Harga Minyak Mentah Melonjak, Saham Merosot Setelah Trump Mengatakan Gencatan Senjata AS-Iran telah Berakhir

Kamis, 09 Jul 2026, 08:38 WIB

NEW YORK - Harga minyak sempat melonjak kembali di atas US$80 per barel sementara pasar saham merosot pada hari Rabu (8/7), setelah Presiden Donald Trump mengatakan gencatan senjata AS-Iran telah berakhir menyusul serangan baru di Timur Tengah.

Pertempuran terbaru dipicu oleh serangan Iran terhadpa kapal-kapal di jalur pelayaran vital Selat Hormuz, yang dilalui seperlima minyak dan gas alam cair dunia sebelum perang. 

Trump mengatakan di KTT NATO di Turki bahwa gencatan senjata telah "berakhir", meskipun ia membuka pintu untuk pembicaraan lebih lanjut.

Pasar merespons, harga minyak kembali naik setelah sedikit menurun dalam beberapa hari terakhir.

Patokan internasional minyak mentah Brent Laut Utara melonjak 8 persen menjadi US$80,12 per barel sekitar pukul 15.20 GMT (pukul 22.20 WIB), sebelum kehilangan sebagian dari kenaikan tersebut.

Sementara itu, kontrak minyak acuan AS, West Texas Intermediate, naik 4,4 persen menjadi US$73,52 per barel.

Prospek pemberlakuan kembali blokade Selat Hormuz menyebabkan penurunan tajam di layar perdagangan saham di pasar-pasar di seluruh dunia.

"Ancaman dimulainya kembali perang antara AS dan Iran, atau setidaknya blokade baru terhadap Iran, telah mendorong gelombang penjualan di pasar Eropa yang sangat terpapar pada biaya energi yang lebih tinggi," kata Chris Beauchamp, kepala analis pasar di platform perdagangan dan investasi online IG.

Paris dan Frankfurt sama-sama mengakhiri hari dengan penurunan lebih dari dua persen, sementara London turun 1,6 persen.

Di Wall Street, Dow ditutup 1,1 persen lebih rendah sementara S&P 500 kehilangan 0,3 persen. Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi naik tipis sebesar 0,2 persen.

"Risiko geopolitik meningkat" bagi pasar, kata Kathleen Brooks, direktur riset di grup perdagangan XTB. 

Fawad Razaqzada, analis pasar di Forex.com, bahkan lebih terus terang.

"Setelah paruh pertama tahun yang panjang dan penuh peristiwa yang didominasi oleh perang AS-Israel di Iran dan perubahan sikap Trump yang terus-menerus, hal terakhir yang dibutuhkan investor, dan terus terang siapa pun, menjelang liburan musim panas adalah kembalinya lingkungan geopolitik yang sama," katanya.

"Sayangnya, sepertinya kita bisa kembali ke situasi itu."

Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran minggu ini setelah serangan terhadap kapal-kapal di selat tersebut, memicu gelombang pembalasan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di Teluk.

Washington juga mencabut pengecualian sanksi sementara untuk minyak Iran.

Ket. Foto: — Sumber: CNA/AFP

Saham-saham di Asia mengalami penurunan, dengan ketegangan geopolitik yang terjadi di tengah penurunan sektor teknologi karena kekhawatiran atas jumlah investasi yang sangat besar di bidang AI.

Indeks KOSPI Seoul - yang selama ini menjadi simbol reli teknologi di Asia - anjlok lebih dari 5 persen dan telah kehilangan lebih dari 20 persen sejak mencapai rekor tertinggi bulan lalu.

Samsung kembali terpukul setelah mengalami penurunan tajam pada hari Selasa, meskipun perusahaan tersebut memperkirakan peningkatan laba operasional kuartal kedua sekitar 19 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya berkat permintaan chip AI yang kuat.

Perusahaan dan pesaingnya, SK hynix, sama-sama anjlok sekitar enam persen. 

"Investor telah dikejutkan dalam beberapa minggu terakhir oleh kekhawatiran akan pengeluaran berlebihan di dunia AI dan valuasi yang tinggi di beberapa bagian sektor teknologi, yang menyebabkan aksi ambil untung secara luas," kata Dan Coatsworth, kepala pasar di AJ Bell.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.