Pembangunan Berkelanjutan Butuh SDM Unggul

Senin, 10 Agu 2026, 03:00 WIB

Dunia usaha, investor, lembaga keuangan, akademisi, komunitas, masyarakat sipil, dan generasi muda memiliki peran penting dalam mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Jakarta – Penguatan sumber daya manusia (SDM) perlu menjadi salah satu prioritas dalam mendorong pembangunan berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing industri Indonesia. Pembangunan tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi harus mampu menciptakan SDM yang adaptif, kompeten, dan siap menghadapi perubahan teknologi serta tuntutan industri hijau.

Ket. Foto: Esther Sri Astuti Direktur Eksekutif Indef - Kebijakan mendorong peningkatan kontribusi industri manufaktur adalah kebijakan yang harus dilakukan. — Sumber: antara

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard mengatakan keberlanjutan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem perencanaan pembangunan nasional.

“Kemakmuran yang berkelanjutan hanya dapat dicapai apabila pertumbuhan ekonomi, inklusi sosial, dan kelestarian lingkungan saling memperkuat, bukan saling mengorbankan,” ujarnya, seperti diberitakan Antara di Jakarta.

Menurut Febrian, pembangunan berkelanjutan tidak seharusnya dipandang sebagai pilihan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Indonesia perlu merancang pembangunan yang mampu menghadirkan keduanya secara bersamaan, termasuk melalui industri yang menciptakan nilai tambah sekaligus menekan emisi, pertanian produktif yang tetap menjaga ekosistem, serta pembangunan kota yang meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup.

Untuk mewujudkan hal tersebut, ia menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dengan dunia usaha, investor, lembaga keuangan, perguruan tinggi, lembaga riset, masyarakat sipil, komunitas lokal, dan generasi muda.

“Keberlanjutan tidak boleh menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Dunia usaha, investor, lembaga keuangan, perguruan tinggi, lembaga riset, masyarakat sipil, komunitas lokal, hingga generasi muda yang penuh inovasi, semuanya memiliki peran yang sama pentingnya,” katanya.

Sejalan dengan itu, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas Leonardo A.A. Teguh Sambodo menilai pembangunan berkelanjutan membutuhkan talenta dan SDM yang mampu bekerja secara terpadu.

“Pembangunan berkelanjutan menuntut kita untuk bekerja secara lebih terpadu dan saling menguatkan dalam pemanfaatan sumber daya agar lebih efektif, kolaborasi lebih berdampak nyata, serta keberanian untuk terus mengkoreksi dan memperbaiki pendekatan yang belum menghasilkan perubahan sebagaimana diharapkan,” ujarnya.

Ia mengatakan pembangunan berkelanjutan harus diterjemahkan ke dalam kebijakan, program, layanan, investasi, serta perubahan tata kelola yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Prinsip no one left behind juga harus menjadi ukuran keberhasilan pembangunan, termasuk dengan memastikan kelompok miskin, perempuan, anak, penyandang disabilitas, masyarakat adat, dan masyarakat di wilayah tertinggal memperoleh akses serta kesempatan yang setara.

Kebutuhan Industri

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mendorong pemerintah memperkuat kompetensi SDM untuk meningkatkan daya saing industri manufaktur dan memperluas pasar ekspor.

Menurut Esther, Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya alam yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Namun, peluang tersebut harus didukung SDM yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri modern.

“Saya rasa kebijakan mendorong peningkatan kontribusi industri manufaktur adalah kebijakan yang harus dilakukan, mengingat Indonesia punya sumber daya alam melimpah sehingga potensi untuk memperoleh nilai tambah dengan mengolah bahan baku menjadi produk final sangat mungkin dilakukan,” ujarnya.

Esther menilai penyelarasan kurikulum pendidikan vokasi dan politeknik dengan kebutuhan industri perlu diperkuat melalui pendekatan link and match. Dengan demikian, lulusan pendidikan vokasi tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga keterampilan teknis yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.