Di Tengah Gejolak Pasar, Kopti Cianjur Sebut Lonjakan Harga Kedelai Kini Lebih Terkendali

Minggu, 07 Jun 2026, 19:35 WIB

CIANJUR – Kenaikan harga kedelai menjadi tantangan bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku tersebut, terutama industri tahu dan tempe yang didominasi UMKM.

Lonjakan harga dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari peningkatan permintaan global, gangguan pasokan, hingga pelemahan nilai tukar yang membuat biaya impor semakin mahal.Kondisi ini berpotensi menekan margin usaha dan mendorong penyesuaian harga di tingkat konsumen.

Ket. Foto: Sejumlah pabrik tahu dan tempe di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terpaksa berhenti beroperasi karena harga kedelai yang terus merangkak naik, sehingga puluhan karyawan berhenti bekerja. — Sumber: ANTARA/ Ahmad Fikri.

Oleh karena itu, penguatan produksi kedelai dalam negeri serta diversifikasi sumber pasokan menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan impor dan menjaga stabilitas harga di pasar domestik.

Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mencatat kenaikan harga kedelai lebih terkendali dibandingkan sebelumnya dimana harga merangkak naik akibat melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika.

Ketua Kopti Cianjur Hugo Siswaya saat dihubungi di Cianjur, Minggu (7/6), mengatakan sejak nilai tukar rupiah melemah harga bahan baku kedelai terus merangkak naik, sehingga dampaknya mulai memberatkan pelaku usaha di Cianjur karena biaya operasional membengkak.

Pihaknya menilai kenaikan harga saat ini merangkak tidak seperti sebelumnya langsung melambung tinggi, namun tetap dirasakan berat bagi sekitar 300 pengusaha tahu dan tempe di Cianjur, sehingga mereka berharap ada upaya dari pemerintah untuk menstabilkan harga.

"Meski kenaikan lebih terkendali dibandingkan dengan sebelumnya namun tetap saja berdampak terhadap pelaku usaha tahu tempat di Cianjur, kami berharap pemerintah turun tangan secepatnya guna menstabilkan harga kedelai di pasaran," katanya.

Dia menjelaskan, berbagai upaya dilakukan pelaku usaha guna menekan kenaikan biaya operasional yang terus mengalami kenaikan, sehingga tidak sedikit yang memilih berhenti berproduksi karena merugi.

Ia mengungkapkan, ada sekitar 50 pengusaha tahu yang berhenti sementara karena tidak mampu lagi membeli bahan baku, sementara yang lain masih bertahan dengan mengurangi ukuran tahu atau mengurangi skala produksinya.

Sementara pemilik Pabrik Tahu di Kecamatan Cianjur Taufik Munandar, mengatakan sejak nilai tukar rupiah melemah berdampak terhadap bahan baku kedelai impor yang bergantung pada nilai tukar mata uang, dimana harga satu kilogram kedelai mencapai Rp10.500.

Kenaikan harga kedelai yang terus merangkak naik membuat ongkos produksi mengalami kenaikan sedangkan angka penjualan terus menurun, kondisi tersebut membuat pihaknya menghentikan produksi sejak dua bulan terakhir karena terus merugi.

"Biasanya setiap hari kami dapat mengolah 100 sampai 200 kilogram kedelai menjadi tahu atau tempe dengan melibatkan 14 orang pekerja, namun sejak harga kedelai terus merangkak naik, biaya operasional membengkak sedangkan pendapatan menurun," katanya.

Dia dan ratusan pengusaha tahu tempe di Cianjur, berharap pemerintah dapat segera membantu menstabilkan harga kedelai di pasaran agar para pelaku usaha dapat kembali berproduksi secara normal.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.