa tersentuh kekalahan. Spanyol tampil meyakinkan dengan menyingkirkan Austria 3-0 di babak 32 besar. Kemudian, melewati laga sengit sesama negara Semenanjung Iberia melawan Portugal di 16 besar. Gol dramatis Mikel Merino di masa injury time memastikan kemenangan 1-0 sekaligus membawa La Roja menjalani laga gugur ketiga secara beruntun melawan sesama wakil Eropa.

Ket. Foto: Para pemain Spanyol mengikuti sesi latihan MD-1 di Cotton Bowl di Dallas pada 7 Juli 2026, saat turnamen Piala Dunia 2026. — Sumber: Paul ELLIS / AFP

Belgia menempuh jalan yang lebih berliku. Sempat tertinggal dua gol saat menghadapi Senegal di babak 32 besar, tim berjuluk The Red Devils bangkit secara luar biasa untuk menang 3-2 melalui perpanjangan waktu. Kepercayaan diri itu berlanjut ketika mereka membungkam tuan rumah Amerika Serikat 4-1 di babak 16 besar lewat dua gol cepat Charles De Ketelaere.

Bagi Belgia, turnamen ini berpotensi menjadi penampilan terakhir sejumlah pemain yang membentuk generasi emas mereka. Kevin De Bruyne masih menjadi otak permainan di lini tengah, Thibaut Courtois tetap menjadi benteng kokoh di bawah mistar, sementara Romelu Lukaku terus membuktikan ketajamannya di depan gawang.

Lukaku telah mengoleksi tiga gol sepanjang turnamen ini sehingga total mencetak delapan gol di Piala Dunia, menyamai catatan legenda seperti Diego Maradona, Rudi Voller, dan Rivaldo. Pengalaman para pemain senior itu diharapkan mampu menjadi penyeimbang semangat para pemain muda Belgia yang mulai mengambil peran penting.

Namun, Spanyol datang dengan wajah baru yang tak kalah menjanjikan. Rodri menjadi jangkar permainan di lini tengah, Pedri dan Dani Olmo menghadirkan kreativitas, sedangkan Lamine Yamal terus memperlihatkan mengapa dirinya dianggap sebagai salah satu talenta paling bersinar di turnamen ini. Kombinasi pengalaman dan energi muda membuat juara dunia 2010 itu diyakini siap kembali berburu gelar kedua.

“Belgia adalah lawan yang sangat berpengalaman dan memiliki pemain-pemain kelas dunia. Mereka mampu mengubah jalannya pertandingan kapan saja. Kami harus menguasai bola, bermain sabar, dan tetap setia pada identitas permainan kami. Kami menghormati Belgia, tetapi kami datang untuk menang dan melangkah ke semifinal,” ujar pelatih Spanyol, Luis de la Fuente.

Pelatih Belgia, Rudi Garcia, menilai duel melawan Spanyol menjadi ujian terbesar timnya sejauh ini. “Spanyol mungkin tampil paling konsisten sepanjang turnamen, tetapi kami sudah menunjukkan karakter ketika bangkit melawan Senegal dan mengalahkan Amerika Serikat. Kami memiliki pengalaman, mentalitas, dan kualitas untuk bersaing. Ini mungkin kesempatan terakhir bagi beberapa pemain kami untuk meraih sesuatu yang istimewa, sehingga motivasi mereka sangat besar,” ujar Garcia.

Seimbang

Secara historis, pertemuan kedua negara di Piala Dunia berlangsung seimbang. Belgia lebih dulu menang di perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Saat itu Jan Ceulemans membawa Belgia unggul sebelum Juan Señor menyamakan kedudukan lima menit menjelang waktu normal berakhir. Setelah skor tetap imbang hingga perpanjangan waktu, Belgia menang 5-4 melalui adu penalti berkat eksekusi penentu Leo Van der Elst.

Empat tahun kemudian, Spanyol membalas kekalahan tersebut di fase grup Piala Dunia 1990 di Italia. Michel membuka keunggulan melalui penalti, Patrick Vervoort sempat menyamakan skor untuk Belgia, sebelum Alberto Gorriz memastikan kemenangan 2-1 bagi La Roja. Hasil itu mengantar Spanyol menjadi juara Grup E, sedangkan Belgia lolos sebagai runner-up.

Dari sisi performa terkini, Spanyol lebih konsisten. Tim asuhan De la Fuente mencatat empat kemenangan beruntun dan belum terkalahkan dalam 35 pertandingan waktu normal. Pertahanan mereka juga tampil impresif dengan lima clean sheet berturut-turut sepanjang turnamen.

Belgia memang juga belum tersentuh kekalahan dalam 18 pertandingan terakhir, tetapi tiga hasil imbang dalam lima laga terakhir menunjukkan mereka belum seimpresif calon lawannya. Meski demikian, produktivitas lini depan tetap menjadi ancaman serius. Belgia telah mencetak 13 gol dalam lima pertandingan terakhir, dengan rata-rata 2,6 gol per laga.

Charles De Ketelaere menjadi pemain yang paling mencuri perhatian setelah mencetak dua gol ke gawang Amerika Serikat. Penyerang Atalanta itu diperkirakan kembali menjadi pilihan utama bersama Lukaku untuk membongkar pertahanan Spanyol yang sejauh ini belum kebobolan.

Di atas kertas, Spanyol sedikit lebih diunggulkan berkat keseimbangan permainan, kedalaman skuad, dan konsistensi sepanjang turnamen. Namun, pengalaman Belgia dalam laga-laga besar membuat laga ini diprediksi berlangsung ketat hingga menit-menit akhir. Pemenang pertandingan akan menghadapi pemenang laga Prancis melawan Maroko di babak semifinal.  ben/G-1

Perkiraan Formas

Spanyol 4-2-3-1

Unai Simon

Porro, Cubarsi, Laporte, Cucurella

Rodri, Pedri

Lamine Yamal, Dani Olmo, Baena

Oyarzabal

Belgia 4-3-3

Courtois

Castagne, Mechele, Ngoy, De Cuyper

Tielemans, Raskin, Vanaken

Lukebakio, De Ketelaere, Trossard

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.