Hati-hati! Penipuan Lowongan Kerja, Warga Diminta Walkot Jakbar Cek ke Sudin Nakertrans

Rabu, 08 Jul 2026, 18:20 WIB

JAKARTA - Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah meminta masyarakat untuk lebih berhati-hati dan mengonfirmasi kepada instansi berwenang untuk mencegah penipuan lowongan kerja.

Iin​​​​​​​ mengimbau masyarakat untuk mengkritisi terhadap rekrutmen pekerjaan yang dinilai mencurigakan dan disebar melalui media sosial atau secara daring, serta memastikan kebenarannya.

Ket. Foto: Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi (Sudin Nakertransgi) Jakarta Barat membuka 4.262 lowongan kerja dalam job fair (bursa kerja) gelombang pertama 2026 di Gelanggang Tanjung Duren, Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol Petamburan, Selasa (23/6). — Sumber: ANTARA/Risky Syukur

"Kalau terkait dengan lowongan pekerjaan, ya harusnya yang bersangkutan juga mengonfirmasi ke Sudin Nakertransgi (Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi), kan ada perwakilannya di kecamatan juga. Artinya, bisa ditanyakan ke pihak wilayah kecamatan maupun ke tingkat kota di Sudin Nakertransgi," kata Iin kepada wartawan di Jakarta, Rabu (8/7).

Pernyataan itu disampaikan menyusul adanya kasus dugaan rekrutmen palsu di wilayah Jakarta Barat.

Beberapa kasus rekrutmen bodong itu bahkan membuat para pelamar mengeluarkan uang dalam jumlah cukup besar demi lowongan pekerjaan yang diharapkan, namun mereka tak kunjung mendapat kejelasan.

Lebih lanjut, Iin telah menginstruksikan Sudin Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) untuk membuat imbauan resmi kepada masyarakat agar lebih berhati-hati dalam melamar pekerjaan.

"Kemudian, kami juga meminta Kasudin Nakertrans untuk memberikan sosialisasi terkait dengan job fair yang sesungguhnya memang sudah dilakukan," tutur Iin.

Iin mengatakan, bursa kerja atau job fair yang diadakan oleh Sudin Nakertransgi adalah wadah resmi yang menyediakan peluang nyata bagi para pencari kerja.

"Job fair ini harapannya bisa dipahami dan diketahui oleh seluruh masyarakat. Mungkin ada masyarakat yang belum tahu mengenai job fair tersebut. Sehingga, informasi ini perlu dikuatkan lagi ke seluruh lapisan, termasuk menginformasikannya melalui media sosial," tutur Iin.

Iin pun mendukung penindakan hukum terhadap kasus penipuan rekrutmen kerja itu.

"Saya kan baru mengetahui ini. Saya yakin kalau sudah kaitannya dengan peristiwa kriminal, ya pastinya akan ditangani oleh pihak kepolisian," pungkas Iin.

Sebelumnya, praktik dugaan penipuan berkedok rekrutmen kerja palsu kembali mencuat setelah memakan beberapa korban di wilayah Jakarta Barat.

Modus yang digunakan pelaku adalah mengundang para pelamar untuk wawancara kerja, lalu menjanjikan mereka pekerjaan dengan fasilitas menggiurkan. Namun, pelamar kerja dimintai sejumlah uang sebelum mulai bekerja.

Salah satu pelamar yang menjadi korban, yakni pria bernama Jieyes Mishael Panjaitan (18), yang merasa ditipu setelah melakukan proses pembayaran sebesar Rp2,5 juta.

Pria asal Purwakarta itu awalnya mendapatkan informasi lowongan kerja dari salah satu media sosial sekitar seminggu lalu.

"Yang punya PT-nya nge-chat, ajak interview. Saya ke sini tadi. Sempat menunggu lama, dipanggil ah ke atas," kata Jieyes.

Saat proses interview untuk lowongan operator gudang itu, Mishael diminta dana sebesar Rp2,5 juta dengan dalih sebagai biaya awal.

Biaya itu disebut akan digunakan untuk Medical Check Up (MCU) dan keperluan lainnya, seperti seragam kerja.

"Habis itu ditransfer oleh kakak ipar saya Rp 2,5 juta. Kemudian difoto dan buat surat perjanjian. Tapi enggak boleh dibaca. Seperti diburu-buru," ungkapnya.

Mishael pun menandatangani surat perjanjian tersebut setelah proses pembayaran berhasil dilakukan.

Namun, setelah pembayaran hingga tanda tangan, pemeriksaan kesehatan dan keperluan seragam yang sebelumnya dijanjikan tidak dilakukan.

Mishael diminta pulang setelah proses transaksi selesai, tanpa diberi kepastian waktu pemeriksaan kesehatan dilakukan, hingga lokasi dan waktu mulai bekerja.

Mishael yang merasa janggal lantas kembali ke lokasi wawancada di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. Ketika tiba di lokasi, Mishael diminta pulang oleh Satpam.

"Satpamnya seperti tidak perbolehkan masuk. Katanya, 'buat apa masuk?' Alasan saya mau menanyakan alamat, namun ditahan-tahan oleh Satpam," ungkapnya.

Karena merasa telah ditipu, Mishael lantas melaporkan hal itu kepada keluarganya. Ant

  • Info Loker Terbaru
  • dugaan penipuan

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.