Rupiah Hari Ini Tersungkur usai Serangan AS ke Iran, Pasar Keuangan Bergejolak

Rabu, 08 Jul 2026, 17:27 WIB

JAKARTA – Pelemahan rupiah seiring meningkatnya ketegangan geopolitik akibat serangan Amerika Serikat terhadap Iran mencerminkan tingginya sensitivitas pasar keuangan terhadap meningkatnya risiko global.

Eskalasi konflik mendorong investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS, sehingga memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ket. Foto: Ilustrasi-Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Akbar Nugroho Gumay

Jika ketidakpastian geopolitik berlangsung lebih lama, volatilitas nilai tukar berpotensi meningkat dan dapat memengaruhi arus modal, biaya impor, serta ekspektasi inflasi domestik.

Dengan begitu, stabilitas pasar keuangan akan sangat bergantung pada respons kebijakan dan kemampuan menjaga kepercayaan investor.

Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (8/7) sore melemah 34 poin atau 0,19 persen menjadi Rp18.014 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.980 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu serangan AS terhadap Iran.

“Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran, yang bertujuan untuk memberikan apa yang digambarkan sebagai ‘biaya berat’ atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Eskalasi yang terus berlanjut memunculkan masalah pelayaran yang lebih besar di Selat Hormuz, sehingga memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah.

Serangan tersebut juga terjadi tak lama setelah AS menarik konsesi penting yang memungkinkan Iran untuk menjual minyak secara internasional, sebuah langkah yang menandai pasar minyak lebih ketat dalam beberapa pekan mendatang.

Sebelumnya, Iran dilaporkan telah menyerang kapal-kapal yang mencoba menyeberangi Selat Hormuz pekan ini, meningkatkan ketegangan dengan AS dan memicu lebih banyak ketidakpastian tentang status jalur air penting tersebut.

“Babak permusuhan terbaru berpotensi merusak kesepakatan tersebut, dengan pembicaraan perdamaian di masa depan antara kedua negara kini tampak tidak pasti,” ujar dia.

Sentimen lain berasal dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun telah naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen. Meskipun demikian, lanjutnya, pasar uang skeptis terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed di bulan Juli, tetapi untuk bulan September, kemungkinannya mendekati 60 persen, menurut CME FedWatch Tool.

“Para pedagang sekarang mengalihkan perhatian mereka ke notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di bulan Juni, yang akan dirilis nanti malam pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB, untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang pemikiran The Fed,” ungkap Ibrahim.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp18.005 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.988 per dolar AS.

  • rupiah hari ini

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.