Dari Semangka Berpaling ke Cabai, Petani Tanah Bumbu Cari Harga yang Lebih Bersahabat

Jumat, 21 Agu 2026, 22:35 WIB

BATULICIN – Di tengah ketidakpastian harga komoditas hortikultura, petani di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, mulai melirik cabai sebagai pilihan baru.

Selama ini, semangka menjadi tanaman yang mereka andalkan, tetapi pergerakan harganya yang kerap berubah membuat petani mencari komoditas dengan prospek pendapatan yang lebih stabil.

Ket. Foto: Petani buah semangka di Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, Alfiannor (40) memantau kebun cabai. — Sumber: ANTARA/Sujud Mariono.

Cabai pun mulai ditanam sebagai bagian dari strategi diversifikasi. Bagi petani, pilihan tersebut bukan sekadar berganti tanaman, melainkan upaya membaca peluang pasar dan menjaga keberlanjutan pendapatan.

Ketika semangka menghadapi tekanan harga, cabai diharapkan menjadi penyangga ekonomi rumah tangga sekaligus membuka sumber pendapatan baru.

Langkah petani Tanah Bumbu ini menggambarkan bagaimana keputusan di lahan pertanian semakin dipengaruhi oleh dinamika pasar.

Bagi mereka, bertahan bukan hanya soal meningkatkan produksi, tetapi juga berani mengubah pilihan komoditas ketika kondisi ekonomi menuntut.

Salah satu petani buah semangka Alfiannor (40), mengatakan, harga buah semangka sebelumnya mencapai Rp8.600 per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp5.500 per kilogram. Sementara itu harga cabai di pasaran lebih stabil kisaran Rp70.000/kg.

"Anjloknya harga semangka juga dipicu melimpahnya pasokan semangka dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan untuk dijual di Tanah Bumbu," kata Alfiannor, di Batulicin, Jumat (21/8).

Jumlah pasokan semangka dari luar cukup banyak sehingga harga di tingkat petani turun, Selain faktor harga, musim kemarau yang menyebabkan keterbatasan pasokan air juga menjadi pertimbangan petani untuk mengganti komoditas tanam.

Ia mengatakan, budidaya cabai di luas lahan 0,7 hektare membutuhkan modal sekitar Rp40 juta. Dan jarak tanam menggunakan metode 50×50 cm atau 60×60 cm.

Bibit yang ditanam adalah cabai rawit jenis ori, kini masuk usia 2,5 bulan atau sekitar 75 hari, dan ini fase awal panen atau petik pertama, pada umur ini sebagian besar buah sudah mulai tua dan siap dipetik.

Delapan ribu bibit cabai yang ditanam di luas lahan sekitar 0,7 hektare tersebut mampu berproduksi 1,6 ton cabai per bulan.

Dengan catatan dapat menjaga imunitas tanaman sejak dini, mengendalikan kelembapan, dan rutin memantau kondisi daun kering layu atau kena penyakit patek.

Alfian menilai, sejauh ini prospek cabai lebih menjanjikan karena harga jual di tingkat petani mencapai sekitar Rp70.000 per kilogram.

Selain itu, masa produktif tanaman cabai dapat berlangsung hingga satu tahun sehingga dinilai lebih menguntungkan dibandingkan semangka pada kondisi pasar saat ini.

Meski demikian, petani swadaya masih menghadapi tingginya biaya produksi. Salah satu kendala utama ialah kenaikan harga pupuk non subsidi yang meningkat dari sekitar Rp700.000 menjadi Rp925.000 per karung.

Alfiannor berharap Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu dapat memberikan perhatian kepada petani swadaya melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Menurutnya, dukungan tersebut akan membantu menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian dan menjaga ketahanan pangan di daerah.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Tanah Bumbu Robby Chandra menegaskan, pemerintah daerah mendukung dan mengapresiasi upaya yang dilakukan para petani dalam menjaga stabilitas kebutuhan pangan.

"Sebelumnya pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan melalui APBN dan APBD kepada kelompok tani. Hal itu untuk mendukung produksi pangan guna mencegah inflasi di kabupaten Tanah Bumbu," terangnya.

Adapun bantuan yang sudah di serahkan kepada kelompok tani berupa alsintan pompa air, traktor roda dua, traktor roda empat.

Pihaknya juga juga menjalankan program pengembangan cabai dan sayuran di seluruh kelompok tani yang ada di Tanah Bumbu dengan menghadiri mini ekspo produsen benih di Desa manunggal Kecamatan Karang Bintang.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Prestasi Agen BRI Life Bersinar di TADEA 2026, Raih Enam Penghargaan

FIBA 3x3 Beijing Challenger 2026 Manghadirkan Tim Unggulan Dunia

Desound Showroom Melawai Hadirkan Pengalaman Audio dalam Konsep Lima Lantai

Akses Patimban Dipercepat, GT Cipeundeuy Jadi Andalan Baru Distribusi Logistik

Restrukturisasi PT PP Disiapkan, Babak Baru Konsolidasi BUMN Dimulai

Dari Semangka Berpaling ke Cabai, Petani Tanah Bumbu Cari Harga yang Lebih Bersahabat

Kemnaker Perkuat Pemandu Gunung NTB, Pariwisata Bersiap Tancap Gas

Ojol dan Aplikator Masuk Radar Pemerintah, Aturan Kemitraan Bakal Diperketat

Penggunaan QRIS Meledak! Era Transaksi Cashless Makin Tak Terbendung

Kredit UMKM Dinaikkan, Bisakah Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi?

Uang Beredar Tembus Rp10.371 Triliun, Ekonomi Makin Banjir Likuiditas

Gempa Flores, Pertamina Turun Tangan Dampingi Warga Terdampak.

Miris! Kesadaran Sejarah Perjuangan Bangsa Semakin Memudar, Ada Apa?

Rupiah Ambruk 5,5 Persen Sepanjang Tahun Ini, Investor Pilih Berlindung di Balik Dolar AS

IHSG Sepanjang Tahun Ini Melemah 24,5 Persen, Pasar Domestik Jadi Korban Ketidakpastian Global

Ringankan Beban Korban Gempa NTT, Wapres Gibran Upayakan Masa Tenggang Kredit.

Peduli Korban Gempa NTT, Puluhan Siswa SD di Ponorogo Galang Donasi.

Kemacetan Pelabuhan Ketapang Diurai, KAI dan Pemkab Banyuwangi Siapkan Lahan 10 Hektare di Ketapang

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo: Polisi Sudah Tangkap Sejumlah Pelaku Karhutla.

Karhutla Muara Enim Dipadamkan dari Udara, Helikopter Water Bombing Dikerahkan.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.