Uang Beredar Tembus Rp10.371 Triliun, Ekonomi Makin Banjir Likuiditas
Jumat, 21 Agu 2026, 22:15 WIBJAKARTA â Pertumbuhan likuiditas perekonomian pada awal semester II menunjukkan ruang pergerakan ekonomi masih cukup terjaga, terutama dari sisi ketersediaan dana untuk mendukung konsumsi, investasi, dan aktivitas usaha.
Namun, peningkatan likuiditas perlu diimbangi dengan penyaluran kredit yang produktif agar tidak hanya mendorong transaksi jangka pendek, tetapi juga memperkuat kapasitas produksi dan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Bank Indonesia (BI) melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif pada Juli 2026, dengan pertumbuhan sebesar 8,3 persen secara tahunan (year on year/ yoy) sehingga mencapai sebesar Rp10.371,1 triliun.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (21/8), menyampaikan perkembangan tersebut melanjutkan pertumbuhan pada Juni 2026 sebesar 8,7 persen (yoy).
Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 10,0 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 5,6 persen (yoy).
Perkembangan M2 pada Juli 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat.
Penyaluran kredit tumbuh sebesar 13,0 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan sebesar 12,1 persen (yoy) pada Juni 2026.
Dalam hal ini, kredit yang diberikan hanya dalam bentuk pinjaman (loans), dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker's acceptances), dan tagihan repo.
Selain itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.
Sementara itu, tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh sebesar 4,6 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan sebesar 10,1 persen (yoy) pada Juni 2026.
BI juga melaporkan perkembangan uang primer (M0) adjusted yang pada Juli 2026 tumbuh 17,1 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan Juni 2026 sebesar 13,8 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp2.254,5 triliun.
Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 17,1 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,1 persen (yoy).
Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted).
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Tiongkok Lukai Pelaut Filipina dalam Bentrokan di LTS
-
PSSI Beri Bantuan Insan Sepak Bola Terdampak Bencana
-
Kemenhub Siap Antisipasi Lonjakan Penumpang Pesawat Saat Libur Nataru
-
RI Gandeng Panama, Taruna Pelayaran Kemenhub Berpeluang Magang & Studi ke Luar Negeri
-
Lulusan SD Bisa Berpenghasilan Setara UMR Rp5,7 Juta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.