Intervensi Trump Picu Kontroversi di Piala Dunia 2026, FIFA Rusak Reputasi Usai Izinkan Balogun Tampil Lawan Belgia
Senin, 06 Jul 2026, 17:51 WIBWASHINGTON â Perjalanan tim nasional Amerika Serikat di Piala Dunia berubah menjadi sorotan besar setelah FIFA menangguhkan hukuman larangan bermain yang dijatuhkan kepada penyerang Folarin Balogun.
Keputusan tersebut membuat Balogun tetap dapat tampil menghadapi Belgia pada laga babak 16 besar, Selasa (7/7) pagi WIB. Keputusan itu menyusul permintaan langsung Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Presiden FIFA Gianni Infantino agar kasus tersebut ditinjau ulang.
Keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya itu langsung memicu kontroversi dan menempatkan proses disipliner FIFA di bawah sorotan dunia. Belgia, yang akan menghadapi Amerika Serikat demi memperebutkan tiket ke perempat final, merespons keputusan tersebut dengan nada keras.
Alih-alih membahas strategi maupun komposisi pemain, perhatian publik justru tertuju pada hubungan antara badan sepak bola dunia dengan kekuasaan politik. Dalam hitungan menit setelah keputusan diumumkan, isu tersebut mendominasi pemberitaan olahraga dan menjadi topik utama berbagai program diskusi. Para analis, komentator, hingga mantan pemain terbelah antara menganggap FIFA telah menegakkan keadilan atau justru merusak kredibilitas regulasinya sendiri.
Seiring meningkatnya pertanyaan mengenai latar belakang keputusan tersebut, FIFA tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait keputusan maupun percakapan telepon antara Trump dan Infantino.
Balogun sebelumnya mencetak gol ketiganya di Piala Dunia saat Amerika Serikat menang 2-0 atas Bosnia dan Herzegovina pada Kamis lalu. Namun, penyerang berusia 25 tahun itu menerima kartu merah setelah tinjauan Video Assistant Referee (VAR) menyatakan ia menginjak pergelangan kaki bek Bosnia, Tarik Muharemovic.
Pelatih Amerika Serikat Mauricio Pochettino sejak awal menilai pelanggaran tersebut tidak layak diganjar kartu merah.
Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, Trump kemudian menghubungi Infantino dan meminta FIFA meninjau kembali keputusan wasit. FIFA akhirnya mengizinkan Balogun bermain, meski kartu merah yang diterimanya tidak dibatalkan.
Dalam pernyataan resminya, FIFA menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA.
"Sejalan dengan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA, pelaksanaan hukuman larangan bermain ditangguhkan selama masa percobaan satu tahun," demikian bunyi pernyataan FIFA.
FIFA menambahkan, apabila Balogun kembali melakukan pelanggaran dengan sifat dan tingkat keseriusan yang sama selama masa percobaan tersebut, hukuman larangan bermain akan diberlakukan tanpa mengurangi kemungkinan sanksi tambahan atas pelanggaran baru.
Badan yudisial FIFA juga memiliki kewenangan untuk menangguhkan pelaksanaan sanksi disiplin, baik seluruhnya maupun sebagian.
Trump menyambut keputusan itu melalui platform Truth Social. "Terima kasih kepada FIFA karena telah melakukan hal yang benar dan memperbaiki ketidakadilan yang besar," tulis Trump.
Gedung Putih juga merayakan kembalinya Balogun ke skuad melalui unggahan di platform X dengan tulisan, "USA-USA-USA."
Federasi Sepak Bola Amerika Serikat menerima keputusan tersebut. Rekan-rekan Balogun mengaku baru mengetahui kabar itu melalui media sosial saat dalam perjalanan menuju sesi latihan menjelang pertandingan di Seattle.
Pochettino menyambut positif keputusan FIFA. Dalam konferensi pers, pelatih asal Argentina itu mengatakan bahwa "99,9 persen orang di dunia sepak bola menganggap hukuman tersebut tidak adil."
