Bekasi Mulai Tinggalkan Cara Bertani Konvensional, Teknologi Baru Ditargetkan Dongkrak Panen hingga 10 Ton per Hektare
Senin, 10 Agu 2026, 02:40 WIBKabupaten Bekasi - Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mulai menerapkan sistem pertanian modern melalui program Pertanian Modern-Advance Agriculture System (PM-AAS) sebagai upaya meningkatkan produktivitas padi sekaligus mengubah pola tanam konvensional.
Program tersebut diterapkan melalui skema tanam benih langsung (Tabela) dengan lahan percontohan seluas 4.000 meter persegi milik Kelompok Tani Warudoyong I, Desa Sukabungah, Kecamatan Bojongmangu.
"Untuk uji coba sekaligus percontohan, sistem ini mulai diterapkan pada lahan seluas 4.000 meter persegi sebagai tahap awal modernisasi budidaya padi," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi Abdillah Majid di Cikarang, Minggu (9/8).
Ia menjelaskan PM-AAS merupakan inovasi modernisasi pertanian yang melibatkan penyuluh dan kelompok tani untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani. Melalui sistem tersebut, petani diperkenalkan pada pola budidaya yang lebih terukur, mulai dari pengolahan lahan, pemeriksaan pH tanah, pemupukan sesuai dosis hingga pengendalian gulma.
Pada tahap awal, lahan percontohan menggunakan varietas padi Inpari 33 dengan kebutuhan benih sekitar 15 kilogram. Hasil panen ditargetkan mencapai sedikitnya empat ton gabah dari lahan tersebut.
Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Bojongmangu Ubuh Buhori mengatakan pengujian tingkat keasaman tanah dilakukan sebelum penanaman. Hasil pengujian menunjukkan pH tanah berada pada angka 5,5 sehingga diperlukan pemberian kapur dolomit sebanyak 500-1.000 kilogram per hektare.
"Untuk lahan percontohan seluas 4.000 meter persegi, diaplikasikan sekitar 500 kilogram dolomit dalam dua tahap, yakni saat pengolahan tanah pertama dan tiga hari sebelum tanam," katanya.
Sehari sebelum penanaman, petani juga melakukan penyemprotan herbisida untuk mengendalikan gulma. Setelah benih ditanam, lahan tidak boleh digenangi selama lima hari pertama guna mencegah benih membusuk dan mengurangi risiko serangan penyakit.
"Selanjutnya dilakukan pemantauan pertumbuhan tanaman, kemudian pemupukan pertama diberikan pada umur sekitar 10 hari sesuai rekomendasi teknis," ujar Ubuh.
Menurut dia, kebutuhan pupuk dalam sistem PM-AAS memang lebih tinggi dibandingkan pola konvensional karena menggunakan jarak tanam yang lebih rapat. Namun, penerapan teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.
Pihaknya menargetkan produktivitas padi melalui sistem PM-AAS dapat mencapai 10 ton per hektare, atau sekitar dua kali lipat dari rata-rata hasil panen di wilayah tersebut yang masih berkisar lima ton per hektare.
Lahan di Bojongmangu sengaja dijadikan demonstration plot (demplot) agar petani dapat melihat secara langsung perbedaan antara pola budidaya tradisional dan sistem pertanian modern.
"Harapannya setiap desa nanti memiliki minimal dua hektare lahan demonstrasi sehingga semakin banyak petani yang terdorong meninggalkan pola konvensional dan beralih ke sistem pertanian modern," kata Ubuh.
Ketua Kelompok Tani Warudoyong I Yusup Saepuloh menyambut baik penerapan program tersebut. Menurut dia, PM-AAS menjadi langkah awal untuk mengubah pola bertani yang selama ini masih banyak mengandalkan kebiasaan turun-temurun.
"Kami berharap hasil uji coba ini bisa menjadi acuan sebelum diterapkan lebih luas kepada seluruh anggota kelompok tani. Melalui penerapan teknologi, semoga hasil panen meningkat signifikan," ujarnya.
- Pemkab Bekasi
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pecinan Glodok Tetap Jadi Wisata Unggulan
-
Bahaya Internet Mengintai, Pemkab Bekasi Minta Guru dan Orangtua Lindungi Anak dengan Kegiatan Edukasi
-
Wagub Rano Perkuat Kerja Sama dengan Netflix demi Dongkrak Ekonomi Kreatif Jakarta
-
Korea Utara Tegaskan Status Nuklirnya 'Tidak Dapat Diubah', Tanggapi Pertemuan Sekutu AS di Tokyo
-
Addis Ababa Bersolek, Ethiopia Targetkan Ibu Kota Bersih
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.