Ia juga menilai terdapat sejumlah preseden yang memungkinkan hukuman ditangguhkan dan dijalankan di kemudian hari.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel mengaku sepakat bahwa Balogun tidak pantas menerima kartu merah. Namun, ia mempertanyakan alasan FIFA menangguhkan hukuman tersebut, terlebih setelah bek timnya, Jarell Quansah, baru saja diusir keluar lapangan dalam kemenangan 3-2 atas Meksiko pada babak 16 besar.
"Siapa yang membatalkan keputusan ini? Kapan? Dan atas dasar apa? Sampai sejauh mana hal seperti ini akan dilakukan? Menurut saya ini aneh. Dari mana semuanya dimulai dan di mana akhirnya?" kata Tuchel kepada wartawan di Stadion Azteca, Meksiko.
Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) mengaku "terkejut" atas keputusan FIFA yang menyatakan Balogun memenuhi syarat untuk tampil menghadapi Belgia.
RBFA menilai keputusan tersebut bertentangan langsung dengan regulasi resmi turnamen dan menyatakan sedang mempelajari seluruh opsi yang tersedia.
Sementara itu, Presiden Federasi Sepak Bola Jerman, Bernd Neuendorf, meminta FIFA segera memberikan penjelasan mengenai laporan yang menyebut keputusan tersebut didahului percakapan telepon antara Trump dan Infantino.
"Integritas kompetisi dan kredibilitas FIFA sedang dipertaruhkan," tegas Neuendorf.
Kasus Balogun bukan kali pertama FIFA menangguhkan pelaksanaan hukuman disiplin. Pada Piala Dunia kali ini, kapten Portugal Cristiano Ronaldo juga diizinkan tampil sejak laga pembuka setelah FIFA menangguhkan dua pertandingan terakhir dari hukuman larangan bermain sebanyak tiga laga yang diterimanya pada babak kualifikasi melawan Republik Irlandia tahun lalu.
Di sisi lain, gelandang Qatar Assim Madibo tetap harus menjalani hukuman larangan bermain lima pertandingan setelah kartu merah akibat tekel keras yang menyebabkan gelandang Kanada Ismael Koné mengalami cedera serius pada fase grup turnamen tahun ini.
Intervensi serupa pernah terjadi di Piala Dunia 1982, tidak ada satu pun pemain Kuwait yang menerima kartu merah. Namun, turnamen tersebut dikenang karena salah satu insiden paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia, ketika seorang pangeran Kuwait masuk ke lapangan untuk memprotes keputusan wasit.
Peristiwa itu terjadi pada 21 Juni 1982 dalam pertandingan fase grup antara Prancis dan Kuwait di Valladolid, Spanyol. Saat itu Prancis unggul 3-1 dan sempat mencetak gol keempat.
Para pemain bertahan Kuwait menghentikan permainan karena mengaku mendengar bunyi peluit dari arah tribun penonton. Mereka mengira pertandingan telah dihentikan sehingga tidak lagi berusaha menghalau serangan lawan.
Merasa gol tersebut tidak sah, Presiden Asosiasi Sepak Bola Kuwait, Pangeran Fahad Al-Ahmed Al-Jaber Al-Sabah, turun dari tribun penonton dan memasuki lapangan untuk melayangkan protes langsung kepada wasit.
Dalam insiden yang hingga kini masih menjadi salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia, sang pangeran berhasil membujuk wasit membatalkan gol Prancis.
Meski demikian, Prancis akhirnya kembali mencetak gol yang sah sebelum pertandingan berakhir. Les Bleus menutup laga dengan kemenangan 4-1, sementara aksi sang pangeran tetap dikenang sebagai salah satu bentuk intervensi paling luar biasa yang pernah terjadi di arena Piala Dunia.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Kartu Kredit Edisi Resmi FIFA World Cup 2026 Hadir untuk Penggemar Sepak Bola Indonesia
-
Aturan Tak Tertulis Berpakaian Anggota Kabinet, Ternyata Trump Tidak Menyukai Sepatu Coklat
-
Trump Sebut Kesepakatan dengan Iran Bisa Ditandatangani di Eropa Dalam Beberapa Hari ke Depan
-
AS dan Iran Tandatangani MoU, Lalu Lintas Selat Hormuz Dibuka
-
Piala Dunia 2026 Segera Dimulai, FIFA Hadapi Gelombang Kritik di Tengah Euforia Sepak Bola
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.